HomeCelotehPuan Maharani 'FOMO' Konser?

Puan Maharani ‘FOMO’ Konser?

Kecil Besar

Di tengah ramainya pagelaran berbagai konser di Indonesia, Ketua DPP PDIP Puan Maharani pergi ke Bandung, Jawa Barat (Jabar). Di sana, Puan turut menonton sebuah konser dengan musisi bernama besar.


PinterPolitik.com

“Kalo nonton konser wajib foto bareng! 😁😁” – @puanmaharaniri, Ketua DPP PDIP

Apa kabar dompet kalian, guys? Makin ke sini, kayak-nya makin banyak tuh konser-konser keren yang digelar di Indonesia – mulai dari Dewa 19 hingga BLACKPINK. Belum lagi nih, bakal ada juga bintang-bintang luar negeri yang akan datang ke sini – seperti The 1975, The Kid LAROI, dan dhruv.

Hmm, hati-hati, guys. Soalnya nih, kabar dompet tentu adalah isu yang serius. Ya, mungkin, ini bukan isu serius individu-individu semacam Rafael Alun Trisambodo. Hehe.

But, seriously though, berbagai macam konser yang beken ini kadang nge-buat kita ngerasa FOMO – alias fear of missing out (perasaan takut akan ketertinggalan) – nggak sih? Misalnya nih, ketika santai-santai di rumah sambil scrolling media sosial (medsos), terus nge-lihat stories teman-teman yang lagi nonton konser, apakah kalian nge-rasa pengen juga? 

Hmm, bisa dibilang, perasaan FOMO macam ini bisa nge-rugi-in kita sendiri. Soalnya nih, dengan FOMO, datanglah keinginan-keinginan berlebih. Nggak hanya nonton konser, FOMO bisa juga muncul karena persoalan status sosial dan perasaan kompetitif.

Mungkin, inilah yang juga dirasakan oleh Ketua DPP PDIP Puan Maharani. Soalnya nih, setelah sejumlah politisi – yang kebetulan juga dianggap sebagai calon-calon presiden (capres) potensial – ramai-ramai nonton konser Dewa 19, Mbak Puan akhirnya ikutan nonton konser musisi itu di Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada 10 Maret 2023.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Waduh, kasihan dong Mbak Puan. Untung aja Dewa 19 ngadain konser lagi – ya meskipun tidak sebesar dan seramai konser sebelumnya yang digelar di Jakarta International Stadium (JIS) pada Februari 2023 lalu.

But, sebenarnya, urusan FOMO-nya Mbak Puan harusnya nggak cuma soal konser Dewa 19 nih, melainkan juga persoalan elektabilitas. Weleh-weleh. Hehe.

Puan Siap Perang

Kabarnya sih, ada capres lain dari partainya, PDIP. Apalagi nih, dengar-dengar, sosok satu ini disebut direstui untuk dipasangkan dengan capres potensial lainnya, yakni Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto. Hmm, siapa lagi kalau bukan Ganjar Pranowo?

Nah, biasanya nih, biar menghilang rasa FOMO konser, orang-orang pun akhirnya mencoba membeli tiket – misal dengan menyiapkan segalanya untuk berperang (baca: ticket war). Ya, biar bisa mengatasi FOMO-nya, Mbak Puan kayak-nya perlu bisa mengejar juga nih.

Ada beberapa cara yang sebenarnya bisa dilakukan Mbak Puan kok. Gideon Doron dan Uri On dalam tulisan mereka Strategy Choices in Electoral Competition, misalnya, menyebutkan kalau hal ini bisa dilakukan dengan membangun citra yang unik atas dirinya.

Layaknya perusahaan-perusahaan yang bersaing memperebutkan calon pembeli, Mbak Puan juga harus menonjolkan kelebihan yang dimilikinya – terutama hal-hal yang tidak dimiliki kompetitor lain tuh. Contohnya adalah dengan memfokuskan diri pada aspek-aspek masyarakat yang krusial dari sosok Mbak Puan – misal nih isu-isu gender.

Namun, entahlah. Persoalan FOMO kan juga tergantung dari pribadi masing-masing orang ya. Bisa aja ada orang nggak merasa FOMO ketika melihat teman-temannya nonton BLACKPINK. Bisa juga ada yang justru ngerasa FOMO banget.

Nah, semua inipun kembali ke Mbak Puan sendiri sih. Mbak Puan ngerasa FOMO nggak tuh kalau nge-lihat hasil-hasil survei menuju 2024? Masa iya nggak ngerasa FOMO? Hehe. (A43)

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

More Stories

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?