Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Menyingkap Penerus Jokowi di Ramalan Jayabaya

Menyingkap Penerus Jokowi di Ramalan Jayabaya


A43 - Sunday, December 12, 2021 12:00
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo (kanan). (Foto: Istimewa)

0 min read

Politikus Partai Gerindra Arief Poyuono mengatakan bahwa pengganti Presiden Joko Widodo (Jokowi) di masa mendatang adalah mereka yang memiliki suku kata “Noto Negoro” dalam nama mereka – bila mengacu ke ramalan dalam Serat Jangka Jayabaya yang diungkapkan Arief. Siapakah yang pantas menggantikan Jokowi?


PinterPolitik.com 

Di sebuah daratan – beserta lautan di sekelilingnya – yang dikenal sebagai Nusantara di alternate universe Bumi-45, berdirilah sebuah kerajaan megah yang kaya akan sumber daya alam. Tidak hanya megah, rakyatnya pun dikenal sangat aktif bila mengekspresikan pendapat mereka – khususnya di dunia maya.

Namun, negara ini dilanda sebuah persaingan di antara para elitenya. Para house elite ini saling memperebutkan takhta raja yang berkuasa di daratan dan lautan Nusantara – setidaknya lumayan berkuasa di luar para oligark.

Terlepas Raja Jaka Widada yang masih berkuasa, mulai ada ramalan-ramalan yang tersebar soal siapa yang bakal meneruskan kekuasaan Jaka. Salah satu ramalan datang dari Mpu Yona yang kerap mengacu pada ramalan-ramalan raja-raja terdahulu – yakni Prabu Joyoboyo dari Kerajaan Kediri Kuno.

Menurut ungkapan Mpu Yona, pengganti Jaka nanti akan memiliki salah satu suku kata dari istilah “Nata Negara”. Orang-orang Nusantara alhasil menyimpulkan bahwa ada dua calon dari house tertentu yang memiliki nama tersebut, seperti house Hartarta dan house Pranawa.

Mendengar ramalan ini, para tokoh dari masing-masing house berkumpul dan mendiskusikan lebih lanjut. Mpu Yona akhirnya secara terpaksa menjamu kedatangan mereka.

Baca Juga: Mimpi Ganjar Butuh Keajaiban?

Ramalan Jayabaya adalah Koentji

Rani: Saya ini yang bakal jadi Rani dari daratan lan segara Nusantara. Kenapa tiba-tiba Mpu Yona mengeluarkan ramalan yang tidak berdasar begitu?

Mpu Yona: Mohon maaf, Puan Rani. Saya ini hanya mengutip berdasarkan Serat Prabu Joyoboyo terdahulu.

Rani: Kan, mbah kung saya juga punya nama dengan suku kata itu. Bung Kusna namanya.

Prabawa: Lah, saya juga punya suku kata Nata Negara di nama saya, yakni Subianta. Berarti, saya masih punya kesempatan, kan, Mpu?

Mpu Yona: Hmm, tergantung. Prabu Prabawa apa tidak lelah berusaha untuk menggapai kekuasaan setiap lima tahun?

Anis Baswedan: Bagaimana dengan Bani Baswedan? Saya kira bani ini sudah lama memberikan sumbangsih bagi kemajuan Nusantara?

Mpu Yona: Mohon maaf juga, Mas Anis.

Angga Hartarta: House saya namanya Hartarta. Ada ta-nya. Berarti bisa, bukan?

Ganjar Pranawa: Saya juga. Meskipun house saya bukan house seperti yang lainnya, saya masih punya kesempatan bukan?

Mpu Yona: Hmm, sepertinya para prabu di sini juga salah paham. Yang saya maksud bukan prabu-prabu sekalian. Yang saya maksud adalah saya. Kan, nama saya Yona, ada na-nya.

Semua: Yaelah, padha wae mbujuk!

The End.

(A43)

Baca Juga: Airlangga Pilih Ganjar Sebagai Pendamping?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait