HomeCelotehNasdem Ingin Hapus Partai Kecil?

Nasdem Ingin Hapus Partai Kecil?

Kecil Besar

“PT 7 persen itu tidak kebesaran, karena semangat demokrasinya dalam konteks mematangkan jalan demokrasi maka harus gaungkan rasionalisasi politik kepartaian”. – Willy Aditya, Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR RI


PinterPolitik.com

Isu parliamentary threshold alias PT emang jadi trend kontroversial terbaru yang saat ini tengah digeluti oleh DPR. Lembaga yang satu ini suka banget deh bikin trend membahas hal-hal yang entah mengapa harus dibahas di keadaan seperti saat ini ketika Covid-19 lagi marak-maraknya.

Sebelumnya ada isu Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja yang dianggap merugikan kepentingan buruh. Lalu, sebelumnya udah ada revisi UU Minerba yang disahkan. Belum lagi wacana RKUHP yang digulirkan lagi yang bikin mahasiswa galau buat demo gara-gara lagi Covid-19.

Makanya, pas isu PT ini dilemparkan ke publik, banyak yang mulai bertanya-tanya, sebenarnya ada agenda tersembunyi apa sih di DPR? Bukannya gimana-gimana ya, kalau ngelihat profil partai yang mengusulkan agar PT dinaikkan – beberapa hampir sampai 2 kali lipat – agaknya publik bisa nebak-nebak agenda yang mungkin dibawa di belakangnya.

Contohnya adalah Partai Nasdem. Partai yang identik dengan warna biru ini terhitung sebagai pemain baru loh dalam politik Indonesia. Baru berdiri pada tahun 2011, Nasdem jadi contoh si anak baru yang langsung sukses.

Pada Pemilu 2014 langsung moncer dengan 6,72 persen suara dan ada di urutan 8. Suaranya naik signifikan di Pemilu 2019 dengan 9,05 persen suara dan ada di urutan ke-5. Beh, gila nggak tuh pencapaiannya.

Makanya, soal PT ini, Nasdem ngusulin agar dinaikkan jadi 7 persen aja dari yang saat ini ada di angka 4 persen. Nyaris 2 kali lipat kenaikannya. Emang PD banget nih Nasdem. Percaya diri loh maksudnya, bukan Partai Demokrat. Walaupun sama-sama biru. Hehehe.

Tapi agak gimana gitu ya usulan itu. Soalnya, itu artinya akan mengeliminasi lebih banyak partai lagi. Saat ini di DPR kan ada 9 partai. Kalau PT-nya jadi 7 persen, maka PAN dan PPP bakal tereliminasi andaikan suara di Pemilu 2024 mendatang nggak berubah banyak dari tahun 2019 lalu.

Belum lagi partai-partai kecil kayak PSI, Perindo, PKPI, Partai Berkarya, Partai Bulan Bintang, dan yang lainnya, yang tentu saja akan makin terpuruk jika nggak banyak melakukan terobosan.

Nah, ini yang menyebabkan banyak pihak mulai menduga bahwa Nasdem emang pengen menyingkirkan partai-partai kecil ini. Hmm, percaya diri banget nih partai yang satu ini.

Tapi, yang terpenting, jangan sampai Nasdem jadi over confident alias kelebihan percaya diri. Lama-lama bisa buruk loh buat kesehatan partai. Hehehe.

Apalagi, pas Pemilu kemarin, Nasdem kan dituduh berbagai pihak dengan hal-hal yang negatif, mulai dari pembajakan kader, dan lain sebagainya. Duh, segitu amat tuduhannya ya.

Yang jelas, PT 7 persen itu membatasi demokrasi banget. Itu menutup akses bagi ruang-ruang demokrasi dari kelompok yang mungkin minoritas, tetapi perlu mendapatkan wadah mereka. Kan lama-lama demokrasi kita bisa jadi kartel partai loh kalau PT-nya ditinggikan terus. Uppps. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Jokowi Ditagih Buruh

"Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh." ~Munir PinterPolitik.com Tiap hari bersimbah peluh dan menahan keluh, buruh hanyalah golongan pesuruh dengan upah...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.