HomeCelotehKetika Ma’ruf Amin Jadi ‘Ban Serep’

Ketika Ma’ruf Amin Jadi ‘Ban Serep’

Kecil Besar

“그러니까 답을 찾지 말고 선택을 해요. 무슨 선택을 하든 욕은 먹습니다.” – Han Ji-pyeong, Start-Up (2020)


PinterPolitik.com

Sedia payung sebelum hujan. Pepatah ini merupakan pepatah yang bisa dibilang memiliki nilai yang penting. Sebagian besar dari kita pasti mengakui dan pernah mendengar pepatah satu ini.

Tidak hanya di kala hujan, “payung” yang dibutuhkan untuk berjaga-jaga juga berlaku lho di bidang-bidang lain. Ketika akan berpergian menggunakan mobil pribadi, misalnya, kondisi kendaraan juga harus diperhatikan.

Kondisi ban, misalnya, juga perlu diamati dengan saksama. Bila situasi buruk terjadi pada ban, bukan nggak mungkin kita juga perlu ban serep atau ban cadangan dong.

Uniknya, istilah “ban serep” ini tampaknya tidak hanya digunakan di dunia otomotif, melainkan juga di dunia politik. Beberapa waktu lalu, Institute for Developments of Economics and Finance (INDEF) mengularkan sebuah hasil riset lho terkait isu dan tokoh politik yang banyak diperbincangkan oleh publik.

Dalam riset yang dilakukan pada Juli hingga November 2020 tersebut, Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin dianggap tidak populer sama sekali lho di publik – khususnya soal sikap, kebijakan, dan kiprahnya. Bahkan, riset itu menyebutkan bahwa Pak Kiai Ma’ruf ini bagaikan ‘ban serep’ yang biasa disematkan pada istilah wapres di era Orde Baru.

Hmm, istilah ini sebenarnya mengemuka di era Orde Baru sih. Kala itu, Presiden Soeharto selama menjabat banyak memiliki figur wapres yang berganti-ganti – seakan-akan jabatan itu hanya pelengkap bagaikan ban cadangan.

Ya, kalau dibandingkan dengan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju, Pak Kiai Ma’ruf ini kalah jauh sih. Pasalnya, banyak menteri seperti Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi, dan kawan-kawan lebih banyak menjadi buah bibir publik.

Menanggapi riset INDEF tersebut, Kantor Wapres pun angkat bicara. Kata Juru Bicara Wapres Masduki Baidlowi, Pak Kiai Ma’ruf tidak ingin ada matahari kembar di pemerintahan di samping Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri. Pernyataan seperti ini juga sebelumnya pernah diungkapkan lho oleh Pak Wapres pada Januari 2020 lalu.

Wah, kalau gitu alasannya, Pak Kiai Ma’ruf ini bisa belajar ke salah satu tokoh anime yang bernama Sasuke Uchiha deh. Soalnya, karena merasa lemah dan melihat Naruto Uzumaki lebih dominan sebagai Hokage, Sasuke akhirnya berkelana meninggalkan Desa Konoha.

Padahal tuh, kalau menurut Boruto Uzumaki, Sasuke juga pantas lho buat jadi Hokage. Ya, mungkin, mirip Pak Kiai Ma’ruf, Sasuke juga nggak ingin tuh ada matahari kembar di Desa Konoha.

Hmmtapi nih ya, Sasuke kan masih didengar tuh oleh Naruto saran-sarannya. Kalau Pak Kiai Ma’ruf gimana ya? Kan, dengar-dengar, Pak Wapres pengaruhnya menjadi minim karena jarang dilibatkan oleh Presiden Jokowi. Sampai-sampai, Pak Jokowi sempat lupa menyapa Pak Kiai Ma’ruf. Hehe.

Ya, kalau gitu, kembali lagi sih pertanyaannya. Pak Kiai Ma’ruf ini tidak ingin ada matahari kembar atau emang jarang didengar ya sama Pak Jokowi?

Mungkin, Pak Kiai Ma’ruf perlu nih belajar dengan Nam Do-san di seri Start-Up (2020-sekarang). Meskipun Do-san ini terbilang jenius, dia ternyata dikenal pemalu dan jarang memaparkan arah gagasan hidupnya dengan baik.

Jangan sampai lah Pak Kiai Ma’ruf seperti Do-san yang jadi kurang didengar meskipun punya gagasan-gagasan brilian. Barang kali, Pak Kiai Ma’ruf perlu tegas layaknya Han Ji-pyeong. Hehe. (A43)

https://youtube.com/watch?v=L6EgOIMl4Fk%3Ffeature%3Doembed

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Sandi Galau Jokowi Makin Sakti

“Berikan tubuhmu sebanyak mungkin nutrisi supaya kuat, sehat dan bertenaga. Jika tubuh sudah kuat, sehat dan bertenaga, maka silahkan lanjutkan perlawanannya.” PinterPolitk.com Sandiaga Salahuddin Uno menyambut...

Pemimpin Idaman Versi Jokowi-Sandi

"Cita-cita demokrasi kita lebih luas, tidak saja demokrasi politik, melainkan juga demokrasi ekonomi. ~Bung Hatta PinterPolitik.com Dalam acara deklarasi dukungan dari alumni sejumlah kampus beberapa waktu...

Esemka, Mobil Dinas Baru Jokowi?

“Karakter bukan diajarkan lewat teori dan wejangan. Karakter diajarkan pakai teladan, dengan contoh nyata”. – Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta PinterPolitik.com Ada waktu untuk tertawa, ada...

Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar Pinterpolitik.com Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri...

Anas Urbaningrum Segera Tantang SBY?

Baliho Anas Urbaningrum tiba-tiba terpasang di dekat Cikeas. Apakah mungkin Anas segera tantang SBY selepas bebas dari penjara?

Soal Gaji, Jurus Kamehameha Sandi

“Kau tidak akan pernah menang jika bergantung pada teknik orang lain, dan itu sangat tidak berguna bagi musuhmu”. – Son Goku PinterPolitik.com Anak-anak era 1990-an pasti...

More Stories

Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Seorang mahasiswi kedokteran memukau publik di panggung debat nasional. Mengapa cara bicaranya yang tenang justru terasa begitu radikal? 

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?