HomeNalar PolitikBila Luhut Bermimpi Punya Nuklir

Bila Luhut Bermimpi Punya Nuklir

Kecil Besar

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) – seperti Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan – dalam berbagai kesempatan menyebutkan bahwa ekonomi hijau perlu diterapkan di Indonesia guna mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Mungkinkah energi nuklir termasuk dalam mimpi tersebut?


PinterPolitik.com

Pengembangan teknologi reaktor nuklir saat ini tidak lagi dianggap sebagai ‘embusan angin’ yang hanya melintas dalam sekejap. Ide tersebut sudah mulai dipertimbangkan untuk mengantisipasi fenomena perubahan iklim dan untuk memenuhi kebutuhan energi. Para peneliti dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) bahkan terus melakukan kajian untuk memastikan keamanan nuklir jika digunakan di Indonesia.

Ide untuk mengoptimalkan energi nuklir ini sebenarnya sudah beberapa kali dikemukakan oleh berbagai pihak. Seperti pada tahun 2020 lalu, saat mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan bahwa energi nuklir bisa menjadi solusi untuk mencapai target energi baru terbarukan (EBT) pada tahun 2050 yang mencapai 31 persen.

Maka, energi nuklir dinilai mampu menjadi solusi untuk memenuhi target tersebut. Bambang menilai bahwa keunggulan nuklir yang mampu mengalirkan listrik dengan optimal seperti satu unit Pembangkit Tenaga Nuklir (PLTN) yang bisa menyalurkan listrik hingga 1,6 juta rumah. Tidak hanya itu, di sisi lain penggunaan PLTN ternyata bisa mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 9 juta ton per tahun atau setara dengan pengurangan emisi dari 2 juta mobil.

Meski memiliki potensi yang luar biasa namun kondisi geografis Indonesia yang kerap dilanda gempa bumi menjadi hambatan untuk membangun PLTN. Hal inilah yang menyebabkan adanya berbagai upaya untuk memanfaatkan sumber energi lainnya seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) pada tahun 2025 mendatang.

Melihat potensi penggunaan energi nuklir yang berpotensi masih menjadi opsi terakhir sebagai energi terbarukan, maka upaya lain yang untuk mendorong energi terbarukan yakni dengan menargetkan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) roda dua pada tahun 2025 mendatang. Hal ini juga sebagai wujud tekad Indonesia untuk menghentikan penggunaan minyak fosil.

Realisasi Ekonomi Hijau

Upaya untuk menghentikan penggunaan energi batu bara ternyata merupakan salah satu tujuan dari pemerintah. Hal ini pernah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan bahwa Indonesia tengah mengembangkan kawasan industri hijau terbesar di Kalimantan Utara.

Tujuannya ialah untuk mengembangkan energi terbarukan yang bermanfaat untuk ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Hal tersebut bahkan kembali dikemukakan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan yang berisikan gagasan bahwa negara-negara yang ingin berinvestasi di Indonesia harus ramah terhadap lingkungan, merealisasikan transfer knowledge, transfer teknologi – intinya harus memberikan nilai tambah bagi Indonesia.

Baca juga :  Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Menurut David William Pearce dalam bukunya yang berjudul Blueprint for a Green Economy, dijelaskan bahwa upaya tersebut juga bertujuan untuk membuat sebuah lompatan besar untuk menggerakkan perekonomian dalam jangka panjang dengan menghindari eksploitasi sumber daya alam. Maka, implementasinya dengan mengoptimalkan penerapan mobil listrik di Indonesia mulai pada tahun 2025.

Untuk mencapai target tersebut pemerintah semakin masif untuk menarik investor luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia. Bahkan saat ini, perusahaan-perusahaan mobil asal luar negeri sudah mulai berinvestasi untuk memproduksi mobil listrik. Mulai dari Hyundai hingga Toyota sudah melihat adanya peluang ini.

Tercatat, bahwa Hyundai berencana untuk berinvestasi sebesar USD7,4 miliar atau sekitar Rp 103,6 triliun hingga tahun 2025. Hal ini dilakukan untuk mendukung teknologi mobilitas masa depan. Sementara, Toyota berencana akan memproduksi 15 mobil listrik pada tahun 2025. Kondisi ini memperlihatkan keseriusan untuk merealisasikan ekonomi hijau khususnya di Indonesia.

Tidak hanya itu, upaya untuk mengedepankan penggunaan energi terbarukan seperti mengoptimalkan mobil listrik merupakan wujud dari penerapan teori hijau. Patterson menilai bahwa teori hijau merupakan sebuah perspektif yang memandang bahwa kerusakan lingkungan terjadi karena adanya pertumbuhan ekonomi yang eksponensial. Selain itu Green Theory dalam Hubungan Internasional juga mengemukakan bahwa keseimbangan ekologi berkontribusi besar untuk melindungi kehidupan manusia.

