HomeCelotehBerani Tito Pecat Anies Baswedan?

Berani Tito Pecat Anies Baswedan?

Kecil Besar

“Saya sampaikan kepada gubernur, bupati, dan wali kota untuk mengindahkan instruksi ini karena ada risiko menurut UU. Kalau UU dilanggar dapat dilakukan pemberhentian”. – Mendagri Tito Karnavian


PinterPolitik.com

Persoalan penegakan protokol kesehatan emang lagi jadi sentral isu yang diberitakan beberapa hari terakhir. Ya, tentu saja ini akibat kepulangan pentolan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab kembali ke Indonesia.

Pasalnya, gara-gara keramaian yang ditimbulkan oleh massa pendukung dan simpatisan doi, terabaikanlah protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Kerumunan masyarakat terjadi sejak penjemputannya di Bandara Soekarno Hatta, kemudian saat acara pernikahan putri doi, hingga peringatan Maulid Nabi dan beberapa acara lainnya.

Akibatnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang kena getahnya. Sebagai pemimpin ibukota, Anies dinilai tidak tegas menegakkan protokol kesehatan. Konteksnya jadi makin politis karena Anies cukup dekat dengan Rizieq dan malah sempat bertemu dengannya pasca kepulangannya ke Indonesia.

Nah, untuk mencegah hal ini terulang kembali, Menteri Dalam Negeri alias Mendagri Tito Karnavian sebagai bagian dari pemerintah pusat yang punya relasi ke daerah, mengambil langkah taktis nan dramatis. Eaa eaa. Hehehe.

Nggak tanggung-tanggung cuy, Tito mengeluarkan instruksi kepada kepala daerah yang isinya meminta para kepala daerah itu – baik gubernur, bupati maupun wali kota – agar tegas dalam menegakkan protokol kesehatan.

Lebih seremnya lagi, ada ancaman pemecatan alias pencopotan loh yang disampaikan oleh Tito jika para kepala daerah itu tak patuh. Tito menyebutkan bahwa hal ini diatur dalam UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Wih, sadis nih. Hmm, tapi emang berani nih Pak Tito nyopot-nyopotin kepala daerah jika bandel? Di Jakarta misalnya, emang berani Pak Tito copot Pak Anies dari pucuk kekuasaannya? Bakal pada berantem orang-orang kalau hal itu terjadi.

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Yang jelas, instruksi yang dikeluarkan Tito tersebut menunjukkan bahwa posisi doi di kabinet Presiden Jokowi nggak main-main kuasanya. Ibaratnya kayak Marcus Vipsanius Agrippa yang jadi tangan kanannya Caesar Augustus di era Romawi dulu, atau kayak Gadjah Mada yang jadi mahapatihnya Hayam Wuruk di era Kerajaan Majapahit dulu. Kuasanya besar cuy.

Hmm, menarik nih untuk ditunggu. Akankah Pak Tito berani mencopot kepala daerah beneran, atau ini hanya jadi ancaman kosong semata? Uppps. (S13)


Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Dengan Fredrich?

Setelah ditangkap KPK atas tuduhan menghalangan penyidikan, Fredrich Yunadi ternyata belum kapok. Ia berkoar sana sini, bahkan sampai mengajak boikot KPK segala. Ada apa...

Keluarga Fahri ‘Terlatih’?

“Dengan modal keberanian dan teror saja, tak banyak yang bisa dicapai dalam kehidupan modern begini.” ~ Pramoedya Ananta Toer PinterPolitik.com Sempat disebut sebagai politikus independen, Wakil...

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.