HomeCelotehPDIP Mau Kembalikan Demokrasi Terpimpin?

PDIP Mau Kembalikan Demokrasi Terpimpin?

Kecil Besar

“Dengan demokrasi terpimpin, maka upaya untuk melakukan penyuapan itu tidak lagi dilakukan. Kita melakukan pendekatan secara lebih ilmiah dan bertanggung jawab.” – Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP PDIP


PinterPolitik.com

Seolah seirama, beberapa politisi PDIP mengungkit konsep demokrasi terpimpin – diawali dari Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat yang menyebut kalau demokrasi terpimpin akan menjadi solusi dari persoalan politik uang.

Di waktu yang berbeda, politikus PDIP lainnya, Adian Napitupulu, menepis anggapan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Lodewijk F. Paulus yang menyebut internal PDIP bentrok karena elektabilitas Ketua DPR Puan Maharani kalah dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Adian mengatakan bahwa PDIP selalu kompak, terpimpin, menunggu arahan Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri, serta menyindir agar Golkar belajar dari PDIP.

Terakhir, ungkapan demokrasi terpimpin terucap dari politikus senior PDIP, Hendrawan Supratikno, saat merespons komentar pengamat politik, Rocky Gerung, yang menurutnya terlalu utopis saat menilai PDIP.

Hendrawan mengklaim PDIP bukanlah partai yang mudah terperdaya hasil-hasil survei. Hal ini tentu karena semua  kader PDIP terlatih kultur demokrasi terpimpin.

Entah apa maksud dari istilah demokrasi terpimpin para elite PDIP tersebut, satu hal yang dapat ditangkap yakni ada pola untuk membangun narasi kembali konsep demokrasi terpimpin.

image 66
Megawati ‘Kantongi’ Capres-cawapres PDIP?

Anyway, jika kita mengintip kembali sejarah Indonesia. Konsep demokrasi terpimpin pernah diterapkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Setelah itu, mulailah terlihat meningkatnya sistem otokrasi yang terpusat pada presiden.

Meski demikian, Soekarno percaya kalau demokrasi terpimpin adalah solusi bagi demokrasi parlementer yang saat itu dianggap tidak mampu menjalankan pemerintahan secara stabil.

Hal ini karena seringnya pergantian kabinet di era demokrasi parlementer yang menyebabkan instabilitas ekonomi dan politik dalam negeri.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Demokrasi liberal tamat pada tahun 1959 setelah dewan konstituante tarik ulur perihal penetapan dasar negara baru pengganti Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950. Kemudian, terbentuklah sistem baru dengan presiden sebagai pusat kepemimpinan yang disebut demokrasi terpimpin.

Melalui sistem ini, Soekarno menaruh harapan besar akan terwujudnya pemerintah yang terarah, agar pembangunan nasional dapat terlaksana.

Namun, alih-alih membuat pemerintahan stabil, demokrasi terpimpin malah menjadi fase sulit dalam sejarah politik Indonesia. Hal ini disebabkan karena kekuasaan yang sangat terpusat pada Soekarno.

Persoalan demokrasi terpimpin ini juga yang menjadi pemicu retaknya hubungan antara Soekarno dengan Wakil Presiden (Wapres) Mohammad Hatta. Menurut Hatta, demokrasi terpimpin menunjukkan pertentangan idealisme dan realitas

Puncak perselisihan ini ketika Hatta mengundurkan diri dari jabatan wapres pada 1 Desember 1956 – menjadikan “dwitunggal” yang menjadi pelopor kemerdekaan itu berubah menjadi “dwitanggal”.

Hatta dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, menyebut demokrasi terpimpin hanya akan membuat demokrasi di Indonesia menuju pemerintahan otoriter.

Menurut Hatta, demokrasi terpimpin kian nyeleweng dan hanya akan menuju jurang kemerosotan. Terbukti dengan munculnya persoalan ekonomi dalam negeri yang tidak stabil.

Well, cara berpikir Hatta tentang adanya jebakan otoriter jika sistem itu dilakukan secara terpimpin, dapat juga kita temukan loh dalam kehidupan sehari-hari.

Coba kita berandai-andai jika dalam sebuah organisasi atau sebuah sistem manajemen perusahaan memberikan hak kepada seseorang untuk melakukan apapun.

Bahkan, dalam sistem itu tidak disyaratkan untuk meminta pendapat dari personil yang lainnya – tentu akan membuat kekuasaan akan terpusat dan berpotensi untuk diselewengkan – mengingatkan kita akan pernyataan fenomenal dari Lord Acton yang berbunyi, “power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Hmm, entah apa yang menjadi agenda besar para politisi PDIP mengulang-ulang istilah demokrasi terpimpin? Namun, dengan pola yang terlihat, seolah-olah ada narasi besar untuk menghidupkan kembali konsep warisan Soekarno itu. Who knows? Hmmm. (I76)


Jika Megawati Tak Jadi Presiden
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...