HomeCelotehRisma Tolak "Mandi Lumpur"?

Risma Tolak “Mandi Lumpur”?

Kecil Besar

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini akhirnya angkat bicara soal fenomena “mandi lumpur” yang ramai dilakukan saat live streaming di platform media sosial (medsos) seperti TikTok. Kenapa fenomena “mandi lumpur” bisa mendapatkan banyak perhatian?


PinterPolitik.com

“Got it out the mud. There’s nothin’ you can tell me. Yeah” – Roddy Rich, “The Box” (2019)

Pernah nggak sih kalian bela-belain antre untuk mendapatkan sesuatu yang kalian harap-harapkan? Misal nih, ketika kalian mengunjungi sebuah restoran yang tengah terkenal karena makanannya yang enak, nggak sedikit orang akan bersedia untuk mengantre dan masuk ke waiting list untuk mendapatkan meja.

Nah, pernah tuh ada satu restoran khas Jepang yang cukup terkenal. Restoran yang letaknya ada di Blok M, Jakarta Selatan (Jaksel), DKI Jakarta, ini sampai memiliki antrean yang panjang di jam-jam sibuk.

Nah, kenapa ya orang-orang sampai rela mengantre lama? Alasannya sih, restoran itu disebut memiliki ramen dan udon dengan cita rasa yang khas dan enak. Bahkan, terkadang, orang yang makan di tempat juga diberi batasan waktu agar pelanggan lain bisa mendapatkan meja.

Fenomena seperti ini sebenarnya wajar terjadi. Mungkin, sudah menjadi nature manusia untuk bersakit-sakit dahulu untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih. Sifat seperti ini juga yang sebenarnya membuat umat manusia bisa terus berkembang, kan?

Namun, ada juga yang antre tetapi bukan untuk makan ramen dan udon yang enak – dan juga bukan untuk mendapatkan uang tunai sebagai bantuan langsung ala BLT. Instead of mendapatkan kenikmatan, orang-orang ini malah antre untuk bisa mandi lumpur.

Bukan nggak mungkin, banyak dari kalian bertanya-tanya. Kenapa kok malah antre buat sesuatu yang tidak senikmat mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah?

Jadi, gini ceritanya, guys. Adalah seorang warga bernama Intan Komalasari yang memiliki sebuah akun di platform media sosial (medsos) TikTok. Akunnya ini memiliki banyak followers dan engagement yang luas.

Risma Mau Urus TikTok

Namun, ada yang unik dari konten-konten yang dibuat akun ini, yakni live streaming yang isinya orang-orang yang melakukan apa yang disebut sebagai “mandi lumpur”. Katanya sih, orang-orang ini rela melakukannya karena bisa ngehasilin jutaan rupiah dari aktivitas live tersebut.

Begitu ada duit, kesempatan bisnis pun muncul. Intan akhirnya membuka kesempatan agar orang-orang bisa jadi pemeran live streaming tersebut – dengan uang penghasilan live dibagi dua antara pemilik akun dan pemeran.

Ya, ketika makin viral nih live macam gini, para warganet pun mulai memperdebatkannya. Soalnya, ada juga orang-orang lanjut usia (lansia) yang sampai ikut jadi pemeran – menimbulkan kekhawatiran atas kemungkinan eksploitasi dan kondisi kesehatan mereka.

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini akhirnya juga ikut berkomentar dan mengatakan bahwa pihaknya akan segera menyurati pemerintah-pemerintah daerah (pemda) terkait untuk menghentikan apa yang Bu Risma sebut sebagai “mengemis online”.

Hmm, melihat komentar Bu Risma ini, kok jadi teringat dengan banyaknya fenomena politisi yang juga ikutan “mandi lumpur” – alias masuk gorong-gorong – ya? Kan, sebelas-dua belas tuh. Hehe.

Hmm, mungkin nih, dengan “mandi lumpur” di depan kamera, masyarakat bisa melihat langsung pesan yang ingin disampaikan. Kalau kata Kiku Adatto dalam bukunya yang berjudul Picture Perfect, konten visual – seperti gambar dan video – memang menjadi simbol yang mudah diterima oleh masyarakat luas.

Jadinya nih, kalau yang satu rela mandi lumpur untuk mendapatkan gift (sawer) di TikTok Live, yang satu lagi justru “mandi lumpur” untuk “saweran” berupa suara dalam pemilihan umum (Pemilu). Bukan begitu? Hehe. (A43).


Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

More Stories

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?