HomeCelotehPemerintah Seperti Michael Owen

Pemerintah Seperti Michael Owen

Kecil Besar

“Penyebab banjir Kalimantan Selatan (karena) anomali cuaca dan bukan soal luas hutan di DAS Barito wilayah Kalimantan Selatan”. – Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan


PinterPolitik.com

Banjir. Mungkin jadi kata yang membuat orang ingat bahwa anugerah yang terlalu banyak bisa berubah menjadi bencana. Atau dalam bahasa yang lain: “Too much of a good thing is bad”. Terlalu banyak akan suatu hal baik adalah buruk.

Terlalu banyak makan bisa buruk untuk kesehatan. Terlalu banyak nonton TV bisa lupa segalanya. Terlalu banyak api bisa jadi kebakaran. Nah, terlalu banyak air, jadilah banjir.

Baca Juga: Menag Yaqut Tidak Paham Populisme Islam?

Mungkin seperti itulah logika yang ingin digunakan oleh pemerintah dalam menjustifikasi banjir yang tengah terjadi di wilayah Kalimantan Selatan beberapa hari terakhir. Hal ini awalnya disampaikan langsung oleh Presiden Jokowi ketika mengomentari penyebab banjir tersebut. Hujan yang lebah menjadi kambing hitamnya.

Bahasa yang sama kemudian digunakan lagi oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar yang menyebutkan bahwa anomali cuaca menjadi sebab utamanya.

Pernyataan Bu Siti ini juga sekaligus membantah tuduhan yang diungkapkan oleh para aktivis lingkungan yang sebelumnya menyebutkan bahwa penyebab utama banjir di Kalsel adalah karena persoalan hilangnya hutan di daerah aliran sungai atau DAS akibat aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan pertambangan.

Hmm, sebenarnya, kalau dipikir-pikir, justru alasan kerusakan hutanlah yang paling masuk akal untuk menjelaskan fenomena bencana yang terjadi di Kalsel. Soalnya, anomali cuaca mah sudah biasa terjadi juga. Dan selama lingkungan atau alamnya itu bisa menahan curah air – katakanlah dengan resapan yang baik – maka banjir besar tentu tidak akan terjadi.

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon

Soalnya, kalau menyalahkan hujan kesannya pemerintah mencari pembenaran dari situasi yang ada. Apalagi, belakangan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy juga mengakui bahwa faktor kerusakan lingkungan menjadi salah satu penyebab bencana yang terjadi.

Artinya, dengan bilang bahwa banjir adalah karena kebanyakan hujan, itu sama aja kayak bilang kebakaran itu karena kebanyakan api, atau yang lainnya. Padahal, dari sisi manusia, selalu pasti ada keteledoran, kealpaan dan kesalahan yang bisa dijadikan bahan refleksi.

Jadi teringat Michael Owen nih kalau ngomong hal-hal yang udah jelas. Buat yang belum tahu, doi adalah mantan pemain sepakbola yang kini jadi pandit atau komentator. Owen dikenal sering membuat pernyataan yang semua orang sudah tahu. Misalnya, kalau bola lewat garis gawang, maka terjadi gol. Atau pemain sepakbola menggunakan kaki untuk menendang bola.

Berasa kayak pemerintah nih. Mencari alasan dengan apa yang sudah jelas diketahui. Uppps. (S13)


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.