HomeCelotehBaliho, Senjata Makan Puan?

Baliho, Senjata Makan Puan?

Kecil Besar

Baliho yang bergambar Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani dikomentari oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Fadli Zon karena dianggap mengandung kata-kata yang kurang tepat. Apakah baliho ini menjadi semacam senjata makan Puan?


PinterPolitik.com

Kalian pernah nggak punya teman yang jago banget dalam mata pelajaran bahasa โ€“ entah itu Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris? Biasanya tuh, ada satu atau dua anak di kelasa yang emang pintar banget kalau soal bahasa.

Aku punya pengalaman nih kala masih berstatus siswa di salah satu SMA di Kota Surabaya. Itu lho. Kalau kalian nggak tahu itu sekolah yang dulu jadi tempat belajarnya si Jerome Polin. Ceilah, sok bangga. Haha.

Dulu, pas jam pelajaran Bahasa Indonesia, guruku menuliskan sebuah kalimat di papan tulis. Setelah itu, guruku โ€“ sebut aja saja namanya Bu Indah โ€“ bilang, โ€œAyo, siapa yang bisa membuat kalimat ini jadi kalimat yang baik dan benar?โ€

Satu per satu teman sekelasku pun maju dan tidak ada yang bisa menemukan letak kesalahannya di mana. Habis itu, giliranku akhirnya tiba. Inilah the moment of truthgaes. Aku pun hanya meletakkan satu titik di akhir kalimat dan Bu Indah langsung berujar, โ€œYa, benar!โ€

Bangga lah aku jadinya. Haha. Di saat teman-temanku jauh lebih jago di mata-mata pelajaran sulit seperti matematika, fisika, dan kimia, aku ternyata pintar juga kalau soal bahasa. Upssnggak boleh ya takabur itu, gaes.

Aku jadi ingat dengan salah satu karakter yang ada di seri komedi Modern Family (2009-2020), yakni Alex Dunphy. Alex yang merupakan anak kedua dari Phil dan Claire Dunphy ini emang dikenal pintar banget sih.

Dalam suatu obrolan keluarga, Luke Dunphy โ€“ adik Alex โ€“ menggunakan kata โ€œvandalizerโ€ untuk menyebut para pelaku aksi vandalism. Alex kemudan nyelatuk dan bilang kalau yang benar adalah โ€œvandalโ€.

Baca Juga: Baliho Puan, Strategi Mumpuni?

Ekspansi Baliho Puan Maharani

Nah, mungkin, di Indonesia, ada juga sosok politikus yang bisa relate ke sosok Alex Dunphy ini, yakni Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Fadli Zon. Gimana nggak? Baru-baru ini, Pak Fadli ini mengomentari penggunaan kata-kata yang ada di baliho Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani yang sekarang ini lagi terpasang di berbagai kota besar.

Kata Pak Fadli, baliho Puan memiliki kesalahan penulisan tuh. Seperti yang banyak diketahui, baliho Puan sebagian besar bertuliskan, โ€œKepak Sayap Kebhinnekaan.โ€ Nah, padahal tuh, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata yang benar bukan โ€œkebhinnekaanโ€, melainkan โ€œkebinekaanโ€.

Selain itu, kata โ€œkebinekaanโ€ sendiri memiliki makna sebagai perbedaan. Jadi, kalau diartikan secara harfiah, baliho Mbak Puan ini semacam mendukung perbedaannya, bukan persatuannya.

Emah nih Pak Fadli ini bisa dibilang cocok kalau jadi grammar Nazi โ€“ istilah yang digunakan untuk menyebut mereka yang suka mengomentari dan mengkritik grammar orang lain. Buktinya, dulu waktu Prabowo Subianto tidak mengerti istilah โ€œunicornโ€ saat bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Debat Capres 2019, Pak Fadli justru menyalahkan pelafalannya Pak Jokowi yang dianggap lebih terdengar seperti โ€œyu-ni-konโ€ daripada /หˆyoอžonษ™หŒkรดrn/.

Ya, terlepas dari Pak Fadli ini jadi grammar Nazi atau bukan, balihonya Mbak Puan ini sepertinya perlu dikoreksi. Soalnya, gimana pun, agar pesan yang dimaksud bisa tersampaikan dalam sebuah komunikasi, bahasa yang baik dan benar itu juga diperlukan lhoยญ โ€“ supaya nggak malah jadi semacam senjata makan Puan gini.

Begitu tuh kaya guru Bahasa Indonesia-ku. Hmm, aku jadi bertanya-tanya nih. Mbak Puan dulu waktu masih duduk di bangku sekolah mendengarkan nggak ya pas diajar sama guru Bahasa Indonesia-nya? Apa perlu nih Mbak Puan dibantu sama editor-editor-nya PinterPolitik.comHehe. (A43)

Baca Juga: Jika Aku Menjadi Puan


โ–บ Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor โ€˜Recehโ€™ Jokowi

โ€œSelera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.โ€ PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono โ€˜Si Pengguncangโ€™ Dunia

โ€œBeri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.โ€ ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

โ€œKamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kitaโ€. โ€“ Odysseus, dalam film โ€œTroyโ€ PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

Maโ€™ruf Amin yang Dirindukan

โ€œI miss you, I miss youโ€ โ€“ blink-182, grup band pop-punk asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Tahun 2020 baru saja dimulai dengan memasuki awal bulan Januari. Namun,...

Prabowo vs Maโ€™ruf โ€˜Panaskanโ€™ Tangsel

โ€œRobek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putihโ€ โ€“ Jenderal Soedirman, Jenderal Revolusi Indonesia PinterPolitik.com Adakah di sini yang nge-fans sama Cristiano Ronaldo...

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

More Stories

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan โ€˜Centil-ismeโ€™

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?