HomeCelotehSayang Jokowi untuk Erick Thohir

Sayang Jokowi untuk Erick Thohir

Kecil Besar

“Only one of you can ascend to the throne” – Odin, Thor (2011)


PinterPolitik.com

Mungkin, banyak dari kita sadar kalau sebagian besar diskursus di media massa dan media sosial baru-baru ini banyak diisi oleh berita dan kabar yang berkaitan dengan kepulangan dan kegiatan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) dan Persaudaraan Alumni (PA) 212, yakni Habib Rizieq Shihab.

Namun, di tengah ramai isu tersebut, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) tampaknya kembali mengatur ulang formasinya, khususnya dalam hal penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Kabarnya, beberapa waktu lalu Presiden Jokowi mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 108 Tahun 2020 guna mengubah susunan dari Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN).

Dalam Perpres tersebut, Presiden Jokowi menggeser dan menambahkan tugas bagi sejumlah menteri dan pejabat pemerintahan. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), misalnya, mendapatkan tugas sebagai Wakil Ketua I Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19.

Selain Kepala BPOM, Presiden Jokowi juga menempatkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) sebagai Wakil Ketua II Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional. Penempatan posisi-posisi ini bukan tidak mungkin beralasan sih.

BPOM, misalnya, memegang salah satu peran penting dalam pengadaan vaksin Covid-19 – khususnya dalam hal pengujian kelayakan. Selain itu, KADIN dinilai juga penting dalam melaksanakan fungsi pemulihan ekonomi akibat pandemi.

Namun, terlepas dari itu semua, perubahan sejumlah posisi juga terjadi di pucuk kepemimpinan komite tersebut. Erick Thohir yang sudah menjabat sebagai Ketua Tim Pelaksana, misalnya, kini merangkap sebagai Wakil Ketua IV lho.

Hmm, hal yang menarik dari pergantian formasi ini adalah adanya sejumlah posisi yang harus digeser, yakni posisi yang ditempati oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Bu Ani – sapaan akrab Menkeu – yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua IV harus tergeser ke Wakil Ketua V. Sementara, Pak Terawan yang sebelumnya memegang posisi Wakil Ketua V kini harus menjadi Wakil Ketua VI.

Hmm, kok terkesan Pak Jokowi ini ingin menyediakan ruang lebih ya buat Pak Erick? Soalnya nih, seperti yang diketahui publik, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebut-sebut semakin mendapatkan banyak peran lho di pemerintahan – termasuk dalam hal penanganan Covid-19.

Kalau gini ceritanya, mungkin apa yang dialami oleh Pak Erick ini mirip-mirip lah ya dengan yang dialami oleh Thor yang merupakan dewa dalam mitologi Nordik. Thor ini seperti menjadi anak kesayangan bagi Raja Asgardia Odin.

Alhasil, Odin ini lebih mempercayakan banyak tugas dan urusan pada Thor lho. Dengan nasib yang berbeda dari Thor, Loki yang juga menjadi anak dari Odin malah tidak banyak diberi kepercayaan oleh Odin.

Wah, kalau gitu, apakah mungkin nih Pak Terawan dan Bu Ani jadi semacam Loki? Kan, posisi-posisi mereka yang akhirnya digeser oleh Pak Jokowi untuk menyediakan ruang buat Pak Erick. Hehe.

Ya, mungkin, seperti Odin dan Thor, Pak Jokowi ini ingin memberikan ujian yang lebih kepada Pak Erick sih – guna menguji kepantasan dan kemampuannya. Apalagi nih, seperti yang banyak dibilang dan disindir oleh politisi-politisi PDIP, Pak Menteri BUMN kan digadang-gadang untuk maju tuh oleh Pak Jokowi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Hehe.

Lagipula, nggak cuma PDIP kok yang menangkap sinyal tersebut. Sejumlah media asing – seperti The Straits Times – menyebutkan bahwa Pak Erick ini merupakan salah satu politikus yang perlu diperhatikan lho langkah-langkahnya ke depan.

Baca juga :  The One-Man Band

Ya, terlepas dari itu, kancah politik 2024 sebenarnya juga masih jauh untuk diprediksi secara dini. Mari kita nantikan sajalah hasil audisi dan ujian dari Pak Jokowi ini. Hehe. (A43)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Sandi Galau Jokowi Makin Sakti

“Berikan tubuhmu sebanyak mungkin nutrisi supaya kuat, sehat dan bertenaga. Jika tubuh sudah kuat, sehat dan bertenaga, maka silahkan lanjutkan perlawanannya.” PinterPolitk.com Sandiaga Salahuddin Uno menyambut...

Pemimpin Idaman Versi Jokowi-Sandi

"Cita-cita demokrasi kita lebih luas, tidak saja demokrasi politik, melainkan juga demokrasi ekonomi. ~Bung Hatta PinterPolitik.com Dalam acara deklarasi dukungan dari alumni sejumlah kampus beberapa waktu...

Esemka, Mobil Dinas Baru Jokowi?

“Karakter bukan diajarkan lewat teori dan wejangan. Karakter diajarkan pakai teladan, dengan contoh nyata”. – Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta PinterPolitik.com Ada waktu untuk tertawa, ada...

Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar Pinterpolitik.com Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri...

Anas Urbaningrum Segera Tantang SBY?

Baliho Anas Urbaningrum tiba-tiba terpasang di dekat Cikeas. Apakah mungkin Anas segera tantang SBY selepas bebas dari penjara?

More Stories

Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Seorang mahasiswi kedokteran memukau publik di panggung debat nasional. Mengapa cara bicaranya yang tenang justru terasa begitu radikal? 

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?