HomeBelajar PolitikKemenangan Macron, Kemenangan Persatuan

Kemenangan Macron, Kemenangan Persatuan

Kemenangan Kandidat Presiden Emmanuel Macron pada Pemilu Perancis tanggal 7 Mei kemarin sedang menjadi topik pembicaraan hangat dunia saat ini. Ia sukses menjadi presiden termuda di Perancis, yaitu dalam usia yang belum lagi genap 40 tahun, mengalahkan para pesaingnya yang bahkan lebih tua darinya. Siapakah Macron dan bagaimana ia dapat memenangkan ‘pertempuran’ menuju Istana Élysée? Marilah kita cari tahu.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]P[/dropcap]emilu Perancis telah mencapai puncaknya pada tanggal 7 Mei kemarin, yaitu dengan kemenangan Emmanuel Macron melawan Marienne Le Pen, 65,8 persen berbanding 34,2 persen. Ia dianggap sebagai pemersatu Perancis serta Eropa dengan sudut pandangnya yang tidak biasa, yaitu France Renewal, konsep baru yang diharapkan membawa perubahan serta persatuan di Eropa. Siapakah sosok Macron ini? Marilah kita cari tahu.

Macron, Kehidupan Pribadinya yang Unik

Macron adalah seorang politikus Perancis yang lahir hampir 40 tahun lalu dari orang tua yang berprofesi sebagai dokter, Jean-Michel Macron, seorang dokter kepala di CHU Amiens dan profesor neurologi, dengan spesialisasi pada gangguan tidur dan epilepsi pada Universitas Picardy, dan Françoise Noguès-Macron, seorang dokter dan konsultan kesehatan di Caisse Primaire d’Assurance Maladie d’Amiens. Ia mempunyai seorang adik laki-laki bernama Laurent Macron, yang juga berprofesi sebagai seorang dokter radiologi di Perancis dan seorang adik perempuan bernama Estelle yang berprofesi sebagai ahli ginjal di Kota Toulouse.

Kehidupan Macron dapat dikatakan jauh dari keluarganya yang memang tidak menganut agama Katolik, sementara ia sendiri menganut agama Katolik sejak berusia 12 tahun. Perbedaan ini terjadi karena Macron sejak umur 5 tahun sudah tinggal bersama nenek dari ibunya, almarhumah Germaine Noguès, seorang mantan guru sekolah SMP di Amiens,  yang biasanya dipanggilnya Manette. Tersebutlah dari Manette ini, Macron mendapat banyak pelajaran hidup yaitu bahwa pendidikan, selalu belajar, dan membaca itu penting untuk masa depan. Hal ini membuat Macron begitu berbeda dan terpisah dari keluarganya yang sebagian besar menjadi dokter dan cenderung tertutup. Macron justru menjadi pribadi yang serius dan berprestasi, kutu buku, namun terbuka serta sangat berminat besar di dalam politik.

Baca juga :  Dunia Akan Dikuasai Xi Jinping?

Diasuh seorang nenek yang memiliki profesi sebagai seorang guru mungkin membawanya untuk mencintai istrinya, Brigitte Macron, yang dahulu adalah guru dramanya saat SMA. Berbeda usia 24 tahun nyatanya tidak menghalangi Macron untuk menikahi gurunya tahun 2007. Pernikahan ini diluar kebiasaan dan norma serta mengalami pertentangan dari keluarganya, baik ayah mertuanya maupun ayahnya sendiri. Meskipun demikian, pernikahan ini nyatanya didukung oleh ibunya dan neneknya yang lebih memilih berada di pihaknya.

Kemenangan Macron
Kisah cinta Macron dan Istrinya Brigitte yang tergolong Unik. (Sumber : Google)

En  Marche! Gerakan Pemersatu Perancis dan Eropa

Kandidat Presiden Perancis Emmanuel Macron menyampaikan pidato kemenangan pada Pemilu Perancis Putaran Pertama di Parc des Expositions Paris, tanggal 23 April 2017. (Sumber : AFP)
Kandidat Presiden Perancis Emmanuel Macron menyampaikan pidato kemenangan pada Pemilu Perancis Putaran Pertama di Parc des Expositions Paris, tanggal 23 April 2017. (Sumber : AFP)
- Advertisement -

Cara pikir Macron yang unik juga membawanya menjadi politikus dengan pikiran berbeda. Pada tahun 2016, ia melepaskan diri dari jabatannya sebagai Menteri Perekonomian, Industri, dan Media Digital dalam pemerintahan François Hollande, jabatan yang telah disandangnya tahun 2014, untuk mempersiapkan diri sebagai presiden tahun 2017. Salah satu alasan kuat pengunduran dirinya ini adalah melihat semakin pecahnya partai kanan dan kiri di Perancis, serta melihat bahwa rakyat sudah tidak sepaham dengan arah politik Perancis yang cenderung ekstrem, seperti pelarangan identitas keagamaan di publik, serta kampanye yang dilancarkan untuk mengusir imigran dari Perancis. Salah satu kampanye ini dilancarkan oleh saingan berat Macron, Marienne Le Pen, yang berasal dari Partai Ekstrem Kanan, Front National.

