HomeCelotehMegawati Mulai Tidak Didengarkan?

Megawati Mulai Tidak Didengarkan?

Kecil Besar

“In this world, everything is governed by balance. There’s what you stand to gain and what you stand to lose. And when you think you’ve got nothing to lose, you become overconfident” – El Profesor, Money Heist (2017-sekarang)


PinterPolitik.com

Siapa yang tidak pernah mendengar seri yang berjudul Money Heist (2017-sekarang)? Dalam seri itu, ada aksi-aksi keren dari sebuah tim yang merampok Royal Mint of Spain.

Tim ini terdiri dari sejumlah orang yang direkrut oleh satu sosok yang dikenal sebagai El Profesor. Anggota-anggota tim ini memanggil satu sama lain dengan kode nama kota, seperti Berlin, Tokyo, Rio, Nairobi, Helsinki, dan seterusnya.

Nah, seluruh operasi tim ini dipimpin dan direncanakan oleh El Profesor. Bahkan, agar susunan rencananya berhasil, El Profesor menerapkan sejumlah peraturan bagi anggota-anggotanya – seperti tidak boleh membunuh sandera.

Namun, pada suatu hari, sejumlah anggotanya mulai melanggar aturan-aturan yang diterapkan El Profesor di tengah proses perampokan dan penyanderaan terhadap Royal Mint of Spain. Berlin, misalnya, memerintahkan pembunuhan terhadap seorang sandera. Selain itu, Ia juga menyerahkan Tokyo ke pihak kepolisian.

Sontak saja, El Profesor yang telah menyusun rencana-rencananya sedemikian rupa merasa kalang kabut dan berusaha menyelamatkan seluruh operasinya dari luar lokasi perampokan. Ketika Tokyo ditangkap, misalnya, El Profesor berusaha membantunya agar dapat kembali ke lokasi perampokan.

Mungkin, situasi sulit yang dialami oleh El Profesor ini juga tengah dialami oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Pasalnya, kini sejumlah kader PDIP disebut mulai tidak mengikuti instruksi dan keputusan putri presiden pertama Indonesia tersebut.

Hal ini mulai terlihat di Kota Surabaya, Jawa Timur, di mana sejumlah kader dikabarkan malah membelot dari calon pasangan kepala daerah yang didukung partai berlambang kepala banteng itu. Alih-alih mendukung pasangan Eri Cahyadi-Armuji yang diusung PDIP dalam Pilwakot Surabaya, misalnya, mereka malah mendukung pasangan lawan, yakni Machfud Arifin-Mujiaman.

Baca juga :  Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Kelompok yang mengklaim diri mereka sebagai Banteng Ketaton ini merasa kecewa karena sosok yang mereka dukung, yakni Bakal Calon Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana, tidak dipilih sebagai calon yang didukung oleh DPP PDIP. Kala itu, Megawati memutuskan untuk mendukung Eri yang disebut-sebut jadi anak kesayangan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma).

“Kami tahu banyak struktural partai yang sakit hati. Tapi mereka tidak berani terang-terangan karena takut ancaman pecat dari DPP PDIP,” ujar Andreas Widodo yang mengklaim dirinya sebagai Ketua Deklarasi Banteng Ketaton.

Wah, apa jangan-jangan ini pertanda ya bahwa keputusan Megawati mulai tidak diindahkan oleh kader-kader PDIP sendiri? Bisa jadi, ini jadi bentuk kekecewaan para kader yang merasa bahwa para outsider politik jauh lebih diuntungkan di PDIP.

Alasan itu sih bisa aja masuk akal ya. Soalnya, kalau kata Marcus Mietzner dalam bukunya yang berjudul Reinventing Asian Populism, lingkaran politisi PDIP yang lama mulai terasa terganggu tuh dengan munculnya para outsider ini – seperti Joko Widodo (Jokowi) dan Risma.

Apalagi nih, pilihan dukungan yang jatuh pada outsider ini nggak cuma terjadi di Surabaya lho. Di Pilkada Solo 2020, misalnya, pilihan Megawati malah jatuh pada putra Jokowi yang bernama Gibran Rakabuming Raka – bukan Achmad Purnomo yang sebelumnya disebut-sebut udah diusung oleh DPC PDIP Solo.

Wah, kalau begini terus, bukan nggak mungkin kan ketidakpuasan di kalangan kader PDIP sendiri bakal meluas. Hmm, mungkin nggak ya ini pertanda mulai melemahnya pengaruh Megawati yang telah lama menduduki posisi Ketum? Apa sudah waktunya regenerasi nihHehe. (A43)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Sandi Galau Jokowi Makin Sakti

“Berikan tubuhmu sebanyak mungkin nutrisi supaya kuat, sehat dan bertenaga. Jika tubuh sudah kuat, sehat dan bertenaga, maka silahkan lanjutkan perlawanannya.” PinterPolitk.com Sandiaga Salahuddin Uno menyambut...

Pemimpin Idaman Versi Jokowi-Sandi

"Cita-cita demokrasi kita lebih luas, tidak saja demokrasi politik, melainkan juga demokrasi ekonomi. ~Bung Hatta PinterPolitik.com Dalam acara deklarasi dukungan dari alumni sejumlah kampus beberapa waktu...

Esemka, Mobil Dinas Baru Jokowi?

“Karakter bukan diajarkan lewat teori dan wejangan. Karakter diajarkan pakai teladan, dengan contoh nyata”. – Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta PinterPolitik.com Ada waktu untuk tertawa, ada...

Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar Pinterpolitik.com Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri...

Anas Urbaningrum Segera Tantang SBY?

Baliho Anas Urbaningrum tiba-tiba terpasang di dekat Cikeas. Apakah mungkin Anas segera tantang SBY selepas bebas dari penjara?

Soal Gaji, Jurus Kamehameha Sandi

“Kau tidak akan pernah menang jika bergantung pada teknik orang lain, dan itu sangat tidak berguna bagi musuhmu”. – Son Goku PinterPolitik.com Anak-anak era 1990-an pasti...

More Stories

Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Seorang mahasiswi kedokteran memukau publik di panggung debat nasional. Mengapa cara bicaranya yang tenang justru terasa begitu radikal? 

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?