HomeCelotehBerat Jika Anies Pilih Aher?

Berat Jika Anies Pilih Aher?

Kecil Besar

Perebutan posisi bakal calon wakil presiden (cawapres) untuk Anies Baswedan di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 antara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ahmad Heryawan (Aher) semakin ketat. Bahkan, kode-kode mulai dilontarkan Anies untuk Aher. Namun, apakah Aher adalah pilihan yang tepat untuk strategi memenangkan Pilpres 2024?


PinterPolitik.com

“If you expect disappointment, then you can never really be disappointed” – Michelle “MJ” Jones-Watson, Spider-Man: No Way Home (2022)

Pernah nggak sih kalian merasa ketemu dia yang kalian ngerasa cocok banget? Bahkan, terkadang, kita pun bisa merasa bahwa dialah the one yang selama ini dicari-cari sepanjang hidup.

Saat berseluncur di aplikasi pencari jodoh (dating apps), misalnya, tidak jarang kita menemukan orang yang asyik untuk diajak chatting hingga ngobrol. Apalagi nih, hati bisa dibuat melayang ketika pernyataan flirty sudah dilontarkan dua belah pihak.

Namun, ternyata, eh, ternyata, keesokan harinya dia hilang tanpa kabar. Chat yang kita kirim pun tidak kunjung dibalas. “Pertanda bakal di-ghosting nih,” ucap batin dalam hati. 

Biasanya sih, pertanda-pertanda ghosting seperti ini tidak hanya sekali dua kali saja lho di dunia dating apps. Makanya, kadang kudhu siap mental juga sih dan nggak meletakkan harapan lebih ke seseorang yang kita temui di aplikasi-aplikasi seperti Tinder dan Bumble.

Nah, prinsip serupa perlu juga diterapkan nih dalam politik. Kan, kita tahu sendiri kalau tidak ada yang pasti dalam perpolitikan Indonesia. Orang-orang sih sering bilang gini, “Tidak ada teman abadi di politik.”

Boleh jadi, upaya untuk tidak meletakkan harapan lebih ini perlu diterapkan oleh Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Ahmad Heryawan (Aher). Kabarnya, Pak Aher ini lagi dekat-dekatnya nih dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang digadang-gadang akan menjadi calon presiden (capres) oleh Partai NasDem pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon

Saking asyiknya nih kedekatan mereka berdua, Pak Anies dan Pak Aher ini sampai saling berbalas pantun lho. Kode-kode “flirty” dari masing-masing pihak pun udah dilontarkan. 

Dipuji Anies Baswedan Siapa Ahmad Heryawan Aher

Ciyee. Kapan nih jadiannya? Kapan Pak Aher dari PKS bisa jadi calon wakil presidennya (cawapres) Pak Anies nih?

Tapi nih, dengar-dengarnya nih, ada bocoran dari beberapa sumber yang bilang kalau Pak Anies sebenarnya nggak pengen memilih Pak Aher sebagai cawapresnya. Katanya sih, kalau Pak Anies memilih Pak Aher, bisa-bisa Pak Anies dianggap terlalu konservatif tuh.

Waduh, nanti sakit hati dong Pak Aher. Kan, Pak Aher sudah berekspektasi banyak sama Pak Anies. Huhuhu, masa Pak Anies tega meninggalkan segala “kemesraan” ini?

Hmm, tapi nih, sebenarnya masuk akal kok kalau misal bocoran tersebut benar adanya. Soalnya nih, citra kandidat (candidate image) adalah salah satu faktor yang paling menentukan menang atau tidaknya kandidat tersebut dalam kontestasi elektoral.

Mengacu pada penjelasan Benjamin R. Warner dan Mary C. Banwart dalam tulisan mereka yang berjudul A Multifactor Approach to Candidate Image, ada beberapa faktor yang bisa digunakan untuk mengamati citra seorang kandidat politik, yakni: karakter, kecerdasan (intelligence), kepemimpinan (leadership), kebajikan (benevolence), homofilia (homophily), dan daya tarik (charm).

Nah, dari enam faktor itu, salah satu faktor yang menarik untuk dibahas adalah homofilia – kecenderungan seseorang untuk memilih orang lain yang memiliki karakteristik dan nilai yang sama. 

Sudah jadi rahasia umum bahwa Pak Anies sendiri erat dikaitkan dengan nilai yang dimiliki oleh kelompok-kelompok konservatif – membuat Pak Anies semakin tidak menarik bagi kelompok-kelompok lain yang bertentangan.

Ya, mau nggak mau, kalau nggak cocok, Pak Anies tentunya nggak bakal pilih Pak Aher dong. Hmm, alangkah baiknya, Pak Aher dan PKS perlu menjaga ekspektasi mereka – supaya tidak sakit hati kalau tiba saatnya Pak Anies lebih memilih orang lain. ☹ (A43)

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Yenny “Jomblo”, Diperebutkan Jokowi-Prabowo

“Kamu kejam buat mereka terlihat jahat. Mereka keji membuat kamu terlihat jijik. Atau kalian berdua yang kejam dan keji karena tidak mau jujur melihat...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Jokowi Ditagih Buruh

"Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh." ~Munir PinterPolitik.com Tiap hari bersimbah peluh dan menahan keluh, buruh hanyalah golongan pesuruh dengan upah...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?