HomeCelotehPDIP dan ‘Drama’ Pencopotan Rieke

PDIP dan ‘Drama’ Pencopotan Rieke

“I guess drama makes for the best content” – Big Sean, penyanyi rap asal Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Hey cuy, adakah yang pernah nonton Bajaj Bajuri? Seri komedi keren itu pasti sudah pernah kalian dengar lah ya.

Nah, di dalam seri ini, sebenarnya ada pesan bahwa perempuan kerap menjadi faktor X dalam kehidupan. Hal itu tercermin lewat karakter Oneng yang berhasil diperankan oleh sosok Rieke Diah Pitaloka.

Meski Oneng terkesan polos, tetapi dia justru yang kerap jadi juru selamat bagi sang suami yang saban hari di-marahinsama si Emak. Walhasil, saking suksesnya memerankan sinetron ini, Mbak Rieke pun melekat sekali dengan nama si Oneng.

Bahkan nih, sampai sekarang saat doi sudah duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Anehnya, tidak cuma nama lho, pun menurut mimin sampai karakternya juga kebawa deh.

Lihat saja dalam adegan saat Mbak Rieke benar-benar tampak polos manakala posisinya sebagai Ketua Badan Legislasi (Baleg) diganti oleh partainya, PDI Perjuangan (PDIP).

Gimana nggak polos, cuy? Mbak Rieke yang sebelumnya tampil sangat maksimal dalam debat Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) tiba-tiba digeser begitu saja oleh PDIP. “Rieke sudah berjuang, namun saatnya ganti orang,” sebagaimana yang diucapkan Ketua Fraksi PDIP Utut Adianto.

Mbak Rieke pun hanya diam tanpa kata, bahkan terkesan tidak memberikan pembelaan diri. Wah, gokil gak tuh menurut kalian?

- Advertisement -

Mungkin diamnya Mbak Rieke itu bisa dilihat sebagai ketaatan kader pada partai ya, cuy, tetapi juga bisa dibaca sebagai penjelmaan dari karakter polosnya Oneng juga sih. Secara kita pahamlah, bahwa polos dan taat sangat beda tipis dalam politik. Upsss.

Selain itu, kalau setiap kemunculan Oneng dalam film membuat situasi semakin drama banget, pun demikian halnya dengan Mbak Rieke dalam panggung politik. Gimana nggak drama nih, cuy?

Mbak Rieke ini dicopot di tengah situasi penting nan panas terkait RUU HIP. Itu pastinya membuat banyak orang bertanya: kok bisa?

Bahkan nih, nggak cuma mimin kok yang heran. Bahkan, Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor juga keheranan. Usut punya usut, menurut Firman, Rieke diganti sebab kondisi PDIP sedang turun citra sejak publik melihat fakta bahwa Rieke-lah yang memimpin rapat RUU HIP.

Tapi, menurut mimin lebih dari sekadar itu, saat Rieke dicopot, praksis drama politik semakin pelik toh. Ujungnya, daripada fokus pada keberlanjutan soal bahasan RUU, publik akan dibuat lebih banyak menganalisis tentang “di balik pencopotan Rieke”. Haduh, nambahin kerjaan aja buat nge-gibah.

Mimin nggak habis pikir aja sih kenapa kok semua itu terjadi saat begini. Kok nggak mau pada menahan diri – misal tunggu sampai kelar bahasan yang menimbulkan polemik? Biar kelar dan mereda dulu, supaya tidak muncul drama, drama, dan drama.

Mimin khawatir aja, kalau ternyata dengan drama Mbak Rieke ini, justru rating PDIP, bahkan DPR, semakin turun di mata publik – mirip sinetron Bajaj Bajuri yang terpaksa gulung tikar di episode ke-26 sebab rating-nya turun drastis. Uppss. (F46)

- Advertisement -

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Demokrat-PDIP Makin Panas?
spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Anies-AHY, Reuni Kuasa SBY-JK?

“Padahal saat itu SBY dan JK adalah menteri Megawati. Toh pertarungan keras antarkan SBY-JK sukses kalahkan Megawati yang adalah Presiden saat itu,” – Muslim...

Ojol Sejahtera, Janji Tinggal Janji?

“Besar harapan kami, aksi yang kami lakukan dapat diakomodir menjadi diskusi yang baik dan konstruktif, dan dapat menghasilkan kebijakan yang bermanfaat bagi rakyat Indonesia yang berprofesi...

Ridwan Kamil Penuhi Syarat Kaesang?

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) komentari studi soal bubur diaduk vs tidak diaduk. Bagaimana dengan di Istana menurut Kaesang?

Gibran Kok Berani Lawan Jokowi?

Jokowi teken Inpres yang syaratkan penggunaan mobil listrik sebagai mobil dinas . Namun, Wali Kota Solo Gibran sebut Pemkot Solo belum ke sana.

Megawati Perlu ke Pesulap Merah?

Soal usulan nomor urut partai yang tetap di setiap Pemilu, Megawati dituding konsultasi ke dukun. Lebih baik ke Pesulap Merah saja sekalian?

Kasino, Alternatif Enembe Cuci Uang?

“Bukan itu persoalannya, itu (tambang) juga tidak pernah ada. Jadi sekarang ini kan Pak Gubernur dituduh hasil korupsinya disetor ke kasino, sekarang tugasnya itu...

Prabowo Siap Di-ospek?

“Pertanyaannya adalah, (kampanye) boleh dilakukan di mana saja? Di mana saja sepanjang ada pemilih, itu boleh kampanye pada prinsipnya, termasuk di dalam kampus, di...

More Stories

Megawati Sukses “Kontrol” Jokowi?

“Extraordinary claims require extraordinary evidence” – Carl Edward Sagan, astronom asal Amerika Serikat (AS) PinterPolitik.com Gengs, mimin mau berlagak bijak sebentar boleh, ya? Hehe. Kali ini, mimin mau berbagi pencerahan tentang...

Arief Poyuono ‘Tantang’ Erick Thohir?

“Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata” – Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN PinterPolitik.com Gengs, kalian...

Sri Mulyani ‘Tiru’ Soekarno?

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” – Soekarno, Proklamator Indonesia PinterPolitik.com Tahukah kalian, apa yang menyebabkan Indonesia selalu...