HomeCelotehMegawati “Mirip” Ultraman?

Megawati “Mirip” Ultraman?

Kecil Besar

Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri ingin mempopulerkan Salam Pancasila guna membumikan nilai-nilai Pancasila ke masyarakat. Ampuhkah pembumian Pancasila melalui gestur-gestur semacam ini?


PinterPolitik.com

Salam merupakan salah satu bentuk komunikasi antar-individu yang telah dilakukan sejak lama. Bahkan, mungkin, interaksi seperti ini telah dilakukan umat manusia sejak sejarah itu sendiri dimulai.

Tanpa kita sadari, salam pun kerap kita gunakan ketika berpapasan dengan orang lain. Ketika berpapasan dengan orang yang dikenal di lingkungan sehari-hari, misalnya, kita terbiasa memberikan senyum hingga saling menyapa.

Dalam agama, salam juga memiliki peran yang penting. Dalam agama Islam, misalnya, salam digunakan untuk mendoakan keselamatan dan keberkahan untuk satu sama lain bagi sesama Muslim.

Nah, saking seringnya digunakan, bukan nggak mungkin salam ini akhirnya juga menjadi instrumen penting dalam penerapan nilai-nilai di masyarakat. Se-enggak-nya, asumsi seperti ini disadari oleh Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri.

Bu Mega ini beberapa waktu lalu menunjukkan sebuah gestur unik yang disebutnya sebagai Salam Pancasila. Nah, kata presiden kelima tersebut, Salam Pancasila ini bisa dipopulerkan agar dapat sekalian mempopulerkan prinsip dan nilai Pancasila ke masyarakat umum.

Uniknya, Salam Pancasila ini bukan baru-baru ini lho diusulkan oleh Bu Mega. Beberapa tahun lalu, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) juga ikut mengusulkan agar Salam Pancasila digunakan oleh khalayak umum. Sampai-sampai, ada yang ngebandingin salam tersebut dengan salam assalamualaikum dalam agama Islam.

Baca Juga: Mega Puji Megawati?

Salam Pancasila Megawati

Selain itu, katanya, Bu Mega dan BPIP ini terinspirasi dari Salam Pancasila yang emang diajarkan oleh sang proklamator, Soekarno. Kalau mimin cari di Google sih, ada beberapa gambar yang menunjukkan Bung Karno melakukan Salam Pancasila tersebut.

Uniknya nih, ada yang bilang kalau Salam Pancasila ala Bu Mega ini belum seratus persen benar lho sikapnya. Soalnya tuh, berdasarkan apa yang dicontohkan Bung Karno, salam ini harus meletakkan telapak tangan sejajar dengan telinga lho.

Tuh, makanya, gengs, perlu lho buat belajar sejarah, gengs. Kalau mau belajar banyak sejarah lagi, bisa tuh nonton video-video YouTube – khususnya channel PinterPolitik TV – bersama teman mimin yang namanya San Tobias. Hehe.

Hmm, kalau nggak sejajar dengan telinga bisa-bisa bukan jadi Salam Pancasila tuh, Bu Mega. Nanti, kalau orang Jepang ngeliat, dikira itu jadi jurus ala Ultraman tuh. Kan, biasanya, Ultraman jurusnya dengan tangan mirip Salam Pancasila yang sedikit menjulur ke arah depan. Hehe.

Hmm, terlepas dari persoalan gestur salam seperti ini, sebenarnya, kan, hal yang penting adalah bagaimana membumikan Pancasila. Lagipula, masyarakat bisa dibilang udah punya rasa nasionalis yang tinggi kok. Buktinya, waktu ramai persoalan Racket Boys dan All England 2021, netizen secara gotong royong membela Indonesia di internet.

Hmm, justru nih, kalau kata Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, pembumian Pancasila ini perlu dilakukan dengan aksi nyata lho. Contohnya ialah dengan membantu para pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dinonaktifkan karena disebut tidak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK). Uppss.

Kan, udah jelas tuh kontribusi mereka kepada bangsa Indonesia ini. Kalau dibandingkan dengan mereka-mereka yang terjegal kasus-kasus korupsi, lebih Pancasilais yang mana tuh, Bu Mega? Coba yuk tanya ke Pak Juliari Batubara (mantan Menteri Sosial). Hehe. (A43)

Baca Juga: Menguak ‘Kemesraan’ Megawati-Putin


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

Ma’ruf Amin yang Dirindukan

“I miss you, I miss you” – blink-182, grup band pop-punk asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Tahun 2020 baru saja dimulai dengan memasuki awal bulan Januari. Namun,...

Prabowo vs Ma’ruf ‘Panaskan’ Tangsel

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih” – Jenderal Soedirman, Jenderal Revolusi Indonesia PinterPolitik.com Adakah di sini yang nge-fans sama Cristiano Ronaldo...

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

More Stories

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?