HomeCelotehSaatnya Jokowi Bikin ‘Ikoy-Ikoy’?

Saatnya Jokowi Bikin ‘Ikoy-Ikoy’?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan bahwa karantina wilayah (lockdown) bukanlah kebijakan yang tepat karena rakyat saja menjerit kala penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Apa perlu Jokowi buat ‘ikoy-ikoy’ agar bisa membantu rakyat?


PinterPolitik.com

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai ini – plus banyaknya warga yang terdampak, mulai muncul berbagai inisiatif yang mendorong upaya saling bantu di antara rakyat. Ya, gimana lagi? Wong pemerintah sendiri nggak bisa membantu rakyat secara terus-terusan. Kalau nggak percaya, coba aja tanya Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini (Risma).

Mungkin nih, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) perlu ikut ngebantuin masyarakat yang terdampak oleh pandemi Covid-19 juga. Soalnya, Pak Jokowi sendiri pada pengumuman perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3-4 bilang kalau rakyat pun menjerit karena kebijakan PPKM Darurat.

Makanya, Pak Jokowi bilang pemerintah nggak mau menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) meski banyak ahli kesehatan dan epidemiologi menyarankan demikian. Tapi, politkus Partai Demokrat, Rachland Nashidik, punya pendapat berbeda dengan Pak Jokowi.

Kata Pak Rachland nih, rakyat menjerit bukan karena kebijakan PPKM. Justru, rakyat banyak yang protes dan komplain karena mereka lapar. Tuh, kan, coba Pak Jokowi dari kemarin ndengerin kata-katanya Mbak Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani, Pak Rahcland mungkin nggak harus repot-repot ngulangin lagi.

Hmm, kalau udah tahu masyarakat lapar, kira-kira, apa ya yang harus dilakukan oleh Pak Jokowi? Kebijakan apa nih yang perlu dikeluarkan oleh pemerintah buat mengatasi persoalan ini?

Aku bantuin mikir deh, Pakdhe. Beberapa waktu lalu, pas aku lagi scrolling berbagai aplikasi media sosial (medsos), aku nemu satu tren unik nih. Nama trennya adalah ‘ikoy-ikoy’.

Baca juga :  Rocky Gerung Dapat Kursi Komisaris?
- Advertisement -

Cara ikut tren ini mudah kok, yakni cukup dengan mengirimkan pesan langdung (direct message/DM) ke seorang influencer dan menyatakan hal apa yang sedang kamu butuhin. Nanti, influencer tersebut akan mengirimkan hal tersebut ke kalian.

Baca Juga: Saatnya Jokowi Tentukan Close Friends?

Publik Tak Percaya Jokowi Lagi

Hmm, lumayan nih. Kalau aku lagi pengen mi instan, kira-kira, bisa nggak ya influencer-nya mengirimkan seporsi mi goreng yang udah matang? HeheKek-nya seru nih ikut tren ‘ikoy-ikoy’ ini.

Mungkin, Pak Jokowi perlu nih mengadakan ‘ikoy-ikoy’ buat rakyat. Siapa tahu Pak Presiden akhirnya bisa tahu apa yang sebenarnya rakyat kini butuhkan? Entah itu makanan, bantuan tunai, pembelajaran tatap muka, atau hal-hal lain. Kan, nanti, rakyat bisa langsung DM ke Pak Jokowi.

Tapi, kalian tahu nggak sih dari mana asalnya ‘ikoy-ikoy’ ini? Setelah aku cari-cari, ternyata, tren ini dimulai dari influencer yang bernama Arief Muhammad. Istilah “ikoy” sendiri berasal dari nama panggilan asisten Arief Muhammad.

Wah, kalau Pak Jokowi yang ngadain tren seperti ini, kira-kira, siapa ya yang bakal jadi asistennya? Apakah Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko? Atau Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno? Atau malah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan?

Kalau nanti yang dipilih Pak Jokowi adalah salah satu dari tiga nama itu, aku punya beberapa usulan buat namanya nih, Pak. Mungkin nih, namanya trennya bisa jadi Moel-Moel, Prat-Prat, atau malah 4L (Luhut Lagi Luhut Lagi). Hehe. Canda deng.

Ya, terlepas siapa yang bakal jadi asistennya nanti dan kalau beneran mau ngadain ‘ikoy-ikoy’, Pak Jokowi nanti nggak usah repot-repot nganterin ikoy-ikoyan-nya langsung. Nanti, kalau ngasih langsung malah dikritik lagi tuh karena dianggap blusukanHihi.

- Advertisement -

Tapi nih,Pak Jokowi kayak-nya juga perlu hati-hati dan memilah-milah lagi permintaan apa yang diutarakan followers (pengikut) Pak Presiden. Nanti, kalau tiba-tiba rakyat banyak yang minta nggak usah PPKM, gimana tuhHmm. (A43)

Baca juga :  Turun Takhta, Anies Binasa?

Baca Juga: Pemerintahan Jokowi Kena Prank?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Anies-AHY, Reuni Kuasa SBY-JK?

“Padahal saat itu SBY dan JK adalah menteri Megawati. Toh pertarungan keras antarkan SBY-JK sukses kalahkan Megawati yang adalah Presiden saat itu,” – Muslim...

Ridwan Kamil Penuhi Syarat Kaesang?

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) komentari studi soal bubur diaduk vs tidak diaduk. Bagaimana dengan di Istana menurut Kaesang?

Gibran Kok Berani Lawan Jokowi?

Jokowi teken Inpres yang syaratkan penggunaan mobil listrik sebagai mobil dinas . Namun, Wali Kota Solo Gibran sebut Pemkot Solo belum ke sana.

Prabowo Siap Di-ospek?

“Pertanyaannya adalah, (kampanye) boleh dilakukan di mana saja? Di mana saja sepanjang ada pemilih, itu boleh kampanye pada prinsipnya, termasuk di dalam kampus, di...

Megawati Perlu ke Pesulap Merah?

Soal usulan nomor urut partai yang tetap di setiap Pemilu, Megawati dituding konsultasi ke dukun. Lebih baik ke Pesulap Merah saja sekalian?

Kasino, Alternatif Enembe Cuci Uang?

“Bukan itu persoalannya, itu (tambang) juga tidak pernah ada. Jadi sekarang ini kan Pak Gubernur dituduh hasil korupsinya disetor ke kasino, sekarang tugasnya itu...

SBY-JK-Paloh Adalah Nakama?

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla (JK), dan Surya Paloh disebut tengah bangun koalisi. Apakah ini sebuah koalisi "nakama"?

More Stories

Kasus Lesti-Billar, Begini Tanggapan Lesti

Lesti Kejora laporkan suaminya, Rizky Billar, atas kasus KDRT setelah diduga ketahuan selingkuh. Mengapa fenomena ini begitu marak?

G30S, Kok Gatot Diam Saja?

Peristiwa 30 September telah terjadi pada 57 tahun lalu, yakni 1965. Gatot Nurmantyo biasanya muncul ke publik peringatkan bahaya PKI.

Menanti Dansa Puan-Ganjar

Ganjar Pranowo sebut Megawati beri arahan agar kepala daerah tidak dansa politik. Padahal, Puan dan Ganjar perlu berdansa politik untuk PDIP.