HomeCelotehHaruskah Luhut Belajar ke Trump?

Haruskah Luhut Belajar ke Trump?

Kecil Besar

“Semua kebijakan dapat diukur dengan keadilan” – Aristoteles, Filsuf Yunani


PinterPolitik.com

Kadang kala, memang kita perlu pakai logika perbandingan deh, cuy – bahkan terhadap pihak yang kurang kita suka. Benar nggak? Tentu saja iya, biar buat motivasi sih, seperti dengan membandingkan kerja keras kita dengan kekasih si mantan. Meski menjengkelkan dan sakit, itu bisa sekadar buat pemacu saja sih.

Nah, barangkali logika seperti itu yang ada di benak Pak Fadli Zon saat berkomentar mengenai tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang baru datang ke Indonesia. Fadli bertanya-tanya kenapa pemerintah kita justru malah membuka akses buat TKA asing. Padahal, tenaga kerja kita sendiri lagi kelabakan di tengah pandemi ini.

Dengan gaya khasnya yang ‘melete’ atau kelewat percaya diri, Pak Fadli Zon lempar sindirAn begini, cuy, “(Presiden AS) Trump membatasi pekerja asing agar pekerja AS tidak menganggur. RI mendatangkan pekerja RRT sementara banyak orang Indonesia masih menganggur. Lebih nasionalis mana?”

Ya, mimin sih sepakat sama beliau kok, soalnya memang banyak kejanggalan dalam hal ini. Contoh saja, sebenarnya kan, kalau toh memang pemerintah sudah nggak bisa menahan untuk membuka akses bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia, jadwal kedatangan mereka bukan di bulan Juni, tapi bulan Juli.

Itu jadwal yang dibilang sama Pak Luhut kok, jadi mimin nggak ngada-ngada. Kenapa jadwal ini penting? Sebab kalian tahu kan, cuy, itu juga menjadi biang kerok kemarahan para demonstran yang menggeruduk Bandara Haluole Kendari.Bahkan, aksi ini sampai berujung bentrok karena mereka merasa ditipu oleh aparat di bandara yang ternyata mengangkut TKA Tiongkok via pintu belakang. Duh duh duh, ini kok jadi bentrok antar anak negeri hanya gegara TKA sih?

Lagian nih, gengs, dengan enteng, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah menyebut kalau TKA ini didatangkan supaya bisa terjadi transfer of knowledge antara mereka dengan tenaga lokal. Hmm, tapi nih, di tengahmusim pandemi begini, Menaker mungkin juga perlu tuh mempertimbangkan kebutuhan tenaga lokal terhadap pendapatan ekonomi.

Apa jangan-jangan masih terkait investasi ya? Uppss. Soalnya nih, seingat mimin, Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly pernah bahas soal kedatangan TKA Tiongkok beberapa bulan lalu lho. Kata beliau, kedatangan mereka sempat dibahas oleh beberapa pejabat, seperti Menko Marves Luhut, Menaker Ida, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Lagi pula, kalau memang pemerintah Indonesia ada keinginan untuk membatasi kedatangan TKA dari Tiongkok, pasti akan memerintahkan kedutaan besar Indonesia di Tiongkok agar tidak mengeluarkan izin atau visa. Tapi kalau ternyata kejadiannya seperti ini, berarti kan pemerintah Indonesia memang belum ada keinginan untuk menghentikan kedatangan mereka.

Hmm, emangnya nggak mau kah Indonesia meniru ketegasan Trump buat melindungi kesehatan dan ekonomi tenaga lokal? Mimin tahu Trump sangat menjengkelkan tetapi namanya manusia pasti kadang ada benarnya, cuy. Semoga pemerintah terbuka hatinya ya, buat mencontoh kebijakan AS untuk ketahanan pekerja Indonesia. Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Megawati Sukses “Kontrol” Jokowi?

“Extraordinary claims require extraordinary evidence” – Carl Edward Sagan, astronom asal Amerika Serikat (AS) PinterPolitik.com Gengs, mimin mau berlagak bijak sebentar boleh, ya? Hehe. Kali ini, mimin mau berbagi pencerahan tentang...

Arief Poyuono ‘Tantang’ Erick Thohir?

“Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata” – Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN PinterPolitik.com Gengs, kalian...

Sri Mulyani ‘Tiru’ Soekarno?

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” – Soekarno, Proklamator Indonesia PinterPolitik.com Tahukah kalian, apa yang menyebabkan Indonesia selalu...