HomeCelotehPSI Tidak Dianggap PDIP?

PSI Tidak Dianggap PDIP?

“Karena dari segi kontribusi terhadap threshold nggak ada. Kemudian juga, PDI Perjuangan juga bisa mengusung sendiri,” – Andreas Hugo Pareira, Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)


PinterPolitik.com

Seperti apa sih rasanya menjadi orang yang tidak dianggap? Pasti yang muncul adalah rasa sedih dan kesal. Mungkin hal yang sama juga terjadi kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Seperti kabar yang beredar belakangan, politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Andreas Hugo Pareira, menilai deklarasi PSI mengusung Ganjar Pranowo tidak diperhitungkan oleh PDIP.

Alasannya adalah dukungan PSI tersebut tidak akan berpengaruh pada saat pengambilan keputusan siapa bakal calon presiden (capres) yang akan diajukan PDIP pada Pilpres 2024 mendatang.

Pasalnya, jika dilihat dari segi kontribusi terhadap threshold atau syarat suara partai mencalonkan presiden, PSI jelas tidak punya. Apalagi, saat ini di atas kertas, PDIP bisa mencalonkan presiden tanpa bantuan partai lain.

Hmm, fenomena tidak dianggapnya PSI karena persoalan threshold memperlihatkan kepada kita bahwa nalar partai politik (parpol) sejatinya begitu transaksional. Ada persoalan untung dan rugi yang menjadi ukuran hubungan politik.

image 59
PSI Khianati PDIP?

Anyway, hal ini seolah-olah memperlihatkan wajah lain dari politik yang cukup  identik dengan dunia bisnis karena, dalam urusan bisnis, transaksi adalah hal sangat biasa.

- Advertisement -

Tawar-menawar harga merupakan bagian dari kehidupan bisnis, terlihat dari aktivitas antar usahawan atau antara penjual dan pembeli. Dalam dunia politik, tawar-menawar politik akhirnya menjadi hal biasa.

Biasanya fenomena ini disebut dengan political bargain, yakni sebuah produk hasil dari sebuah negosiasi politik atau proses politik antara parpol.

Di atas panggung politik, istilah bargaining sering kali diucapkan. Namun, bargaining terkesan negatif karena memiliki pengertian yang mendekati keinginan untuk menguasai.

Baca juga :  Puan Jadi Panglima Perang Ganjar?

Namun demikian, bargaining politik adalah sebuah bentuk kerja sama yang mau tidak mau akan dilakukan oleh para pelaku di bidang politik. Persoalannya adalah bentuk bargain seperti apa yang dianggap berharga bagi parpol.

Bargaining politik tidak cukup pada konsep yang sifatnya intangible seperti gagasan maupun dukungan politik, melainkan juga perlu bargain yang bersifat konkret, seperti massa maupun kursi di parlamen.

Jon Elster dalam bukunya Rational Choice menjelaskan bahwa pemilih akan memilih sesuatu yang membawa keuntungan lebih bagi dirinya.

Preferensi pilihan biasanya digambarkan dengan angka yang disebut dengan utility (faedah) atau payoff (bayaran). Keduanya adalah pilihan yang sifatnya konkret dan berdampak langsung. 

Dalam konteks PSI yang tidak dianggap PDIP, muncul kesan kalau bargain yang ditawarkan PSI tidak digubris karena dia hanya bersifat dukungan. Apalagi, dukungan ini tentu bertabrakan dengan tujuan besar PDIP. 

- Advertisement -

Sedikit memberikan konteks, PDIP tentu menolak karena punya capres yang sudah dipersiapkan sendiri, yakni Puan Maharani. Dengan munculnya PSI dengan mengusung Ganjar, alih-alih akan digubris, PSI tentu akan ditolak mentah-mentah. 

Tentu peristiwa semacam ini menjadi pelajaran bagi PSI, agar ke depannya bisa menjadi partai progresif yang bukan hanya diakui eksistensinya, tapi juga mampu mengubah wajah kepartaian politik di Indonesia.

By the way, sedih juga ya melihat PSI yang sering kali tidak dianggap oleh partai lain. Jadi teringat dengan lagu Pinkan Mambo yang berjudul “Kekasih yang Tak Dianggap” dengan penggalan liriknya yang berbunyi:

Sebagai kekasih yang tak dianggap

Aku hanya bisa mencoba mengalah

Menahan setiap amarah

Sebagai kekasih yang tak dianggap

Aku hanya bisa mencoba bertahan

Baca juga :  Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

Kuyakin kau ‘kan berubah

Well, PSI mungkin hanya bisa bersabar dengan harapan parpol lain bisa menanggapinya. Sedih sih, masa Partai Nasdem deklarasi Anies Baswedan, PDIP tanggapi? Eh, giliran PSI deklarasi kader PDIP malah tidak ditanggapi. Uppsss, bukan komporin loh ya. Hehehe. (I76)


Waspadai Operasi Intelijen Nasdem: Akan Masuk 3 Besar di 2024?
spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Membaca Pengaruh Jokowi di 2024

Lontaran ciri-ciri pemimpin yang pikirkan rakyat seperti kerutan dan rambut putih dari Jokowi jadi perbincangan. Inikah cara Jokowi relevan di 2024?

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Saatnya Jokowi Tinggalkan Relawan “Toxic”?

“Kita gemes, Pak, ingin melawan mereka. Kalau mau tempur lapangan, kita lebih banyak” –  Benny Rhamdani, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)  PinterPolitik.com Si vis...

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

PDIP Takut Jokowi “Dijilat”?

“PDI Perjuangan mengimbau kepada ring satu Presiden Jokowi agar tidak bersikap asal bapak senang (ABS) dan benar-benar berjuang keras bahwa kepemimpinan Pak Jokowi yang kaya...

More Stories

Ada “Udang” di Balik Relawan Jokowi?

“Saya di dalam sana. Jadi saya tahu perilakunya satu-satu. Kalau Anda bilang ada dua faksi sih tidak, berfaksi-faksi. Ada kelompok yang tiga periode, ada kelompok...

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...