HomeCelotehJK ‘Jegal’ Rizal Ramli (Lagi)?

JK ‘Jegal’ Rizal Ramli (Lagi)?

Kecil Besar

“Johnny, you and I, this…we aren’t done” – Daniel LaRusso, Cobra Kai (2018-sekarang)


PinterPolitik.com

Rivalitas memang terkadang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan hidup banyak orang. Bahkan, rivalitas juga kerap memunculkan permusuhan dan kebencian terhadap satu sama lain.

Rasa permusuhan ini terlihat lho dalam franchise film Karate Kid. Dalam film The Karate Kid (1984), misalnya, persaingan dan rivalitas terbangun antara dua anak remaja yang jago dalam berkarate, yakni Daniel LaRusso dan Johnny Lawrence.

Meski persaingan itu sempat berakhir dengan kemenangan LaRusso di turnamen karate, rivalitas itu tampaknya masih menghantui keduanya hingga mereka tumbuh dewasa. Dalam seri yang berjudul Cobra Kai (2018-sekarang), keduanya pun bertemu lagi dan saling berusaha menghentikan usaha masing-masing.

Tidak tanggung-tanggung, terkadang mereka menggunakan sejumlah cara yang dapat menjegal laju masing-masing. Upaya penjegalan ini pernah dilakukan oleh LaRusso dengan melarang perguruan karate milik Lawrence yang bernama Cobra Kai untuk mendaftar di turnamen.

Tentu saja, Lawrence merasa kecewa dengan kabar tersebut. Namun, dengan upayanya, guru karate Cobra Kai itu pun berhasil meyakinkan dewan turnamen.

Upaya jegal-menjegal seperti LaRusso-Lawrence ini sepertinya tengah terjadi juga di dunia nyata, khususnya di Indonesia. Mungkin, permusuhan seperti ini bisa kita amati nih dalam perseteruan antara mantan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) dan mantan Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman Rizal Ramli (RR).

Bagaimana tidak? Adu argumen antara keduanya tidak berhenti lho hingga akhir-akhir ini. Bahkan, layaknya LaRusso-Lawrence yang tidak lagi bertanding di turnamen karate, silang pendapat JK dan RR ini tetap berlanjut meski keduanya tidak lagi menjabat di pemerintahan.

Baru-baru ini, Pak JK menyebutkan bahwa dirinya tidak pernah ingin menghalangi RR. Menurutnya, pemberhentian RR dari posisi Menko Maritim adalah keputusan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri.

Baca juga :  Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Bahkan, Pak JK membagikan cerita bagaimana Pak RR ini dicopot dari Kabinet Kerja. Mantan Wapres itu ingat kronologi dan tempat di mana kejadian itu berlangsung lho.  

Wah, cerita kronologis Pak JK ini bisa jadi menyaingi Luis di film Ant-Man (2015). Dalam film tersebut, si Luis ini dikenal oleh para penggemar sebagai storyteller yang andal karena dinilai sangat tepat dan presisi. Hehe.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita itu, pernyataan Pak JK ini merupakan tanggapan terhadap pernyataan Pak RR beberapa waktu lalu. Mantan Menko Maritim itu menyebutkan bahwa selama ini dirinya selalu dijegal oleh mantan Wapres tersebut – bahkan disebut semenjak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

By the way, seperti LaRusso-Lawrence, silang pendapat mereka memang telah berlangsung lama sih – bahkan semenjak keduanya masih di dalam pemerintahan. Pasalnya, pada tahun 2015 dulu, RR memberikan kritik terhadap megaproyek 35.000 megawatt yang disebut-sebut di dalamnya terdapat dugaan konflik kepentingan JK.

Bahkan nih, RR dulu sudah mengeluarkan jurus – bak crane kickmilik LaRusso – yang disebut rajawali ngepret lhoHmm, pantas saja keduanya tidak pernah akur.

Wah, apakah pernyataan JK ini bakal menjegal RR lagi ya? Kan, dalam pernyataan itu, pihak yang bertanggung jawab dalam pemberhentian RR adalah Presiden Jokowi – yang akhir-akhir ini bisa dibilang kembali dekat dengan RR. Sampai-sampai, RR memanggil Presiden Jokowi dengan sapaan “Mas” lhoHehe.

Ya, terlepas dari siapa yang benar di perseteruan ini, bukan nggak mungkin intrik kepentingan dan politik turut menyertai lah ya. Kita amati sajalah siapa yang akan menang di pertarungan jurus jegal-menjegal satu ini. Hehe. (A43)

Baca juga :  The One-Man Band
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

More Stories

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?