HomeCelotehBeda Jokowi-Risma Soal Masker

Beda Jokowi-Risma Soal Masker

Kecil Besar

“Stackin’ my bands all the way to the top” – Lil Uzi Vert, penyanyi rap asal Amerika Serikat


PinterPolitik.com

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengumumkan bahwa beberapa warga negara Indonesia (WNI) telah secara positif terjangkit oleh virus Corona (Covid-19). Kabar ini tentunya membuat sebagian masyarakat merasa khawatir akan ancaman penularan.

Sontak, banyak warga langsung menyerbu apotek dan toko-toko swalayan guna membeli beberapa kebutuhan, seperti cairan antiseptik, hand sanitizer, dan masker. Akibatnya, harga barang-barang tersebut menjulang tinggi hingga delapan kali lebih mahal dari harga normal lho.

Menanggapi sikap panik masyarakat tersebut, Presiden Jokowi akhirnya berupaya meyakinkan publik bahwa stok masker di dalam negeri masih cukup, yakni sekitar 50 juta. Selain itu, pemerintah pusat juga berusaha untuk memberi tahu masyarakat bahwa publik tidak perlu berbelanja secara berlebihan.

Selain itu, Pak Jokowi juga ingin menindak tegas para penimbun masker tuh. Beberapa waktu lalu, beliau menjelaskan bahwa dirinya telah memberi instruksi kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Idham Aziz agar menindak para pelaku penimbunan.

Eh, tapi, sepertinya udah ada yang mengaku tuh kalau sejak beberapa waktu lalu menimbun masker. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) menjelaskan bahwa pemerintahannya telah menimbun masker sejak bulan Januari ketika virus ini mulai ramai dibicarakan di negara-negara lain.

Waduh, bagaimana tuh? Bu Risma sepertinya memiliki sikap yang berbeda nih dengan imbauan dan instruksi Pak Jokowi. Pak Presiden kan udah bilang kalau penimbunan nggak perlu dilakukan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga udah bilang tuh kalau penimbunan masker itu hukumnya haram lho, apalagi bila penimbunan tersebut bertujuan untuk meraup untung sendiri.

Eits, tapi, tenang aja. Wali Kota Surabaya tersebut kayaknya belum tentu melakukan itu buat meraup untung. Kata Bu Risma, Pemerintah Kota Surabaya akan membagikan masker itu kepada masyarakat bila diperlukan.

Selain itu, Bu Risma juga udah nyiapin beberapa hand sanitizer untuk disebar di beberapa titik di Kota Surabaya. Beliau juga menyediakan tes virus Corona secara gratis di Universitas Airlangga (UNAIR) bagi warga Surabaya.

Hmm. Ya, mungkin, maksud Bu Risma baik nih dalam upayanya untuk menimbun masker. Boleh jadi, beliau ingin agar warga Surabaya merasa aman dari ancaman virus Corona ini.

Apalagi, pemerintah pusat hingga kini masih diragukan tuh kesiapannya dalam menangani penyebaran penyakit satu ini. Mungkin, daripada bercanda, pemerintah pusat bisa koordinasi juga tuh agar masyarakat tidak panik lagi. (A43)

View this post on Instagram

Angka kekerasan terhadap perempuan terus meningkat setiap tahun, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Saat ini Indonesia bahkan telah ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual menurut laporan dari Komnas Perempuan. Nyatanya, ada persoalan ketidakseimbangan relasi kuasa antara prempuan dan laki-laki di Indonesia yang menjadi salah satu akar persoalan ini. Ini juga terjadi akibat budaya dominasi laki-laki yang sangat kuat. ⠀ ⠀ Temukan selengkapnya di Talk Show: “Dominasi dan Legacy Male Power terhadap Wanita Indonesia, Kenapa? Dari Mana? Masih Perlu?”⠀ ⠀ Tiket dapat dibeli di: https://www.loket.com/event/dialectic_xFg⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik #event #talkshow

A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik) on

► Ingin lihat video-video menarik? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?