HomeCelotehMenaker dan Benang Kusut TKA Tiongkok

Menaker dan Benang Kusut TKA Tiongkok

Kecil Besar

“Tenaga kerja ada sebelum dan tidak terikat pada modal” – Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Cuy, ada analogi menarik nih terkait kasus yang menimpa Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah saat mengatakan kalau tenaga kerja asing (TKA) dari Tiongkok yang didatangkan ke Indonesia mengemban fungsi transfer of knowledge atau berbagi pengetahuan kepada tenaga kerja lokal.

Padahal nih, ombudsman kita sudah bilang dalam investigasinya bahwa sebagian besar TKA tersebut datang ke Indonesia cuma jadi pekerja kasar. Analogi kasus itu begini, cuy: tahu Alexandre Pato kan? Anak bola pasti tahu lah.

Doi sangat fenomenal di masanya apalagi saat di AC Milan. Namun, seiring perjalanan kariernya, performanya menurun. Bisa dibilang sudah habis skill magisnya di lapangan hijau deh.

Namun, entah bisikan dari mana, tiba-tiba di tahun 2016, saat Pato benar-benar sudah tidak nyaring dielu-elukan oleh fans. Hal ini terjadi ketika si Biru London – sebutan Chelsea – mendatangkannya dari Corinthians.

Awalnya sih, Pato sempat menjawab keraguan dengan menyumbangkan satu gol kala melawan Aston Villa. Dan, ternyata itu jadi gol pertama dan terakhirnya bersama Chelsea. Kayak menyesal, Chelsea pun akhirnya mendepaknya balik ke Corinthians lagi.

Maka, tidak heran deh kalau pembelian Pato ini dianggap sebagai ‘hanya kepanikan Chelsea’. Ya kasihan Pato, sih, tapi lebih kasihan Chelsea deh, cuy. Pasalnya, ini menyangkut kesuksesan komunal bukan individual.

Ya, hampir sama dengan kasus Pato dan Chelsea, Indonesia soal TKA Tiongkok ini dikhawatirkan juga begitu. Soalnya nih, kedatangannya TKA saja sudah menggambarkan seakan Indonesia lagi panik ekonomi.

Bayangkan lho di tengah pandemi bukannya manfaatkan tenaga lokal, eh, malah TKA. Sudah gitu, alih-alih seperti Bu Menaker berharap TKA ini bisa jadi media untuk transfer knowledge, eh, lha kok dilihat dari investigasi Ombudsman pun, komposisi tenaganya justru kebanyakan diisi pekerja kasar.

Ya, mimin sih jujur aja nggakpapa kalau Menaker mendatangkan TKA – asal dari unsur tenaga ahli lah, biar serius gitulho transfer pengetahuannya. Kalau cuma tenaga kasar, yang lokalan sudah melimpah ruah. Tahan banting pula.

Mimin curiga deh ada kepentingan di belakang ini. Bau-baunya tercium saat mimin melihat aktor yang nyaring suaranya justru Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Panjaitan. Ini ketika doi meminta agar berbicara soal TKA Tiongkok dalam rapat dengan tiga menteri lainnya, yakni Yasonna Laoly (Menteri Hukum dan HAM), Ida Fauziah (Menaker), dan Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri).

Itu aneh, cuy, soalnya yang layak bicara nih justru ketiga menteri yang memilih diam itu. Kecurigaan mimin bertambah apalagi Yasonna menyebut bahwa Pak Luhut diberi waktu bicara lebih banyak soalnya ini berkaitan dengan investasi.

Lha kalau memang investasi, otomatis kan ada hukum ‘kalau bagus, ya dilanjut’. Terus andai benar, buat apa pernyataan Bu Ida soal durasi kontrak dan hanya transfer of knowledge? Jujur saja deh, kalau ternyata nanti memuaskan, pastinya lanjut kan? Hadeuh. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Megawati Sukses “Kontrol” Jokowi?

“Extraordinary claims require extraordinary evidence” – Carl Edward Sagan, astronom asal Amerika Serikat (AS) PinterPolitik.com Gengs, mimin mau berlagak bijak sebentar boleh, ya? Hehe. Kali ini, mimin mau berbagi pencerahan tentang...

Arief Poyuono ‘Tantang’ Erick Thohir?

“Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata” – Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN PinterPolitik.com Gengs, kalian...

Sri Mulyani ‘Tiru’ Soekarno?

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” – Soekarno, Proklamator Indonesia PinterPolitik.com Tahukah kalian, apa yang menyebabkan Indonesia selalu...