HomeCelotehFahri Hamzah Curigai Demokrat-PKS

Fahri Hamzah Curigai Demokrat-PKS

Kecil Besar

“Kalau parpol Senayan mau menolak UU seluruhnya, tolak RUU sejak awal seluruhnya. Menolak di ujung setelah ikut membahas ribuan pasal dan menyetujuinya satu persatu sama juga bohong. Sebagai rakyat kita patut kritis terhadap mereka (Demokrat dan PKS) dong”. – Fahri Hamzah, Waketum Partai Gelora


PinterPolitik.com

Nama Fahri Hamzah memang masih menjadi salah satu magnet pemberitaan nasional. Sekalipun tak lagi menjabat sebagai anggota DPR karena memutuskan keluar dari PKS dan kemudian mendirikan Partai Gelora, setiap komentar Fahri masih jadi perhatian publik.

Nah, salah satunya mungkin publik menanti komentar Fahri terkait UU Cipta Kerja yang baru disahkan oleh DPR. Banyak penggemar Fahri yang sepertinya berharap Wakil Ketua Umum Partai Gelora itu seperti biasa akan berada di seberang pemerintah dan DPR. Sayangnya, kayaknya kalian harus gigit jari deh.

Soalnya, alih-alih mengkritik pemerintah, Fahri justru menunjuk dua partai yang menolak UU Cipta Kerja dan mengkritiknya. Ya, dua partai itu adalah Partai Demokrat dan PKS – mantan partai Fahri.

Menurutnya, motif politik PKS dan Demokrat perlu dicurigai. Soalnya, dua partai tersebut baru di akhir-akhir mengungkapkan ketidaksetujuannya setelah pembahasaan pasal-pasal yang ada dalam Undang-Undang tersebut. Ia menyebut bahwa jika pasal-pasal yang dibahas sudah disetujui di awal, tapi kemudian tidak disetujui lagi saat Rapat Paripurna, maka itu sama saja dengan berbohong.

Ibaratnya kayak orang yang pacaran, terus udah berkomitmen untuk merencanakan pernikahan. Tapi, setelah nabung dan merencanakan semuanya, eh jelang hari pernikahannya tiba-tiba si ceweknya membatalkan karena mantan pacarnya pengen balikan. Uppps.

Udah pasti nyesek banget rasanya kan. Ini bukan curhat loh ya, sekedar sharing pengelaman tetangga ruang kerja. Uppps. Hehehe.

Baca juga :  Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Hmm, masuk akal sih yang dibilang oleh Fahri. Karena pasti masyarakat akan menaruh rasa curiga pada Demokrat dan PKS – sekalipun harus dibilang bahwa startegi yang dimainkan oleh dua partai tersebut bisa dibilang cerdik.

Mereka bisa memanfaatkan momentum untuk mendapatkan simpati masyarakat. Kalau momentumnya bisa terus dijaga, maka hasilnya akan bisa disaksikan pada Pemilu 2024 mendatang, atau bahkan yang dekat-dekat pada Pilkada 2020 ini.

Well, yang jelas buat para penggemar yang berharap Bang Fahri tetap keras pada pemerintah sepertinya bakal gigit jari terus ke depannya, soalnya roman-romannya doi bakal ada di garis kebijakan yang segaris dengan pemerintah terus. Maklumlah, ada partai baru soalnya. Uppps.

Tapi, apa yang dibilang Fahri tetap harus jadi perhatian sih. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.