Perspektif ini sesuai dengan cita-cita Indonesia yang bakal mengedepankan penggunaan energi terbarukan dan menghentikan penggunaan energi bahan fosil yang berpotensi merusak lingkungan. Melalui mengoptimalkan mobil listrik, harapan untuk melestarikan lingkungan cukup besar jika mengacu data dari BloombergNEF (BNEF) yang mengungkapkan bahwa penggunaan mobil listrik tidak menghasilkan CO2 yang lebih besar daripada mobil konvensional.

Selain menguntungkan dari segi lingkungan, namun penerapan konsep ekonomi hijau juga mampu meningkatkan perekonomian. Salah satunya karena penggunaan mobil listrik secara otomatis akan menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang juga berasal dari mekanisme impor. Bahkan, menurut Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto bisa mengurangi impor BBM hingga ribuan barel per hari.

Nuklir Masih Jadi Opsi Terakhir?

Meski pemerintah terus fokus untuk mengoptimalkan penggunaan mobil listrik namun ternyata energi nuklir masih menjadi pilihan meski hanya menjadi opsi terakhir. Hal ini tidak lepas dari kondisi geografis Indonesia yang berada di jalur ring of fire dan rentan terhadap bencana. Namun, nyatanya hal tersebut bukan merupakan masalah yang menghalangi negara Jepang untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Baca juga :  BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Jepang telah memiliki lebih dari 50 PLTN dan tengah mempersiapkan dua lusin pembangkit lagi pada tahun 2030. Berdasarkan sebuah wawancara, Direktur Center for International Studies, Massachusetts Institute of Technology, Richard J. Samuel, menegaskan bahwa meski menyadari risiko dari kondisi geografis yang rentan terhadap bencana namun pengembangan energi nuklir tetap dilakukan karena Jepang memiliki keinginan untuk menjadi pemain di kancah global.

Meski demikian, langkah tersebut tidak berjalan dengan lancar karena menuai penolakan. Insiden yang paling disorot adalah ketika Jepang menyetujui pembuangan lebih dari 1 jua ton air limbah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima ke laut. Penolakan pun datang dari berbagai pihak mulai dari negara lain hingga sebagian masyarakat.

Seperti misalnya WALHI yang menolak karena khawatir terhadap efek jangka panjang yang ditimbulkan dari pembuangan zat limbah nuklir yang mengandung zat radioaktif. Mengingat, dampaknya sangat membahayakan bagi kehidupan laut dan sekitarnya. Penolakan juga mengemuka dari negara lain yaitu Korea Selatan. Penduduk di negara tersebut menolak karena dinilai akan berdampak buruk bagi laut dan nelayan yang ada di Korea Selatan.

Fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia. Penolakan yang terjadi masih didominasi oleh pengaruh dari stigmatisasi kasus-kasus yang melibatkan energi nuklir seperti Fukushima, Chernobyl dan lainnya. Hal inilah yang masih menjadi kendala dan hambatan lain terhadap rencana pemberdayaan energi nuklir di Indonesia. Salah satu penolakan yang nyata terlihat adalah terhadap rencana PLTN di Jepara, Jawa Tengah.

Padahal, sebelumnya Jepara dinilai sudah memenuhi standar untuk membangun PLTN. Wilayah ini dinilai aman menurut BATAN karena tidak berada di wilayah rawan gempa. Meski demikian, energi nuklir tetap menjadi opsi terakhir.

Melihat hal ini, sulit untuk memberdayakan energi nuklir sebagai energi terbarukan karena masih terdapat potensi risiko yang membahayakan kehidupan manusia maupun makhluk hidup yang lain. Meski berpotensi besar mendukung terwujudnya iklim ekonomi hijau namun nyatanya pengoptimalan mobil listrik lebih menjanjikan. Tidak hanya membawa dampak baik bagi ekonomi namun bisa membawa perubahan positif bagi lingkungan. Maka, kecil kemungkinan jika energi nuklir bisa diberdayakan sedini mungkin. (G69)


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Surya Paloh Cemburu ke Prabowo?

NasDem persoalkan komentar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto karena dukung Anies di 2024. PDIP dianggap beda sikap bila terhadap Prabowo.

Airlangga Abaikan Giring?

PSI telah mendeklarasikan akan mengusung Ganjar Pranowo di Pilpres 2024. Mengapa Giring belum juga tawarkan Ganjar ke Airlangga?

Rocky Sebenarnya Fans Luhut?

Momen langka terjadi! Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan akhirnya bertemu langsung dengan pengkritik terpedasnya, yakni Rocky Gerung.