HomeCelotehJokowi dan Pemerintahan Rumah Setan

Jokowi dan Pemerintahan Rumah Setan

Kecil Besar

“Kondisi ini juga diperkuat dengan kinerja sektor pemerintahan, di mana kebebasan berorganisasi atau berpendapat mendapat penilaian publik hanya sebesar 59,2 persen”. – Erwan Halil, Peneliti LP3ES


PinterPolitik.com

Isu kebebasan sipil emang tengah jadi konsen masyarakat di pemerintahan Presiden Jokowi. Publik memang menilai saat ini tengah terjadi penurunan kebebasan berekspresi dan berpendapat di muka umum.

Hal ini tergambar dari hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Dalam survei terbarunya, LP3ES menyebut masyarakat semakin takut untuk berpendapat di muka publik.

Baca Juga: RUU Ciptaker: Kebangkitan Partai Buruh?

Hasil survei LP3ES menunjukkan 52,1 persen responden setuju saat ini ancaman kebebasan sipil meningkat, sehingga masyarakat makin ketakutan dalam berpendapat, berekspresi dan berkumpul serta berserikat.

Di sisi lain, sekalipun ada perasaan terancam akibat kebebasan berpendapat yang makin “tertekan”, mayoritas masyarakat saat ini masih tetap intens mengikuti perkembangan informasi terkait sosial politik melalui media massa dan media sosial.

Masyarakat disebut tidak apatis terhadap isu-isu actual, apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Survei LP3ES ini diikuti oleh 1.200 responden usia dewasa yang tersebar di 34 kota besar di Indonesia. Pelaksanaan survei dilakukan pada 8 sampai 15 April 2021 dengan metode multistage random sampling. Survei ini memiliki margin of error lebih kurang 2,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hmm, sebenarnya konteks ketakutan untuk berekspresi dan berpendapat di muka umum ini harus jadi konsen isu yang besar loh. Soalnya, kalau ini terus terjadi, sangat mungkin ruang-ruang kebebasan sipil akan tergerus.

Apalagi, persepsinya sudah di atas 50 persen, yang artinya sudah cukup parah. Nggak heran banyak yang bilang bahwa saat ini, masyarakat punya ketakutan untuk mengeluarkan pendapat, bahkan di media sosial sekalipun. Selain buzzer yang “mengancam”, ada juga UU ITE yang mengintai.

Baca juga :  The One-Man Band

Dalam konteks kepemimpinan, ini emang jadi catatan penting untuk Presiden Jokowi. Lama-lama Pak Jokowi bakal jadi pemimpin yang ditakuti. Wih, udah makin menuju ke arah Machiavellian nih. Uppps.

Buat yang belum tahu, Niccolo Machiavelli pernah menyebutkan bahwa pemimpin yang baik itu bukan yang dicintai oleh masyarakat, melainkan yang ditakuti.

Hmm, lama-lama negara bisa berubah jadi wahana menakutkan ala rumah setan sih. Hehehe. Semua logika akan dikalahkan oleh rasa takut. Ini sesuai dengan studi-studi neurosains – misalnya seperti yang dibahas oleh The New York Times beberapa waktu lalu – yang menyebut ketakutan bisa menjadi jalan “kuburan logika”.

Uhh, menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.