HomeCelotehImperialisme ala The Last of Us?

Imperialisme ala The Last of Us?

Warganet Indonesia dihebohkan dengan setting serial The Last of Us (2023-sekarang) yang bertempat di Jakarta pada tahun 2003. Namun, ada yang “aneh” dari penampakan Jakarta. Apakah itu imperialisme ala The Last of Us?


PinterPolitik.com

“Jakarta? Where is that? Middle East?” – Joel Miller, The Last of Us (2023-sekarang)

Di saat berjalan-jalan di Kota Tua, Jakarta, hampir pasti keinginan untuk mengabadikan momen muncul. Rasa ingin pun semakin menjadi-jadi dengan adanya platform-platform media sosial (medsos) seperti Instagram.

Hayoo, siapa yang dikit-dikit upload story di akun Instagram? Nah, biasanya, sebelum story di-upload, kita bisa memilih color scheme yang kita mau dengan me-swipe ke kanan atau ke kiri.

Color schemes ini pun digolongkan dengan nama-nama kota. Warna “Los Angeles”, misalnya, memiliki skema warna yang cenderung oranye dan merah. Sementara, skema warna “Tokyo” memiliki tone warna hitam dan putih.

Hmm, mungkin nih, skema warna ini agar foto bisa sesuai dengan suasana tempat yang diinginkan. Los Angeles di Amerika Serikat (AS), misalnya, kan, dikenal dengan temperaturnya yang lebih hangat sehingga menjadi wajar apabila skema warna yang digunakan oleh Instagram adalah oranye.

Nah, cara berpikir yang sama ini juga digunakan oleh para pembuat film Hollywood di AS. Gimana nggak? Hollywood dikenal memiliki kebiasaan untuk menggunakan color grading tertentu, yakni warna kuning, warna biru, dan warna abu-abu.

Biasanya tuh, warna biru digunakan dalam film-film yang mengambil Amerika Utara dan Eropa Barat sebagai setting-nya. Sementara, warna abu-abu digunakan untuk film-film yang mengambil setting di Eropa Timur.

Katanya sih, warna biru menunjukkan kemajuan dan suasana futuristik. Sementara, warna abu-abu menimbulkan suasana suram dan sedih – mengingat ada anggapan bahwa kehidupan di Eropa Timur akan cenderung “gelap” karena dipimpin pemerintahan yang lebih otoritatif.

Baca juga :  Ayo, Mbak Taylor! Jangan Diam Aja!

Hmm, terus, kalau warna kuning, artinya apa? Nah, kalau kuning, situasinya lebih mengarah ke suasana kering, gersang, dan tegang. Biasanya, grading warna kuning digunakan untuk film-film yang mengambil setting di negara-negara berkembang di kawasan Afrika, Asia Selatan, atau Amerika Latin.

Waduh, jangan-jangan ini yang ada di bayangan para pembuat serial The Last of Us (2023-sekarang) dalam menggambarkan Jakarta, Indonesia? Soalnya nih, seperti yang telah ramai dibicarakan di medsos, episode kedua mengambil ibu kota negara ini sebagai setting di mana penularan pandemi jamur zombie dimulai.

Namun, pernah nggak sih berpikir kalau grading kuning semacam ini justru adalah sebuah misrepresentasi terhadap negara-negara berkembang? Padahal, ya, kondisi dan situasi di dunia nyata tidak sebegitu menegangkan seperti yang kerap digambarkan oleh para pelaku industri Hollywood. 

Misrepresentasi terhadap negara-negara berkembang ini bisa jadi didasari pada sebuah konsep yang disebut oleh Edward W. Said sebagai orientalisme dalam bukunya Orientalism. Konsep ini berangkat dari dikotomi the Occident (Barat) vs the Orient (Timur).

Dikotomi ini datang dari sisi peradaban Barat yang kerap memiliki pengetahuan minim soal peradaban Timur sehingga membuat asumsi-asumsi atas peradaban di luar Barat. Kerap kali, mereka menganggap peradaban Timur penuh dengan hal-hal misterius, kelompok-kelompok barbarian, dan lingkungan yang tidak ramah.

Cara pandang macam gini akhirnya secara nggak sadar terbawa ke masa kini – mempengaruhi cara Barat menghasilkan produk-produk budaya semacam film, serial, hingga novel. Contoh karya populer yang paling sering disebut menunjukkan pengaruh orientalisme adalah Aladdin.

Hmm, jadi, wajarlah kalau, misalnya, Joel Miller yang merupakan salah satu karakter utama The Last of Us jadi nggak tahu di mana Jakarta berlokasi. Lagipula, bukan rahasia lagi kok kalau orang-orang Amerika buruk dalam pelajaran geografi. Hehe. ✌🏼️👀 (A43)

Baca juga :  Israel, "Kiamat" bagi Amerika?

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Mengapa Kaesang Ngebet ke Anies?

Meski Anies Baswedan tampak menghindar dari wacana dipasangkan dengan Kaesang, putra bungsu Jokowi itu tampak tetap tertarik. Mengapa?

Saatnya Sandiaga Comeback ke DKI?

Nama Sandiaga Uno kembali muncul dalam bursa Pilkada DKI Jakarta 2024. Diusulkan oleh PAN, apakah ini saatnya Sandiaga comeback ke DKI?

Israel, “Kiamat” bagi Amerika?

Israel diecam dunia atas serangan udara yang telan banyak korban sipil di Rafah, Gaza. Mengapa ini bisa jadi “kiamat” bagi Amerika Serikat (AS)?