HomeCelotehPKB: ACT Munculkan Wanprestasi Berantai?

PKB: ACT Munculkan Wanprestasi Berantai?

Kecil Besar

ACT diterpa isu yang begitu deras hingga menyerempet ke persoalan partai politik dan terorisme. Kasus ACT mirip dengan ungkapan Fiersa Besari bahwa ketika pohon semakin tinggi, maka semakin kencang pula anginnya. Tapi kalau dilanjutkan dengan nada optimis: “Biar saja mereka sibuk jadi angin, kau cuma perlu fokus menjadi pohon yang tinggi”. Hehehe.


PinterPolitik.com

Aksi Cepat Tanggap yang akrab dengan akronim ACT menjadi sorotan publik beberapa pekan terakhir. Hal ini tidak lepas dari munculnya berbagai temuan mengejutkan terkait dugaan penyelewengan dana yang dikumpulkan lembaga, mulai dari daftar gaji petinggi ACT dengan besaran fantastis hingga dugaan aliran dana ke kantong-kantong negara yang berisiko mendukung gerakan terorisme.

Polemik ACT seolah membenarkan ungkapan: “Semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang terpaan angin”. Pasalnya, lembaga yang berdiri sejak tahun 2005 ini terus berkembang hingga bisa bertransformasi menjadi lembaga kemanusiaan global dengan jangkauan lebih luas.

Jika melihat data keuangan Yayasan Aksi Cepat Tanggap periode 2010-2020 yang dirilis situs act.id, memang terjadi peningkatan dana yang dikelola. Dari hanya Rp25 miliar pada 2010 hingga menjadi lebih dari Rp500 miliar pada 2020.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melakukan audit untuk merespon polemik ACT ini. Dalam temuannya, ternyata tidak hanya secara lembaga, bahkan terdapat beberapa individu yang diduga melakukan transaksi mencurigakan ke beberapa negara.

Berbagai pertanyaan muncul. Apa yang terjadi pada ACT? Mungkinkah benar ada penyelewengan dana di sana? Atau polemik ini hanya konflik internal terkait kudeta kekuasaan yang diamplifikasi? Bahkan lebih politis, apakah isu berkaitan dengan upaya mendiskreditkan partai politik tertentu?

image 36
ACT

Terlepas dari semua pertanyaan yang memerlukan pendalaman kajian seperti di atas, polemik ACT ini sudah terlanjur mencederai hati sebagian besar masyarakat Indonesia yang dikenal dermawan. Apalagi Indonesia dikenal sebagai sebuah bangsa yang mempunyai filosofi tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi

Bagaikan bola salju, ketidakpercayaan publik bisa saja akan membesar dan juga menyasar terhadap lembaga serupa lainnya. Puncaknya, isu seperti ini akan menggiring masyarakat tidak lagi percaya kepada lembaga pengumpul donasi dan kemanusiaan.

Anggota Komisi VIII dari Fraksi PKB, MF Nurhuda, mengatakan bahwa selama ini masyarakat telah mempercayakan dananya untuk dikelola dan disalurkan bagi orang yang miskin dan membutuhkan. Dengan adanya penyelewengan dana, maka sudah pasti akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap ACT dan sejumlah lembaga filantropi lainnya di Indonesia.

Jika dikonversi menjadi istilah hukum, maka apa yang dilakukan oleh ACT dapat dikategorikan sebagai bentuk wanprestasi. Istilah ini secara sederhana ditafsirkan sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban yang tidak terpenuhi. Bisa juga sih dianggap sebagai pengkhianatan publik.

Rachman S. dalam tulisannya Betrayal: a psychological analysis, mengungkapkan bahwa pengkhianatan dalam psikologi digambarkan sebagai perasaan yang dirugikan oleh tindakan atau kelalaian yang disengaja dari orang yang dipercaya.

Efek merasa dikhianati ini juga yang menjadi pemicu munculnya tagar seperti #JanganPercayaACT yang juga sempat menjadi trending di Twitter dalam beberapa hari terakhir. Meski ada counter tagar #KamiPercayaACT yang muncul, tapi hal itu belum mampu mengimbangi tagar ketidakpercayaan terhadap ACT.

Selain tagar, di sosial media juga muncul ide-ide dari warganet yang kadang “kreatifnya” agak berlebihan. Mereka misalnya mengubah kepanjangan dari ACT dengan berbagai versi, mulai dari Aksi Cepat Tilep, Aksi Cepat Tajir, Aksi Curi Tjuan.

Hmm, tapi jika dipikir-pikir kembali, masa iya sih untuk membunuh tikus kita harus juga membakar lumbung padi? Bagaimana dengan kementerian yang banyak juga kasus korupsinya? Hayoo. Upss. (I76)


Rusia
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Puji Jokowi Untuk si Pembenci

"Ya saya kira sangat bagus. Karena beliau seorang tokoh politik yang berpengalaman. Leadership dan rekam jejak beliau, saya kira tidak diragukan lagi. Sangat bagus...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...