HomeBelajar PolitikAntara Srikandi dan Srigala

Antara Srikandi dan Srigala

Kecil Besar

Seperti kata Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama”, mungkin kalimat tersebut bisa disematkan ke mereka berdua.


pinterpolitik.comRabu, 4 Januari 2017.

Sri, sebuah nama yang berarti Putri Ayu atau dalam bahasa Sansakerta berarti cantik sehingga nama tersebut banyak digunakan oleh rakyat Indonesia khususnya oleh suku Jawa sebagai nama depan anak perempuannya.

Ada doa yang disisipkan dari nama tersebut agar kelak anaknya bisa berparas cantik dan berperilaku seperti seorang puteri. Walaupun banyak juga yang berperilaku sopan santun seperti nama tersebut, namun ada juga yang berperilaku tidak sesuai dengan arti namanya.

Baru – baru ini ada satu nama “Sri” yang sedang hangat dibicarakan, beliau adalah salah satu perempuan yang sempat masuk Museum Rekor Indonesia sebagai pasangan perempuan pertama yang terpilih dalam Pilkada di Indonesia.

Sri Hartini, begitulah nama lengkapnya. Beliau adalah Bupati Klaten yang juga istri dari mantan Bupati Klaten sebelumnya, yaitu Haryanto Wibowo, yang ditetapkan sebagai tersangka pada kasus proyek pengadaan buku paket tahun ajaran 2003/2004 senilai Rp4,7 miliar.

Setali tiga uang dengan suaminya, Sri Hartini pun terpaksa menggunakan rompi oranye karena terbukti tangkap tangan dalam kasus suap jabatan. Saat ditangkap oleh KPK, Sri sedang bersama anak perempuannya, Dina Permata Sari. Diduga Dina juga memiliki peran penting dalam kasus ini sehingga ia pun ikut ditangkap.

Penyuapan tersebut berhubungan dengan promosi dan mutasi jabatan dalam pengisian perangkat daerah di Kabupaten Klaten. Dalam tangkap tangan, KPK mengamankan uang Rp 2,080 miliar, 5.700 dollar AS, dan 2.035 dollar Singapura yang dibungkus dalam kardus. Selain uang, KPK juga menyita catatan keuangan yang berisi asal uang yang disetorkan.

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?

Lain Sri Hartini, lain pula dengan perempuan yang juga bernama ”Sri” satu ini,

Sri Mulyani Indrawati atau yang biasa dikenal Sri Mulyani. Seorang wanita tangguh yang sempat membuat Indonesia bangga karena kedudukannya di Bank Dunia. Selain itu di tahun 2014, ia disebut juga oleh majalah Forbes sebagai wanita paling berpengaruh di dunia urutan ke-38. Sejak 27 Juli 2016 beliau dipulangkan oleh Jokowi untuk mengisi posisi sebagai Menteri Keuangan di kabinet kerja.

Saat ini Sri Mulyani kembali menunjukan taringnya, dia menendang JP Morgan Chase Bank dari Indonesia. Alasannya, bank investasi asal Amerika Serikat itu membuat riset tentang kondisi perekonomian Indonesia yang dinilai tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

JP Morgan diputus kontraknya usai mengeluarkan rilis menurunkan peringkat surat utang Indonesia sebanyak dua tingkat. Peringkat surat utang Indonesia turun dari overweight menjadi underweight. Sri Mulyani merasa riset yang dikeluarkan JP Morgan Chase Bank dapat mengganggu psikologis investor di Indonesia.

Selain kasus JP Morgan, Sri Mulyani sebelumnya juga sempat mengirimkan “surat cinta”. Surat yang sempat bikin gerah itu ditujukan untuk para wajib pajak agar ikut serta dalam tax amnesty.

Para peserta wajib pajak tax amnesty menyatakan akan membawa harta mereka sebesar Rp 141 triliun kembali ke Indonesia (repatriasi). Namun, hingga akhir Desember 2016, jumlah yang masuk baru Rp 67 triliun. Sri Mulyani bersikeras jika tidak memenuhi komitmen repatriasi maka nantinya akan dianggap sebagai penghasilan tambahan dan dikenakan tarif normal sesuai aturan perpajakan yang berlaku.

Sama – sama bernama Sri, namun beda perilaku. Bisa dikatakan bahwa Sri Mulyani ibarat Srikandi yang menjaga keuangan Indonesia, sementara Sri Hartini seperti seekor ‘Srigala’ yang menghabiskan keuangan Indonesia. (A15)

Baca juga :  Waspada 3 "Kingdoms" of Jokowi?
spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

Bukti Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”

PinterPolitik.com mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke 72 Tahun, mari kita usung kerja bersama untuk memajukan bangsa ini  

Sejarah Mega Korupsi BLBI

KPK kembali membuka kasus BLBI yang merugikan negara sebanyak 640 Triliun Rupiah setelah lama tidak terdengar kabarnya. Lalu, bagaimana sebetulnya awal mula kasus BLBI...

Mempertanyakan Komnas HAM?

Komnas HAM akan berusia 24 tahun pada bulan Juli 2017. Namun, kinerja lembaga ini masih sangat jauh dari harapan. Bahkan desakan untuk membubarkan lembaga...