En Marche! yang berarti bergerak, adalah sesuatu yang diklaim Macron sebagai sebuah gerakan optimis dan bukan bersifat partai. Menurut CNN Indonesia, pada dasarnya, mesin kampanye Macron ini adalah gerakan arus-bawah dengan dukungan ratusan ribu orang di seluruh penjuru Perancis yang kecewa akan politik dan politisi tradisional.

Lanjut CNN, melalui En Marche! membuat Macron bisa mendapatkan suara individu dari partai politik lain, termasuk Sosialis dan Republik. Misalnya adalah mantan Perdana Menteri Manuel Valls (Sosialis) dan Dominique de Villepin (Republik) yang menyatakan dukungannya bahkan sebelum putaran pertama dimulai. Oleh karena itu, gerakan ini disebut dengan gerakan independent centrist atau independen tengah, yang tidak berpihak kanan maupun kiri.

Baca juga :  2024, Prabowo dan Erdoğan Guncang Dunia?

Isi dari gerakan En Marche antara lain:

1. Travail atau bekerja atau belajar untuk memperoleh kebebasan emansipasi pribadi.

2. Liberté atau Kebebasan untuk kebebasan mengisi rasa ingin tahu.

3. Fidelite atau kesetiaan yang berkaitan erat dengan setia pada keluarga, bangsa, dan negara.

4. Keterbukaan, yang memiliki makna bahwa seseorang harus selalu berkembang, namun tetap menjadi diri sendiri.

- Advertisement -

Keempat hal ini-lah yang membawa optimisme pada masyarakat Perancis.

Kemenangan Macron melalui En Marche! juga membawa optimisme di Eropa secara keseluruhan, yaitu bahwa kemenangan Macron membawa Perancis kembali pada konsep awal negara ini terbentuk, yaitu liberté, égalité, fraternité, atau Perancis yang bersaudara, menjunjung kesetaraan dan kebebasan, serta Perancis yang anti-establishment dan berpasar bebas. Kemenangannya juga meyakinkan kembali warga Perancis dan Uni Eropa bahwa  Perancis tidak akan menjadi negara beraliran politik populis seperti layaknya yang terjadi pada Inggris dengan Brexit dan Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Hal ini diharapkan akan membawa angin segar pada pada perpolitikan Eropa yang sedang terpecah belah, yaitu bahwa setiap keputusan Macron akan dapat mempengaruhi Eropa serta pada akhirnya dunia.

Bagaimana dengan kalian, apakah kalian juga melihat kemenangan Macron sebagai harapan baru untuk persatuan Perancis serta Eropa? (Berbagai Sumber/N30)

#Trending Article

Hendro Benar, Purnawirawan TNI Perlu Gabung Parpol

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono mengajak purnawirawan TNI untuk bergabung ke partai politik. Kenapa Hendro menyerukan ajakan yang...

Indonesia Salah Paham Soal Demokrasi?

Banyak yang bilang kualitas demokrasi Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi) kian memburuk. Benarkah anggapan demikian, atau justru kita yang sebenarnya salah memahami demokrasi?

Pilpres 2024: Makin Mahal, Makin Gelap

Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menyimpulkan Pilpres 2024 dengan kalimat, “makin mahal, makin gelap”. Apa maksudnya? PinterPolitik.com Dalam acara diskusi publik...

Pidato G20, Zelensky Terlalu Egois?

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta Rusia untuk menarik seluruh pasukannya di wilayah Ukraina pada kesempatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. Dirinya sempat...

Paspampres Jokowi Diterobos, Sebuah Rekayasa?

Paspampres yang mengawal Presiden Joko Widodo (Jokowi) seolah kebobolan telak setelah seorang wanita dan pria menerobos iring-iringan RI-1 di Bali. Reaksi minor yang muncul...

Diam-Diam Anies Disokong Intelijen?

Kemunculan nama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (BG) untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) Anies Baswedan agaknya memang cukup menarik. Akan tetapi,...

Kenapa FIFA Mudah Dipolitisasi?

Piala Dunia Qatar 2022 diterpa banyak isu. Unsur politik begitu kuat di belakangnya. Mengapa politisasi bisa dengan mudah terjadi di FIFA?

Mampukah Ma’ruf Patahkan Stigma “Ban Serep”?

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin sempat dipertanyakan kehadirannya di Forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.  Layaknya istilah “ban serep”, wapres seringkali dianggap sebagai pembantu...

More Stories

Suka dan Duka Silent Majority Ahok

 The majority?  finally someone is getting up to speak for the majority, ...  And we are not going to be silent any longer -  Deborah Johns PinterPolitik.com Sidang vonis...

Amarah Pendukung Ahok

Tubuh ini boleh dipenjara, tetapi tidak dengan pemikiran  dan kreatifitasku -Basuki Tjahaja Purnama PinterPolitik.com Sidang mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengenai penistaan agama sudah...

Retribusi Makam Gratis demi Keadilan

Life after loss Especially in times of loss, the strength and resiliency of human spirit allows us to open our hearts and souls to...