HomeCelotehMengapa Luhut Hapus Angka Kematian?

Mengapa Luhut Hapus Angka Kematian?

Kecil Besar

Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan untuk tidak menggunakan data kematian Covid-19 secara sementara dikritik oleh banyak pihak.


PinterPolitik.com

Belajar adalah makananku sehari-hari. Setiap tugas sekolah yang aku dapatkan selalu kukerjakan dengan giat. Bukan masalah juga bagiku kalau aku tidak bisa memenuhi apa yang biasa disebut sebagai study-life balance. Anggap saja aku sebagai seorang studyholic alias orang yang gila belajar.

Entah itu matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, hingga pelajaran-pelajaran bahasa, semua kusantap habis dengan lahap โ€“ khususnya pelajaran ekonomi dan investasi yang menjadi favoritku. Tidak hanya tugas sekolah, aku juga aktif dalam berbagai kegiatan non-akademis. Setiap persoalan โ€“ baik dari teman-temanku maupun dari pihak sekolah โ€“ pun dipercayakan kepadaku.

Ketika Sumadi tidak masuk karena sakit, misalnya, aku siap membantunya dengan mengerjakan tugas-tugasnya sebagai pengurus kelas. Tidak hanya itu, ketika Edhy diskors karena makan duit kelas, aku juga yang akhirnya mengambil perannya. Aku adalah satu jawaban untuk semua persoalan.

Namun, semua berubah ketika aku diberi satu tugas oleh guruku yang bernama Pak Joko. Tugasnya adalah membuat laporan atas setiap bab โ€“ dari bab ฮฑ (alpha) hingga bab ฯ‰ (omega) โ€“ yang telah kami pelajari di kelas. Setiap minggunya, laporan baru harus dikumpulkan sehingga dapat dibahas bersama di kelas.

Kami pun dibagi ke dalam sejumlah kelompok. Di kelompokku, ada teman-temanku yang bernama Angga, Erik, Budi, Riris, Ani, Fendi, dan lain-lain. Sebenarnya, bukan pilihanku juga untuk berada di satu kelompok dengan mereka. Namun, Pak Joko berujar, โ€œHut, kamu bimbing teman-temanmu ini ya. Menurut saya, kamu cocok untuk diberi amanat ini.โ€

Baca Juga: Epic Rap Battle: Luhut vs SBY?

Sekarang Giliran Pak Luhut

Awalnya, aku optimis. โ€œApa sih yang aku nggak bisa?โ€ ujarku dalam hati. Dalam setiap diskusi, kawan-kawanku ini selalu berharap akulah yang memulai mengerjakan. Ya iyalah, siapa lagi yang paling dipercaya sama Pak Joko?

Namun, berbeda dengan tugas-tugas yang biasa kukerjakan, ada satu bab yang lebih berat daripada biasanya. Bab itu adalah bab ฮด (delta). Laporan kami akhirnya tidak tersusun rapi dan berantakan. Alhasil, nilai yang kami dapatkan pun bukanlah nilai yang sempurna. Aku pun bertanya dalam hati, โ€œApa perlu ya aku belajar ke senior Mbak Mega yang tidak kusukai?โ€

Terlepas dari persoalan Mbak Mega, aku pun tetap tidak ingin mengabarkan hasilnya pada kedua orang tuaku, yakni Bu Masya dan Pak Rakat. Aku yang terinspirasi dengan taktik Nobita di kartun Doraemon akhirnya menyembunyikan lembaran nilaiku di laci mejaku.

โ€œTenang, Bu Masya dan Pak Rakat bakal tahu hasil akhirnya juga kok di raporku. Selama nilai di bab lainnya baik dan rapi, Bu Masya dan Pak Rakat bakal tetap bangga denganku,โ€ ucap batinku yang gelisah sambil mengambil keputusan tersebut. Namun, aku teringat dengan nasib Nobita. Dia selalu gagal menyembunyikan lembaran-lembaran nilainya.

Aku yang takut kalau Bu Masya dan Pak Rakat menemukannya suatu hari nanti akhirnya memutuskan untuk terbuka pada mereka. Namun, aku dibuat kaget oleh nasihat mereka โ€“ meskipun juga sambil dimarahi. Kata mereka, โ€œLagipula, kegagalan adalah bagian dari proses, asal kita mau jujur dan belajar darinya.โ€ (A43)

Baca Juga: Lord Luhut vs Madam Megawati


โ–บ Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor โ€˜Recehโ€™ Jokowi

โ€œSelera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.โ€ PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono โ€˜Si Pengguncangโ€™ Dunia

โ€œBeri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.โ€ ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

โ€œKamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kitaโ€. โ€“ Odysseus, dalam film โ€œTroyโ€ PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

Prabowo vs Maโ€™ruf โ€˜Panaskanโ€™ Tangsel

โ€œRobek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putihโ€ โ€“ Jenderal Soedirman, Jenderal Revolusi Indonesia PinterPolitik.com Adakah di sini yang nge-fans sama Cristiano Ronaldo...

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Habiburokhman โ€œFashion Policeโ€ Jokowi

"Always have fun with fashion dress to entertain yourself." ~Betsey Johnson PinterPolitik.com Ajegileee, kemarin eike sempet terpana lho melihat foto-foto pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan...

More Stories

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan โ€˜Centil-ismeโ€™

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?