HomeCelotehYang Hilang dari Komitmen Jokowi

Yang Hilang dari Komitmen Jokowi

Kecil Besar

“Jatuh dan tersungkur di tanah aku. Berselimut debu sekujur tubuhku. Panas dan menyengat, rebah dan berkarat,” – Banda Neira, Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti


Pinterpolitik.com

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang patah tumbuh, yang hilang demokrasi.

Sedih dan patah hati, mungkin itu perasaan yang berkecamuk di hati banyak orang saat terbangun di pagi hari ini. Bagaimana tidak, aktivis dan musisi Ananda Badudu yang menggalang bantuan dana kepada mahasiswa yang melakukan demonstrasi.

Memang, saat ini Ananda sudah dibebaskan. Meski begitu, penangkapan atau “penjemputan”-nya tersebut merupakan tetap saja merupakan coreng tebal di muka demokrasi negeri ini.

Apakah negara kecewa karena Ananda lebih berguna dan bermanfaat bagi masyarakat selama beberapa waktu terakhir? Apakah negara frustrasi karena Ananda lebih bisa memenuhi kebutuhan rakyatnya?

Kalau melihat reaksi masyarakat, jelas sekali masyarakat memang lebih sayang kepada Ananda ketimbang kepada pemerintah dan DPR. Mungkin saja, ada pihak yang cemburu karena Ananda memang lebih disayangi ketimbang dua  institusi tersebut.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang patah tumbuh, yang hilang janji politisi.

Penangkapan Ananda dan aktivis lain juga merupakan kisah sedih bagi pemimpin negeri. Di siang hari, Pak Jokowi sudah mendeklarasikan diri kepada masyarakat agar jangan meragukan komitmennya kepada demokrasi. Ia mengungkapkan hal itu kepada pinisepuh negeri agar mereka tak khawatir.

Sayang, sepertinya ada  yang  tidak satu suara dengan komitmen Pak Jokowi. Kebebasan berekspresi warga seperti dikebiri karena penangkapan Ananda ini jadi cermin buruk bagi demokrasi. Jadilah komitmen  demokrasi Pak Jokowi di siang hari, dihilangkan oleh penangkapan tersebut.

Sungguh tega, komitmen presidennya sendiri dikhianati dalam waktu yang amat singkat.

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?
Yang patah tumbuh, yang hilang janji politisi Share on X

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati.

Seperti lirik lagu Banda Neira – bekas band Ananda Badudu – di atas, langkah penangkapan aktivis ini bisa menjadi blunder bagi rezim saat ini. Alih-alih meredam gejolak masyarakat, penangkapan Ananda dan aktivis lainnya ini justru bisa menumbuhkan amarah masyarakat yang lain.

Seperti yang disebutkan di atas, masyarakat saat ini lebih sayang kepada Ananda, mahasiswa dan pejuang-pejuang lain ketimbang kepada pemerintah dan DPR. Jangan salahkan kalau gelombang amarah masyarakat masih akan terus membesar karena penangkapan Ananda.

Setidak-tidaknya, penangkapan ini mungkin akan memunculkan satu musuh baru bagi negara: fans-fans Banda Neira dan pecinta band indie folk-penikmat senja-peminum kopi.

Perjuangan masyarakat ini mungkin akan serupa dengan judul lagi Banda Neira yang lain, Sampai Jadi Debu. Masyarakat mungkin akan terus-menerus bergerak, tak peduli ada yang ditangkap, meski mereka harus jadi debu, asalkan tuntutan mereka tak dibersihkan negara seperti debu.

“Selamanya, sampai kita tua, sampai jadi debu…” (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Di Balik Nadiem Menteri Jokowi

Sehari setelah pelantikan presiden, Jokowi memanggil sejumlah pihak ke Istana yang ditengarai sebagai calon-calon menteri yang akan mengisi kabinet pada periode kedua kepemimpinannya. Di...

Menyoal RUU Masyarakat Hukum Adat

RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi salah satu rancangan undang-undang yang masuk ke dalam Prolegnas Prioritas DPR. Meski begitu, lambatnya pemrosesan RUU ini bisa jadi...

Hari Rabu: Jokowi’s Best Day?

“It’s the best day ever!” – SpongeBob Squarepants, “Best Day Ever” (2006) PinterPolitik.com Buat kalian yang kini bisa disebut sebagai generasi milenial, pasti pernah tuh ngalamin rasanya nggak sabar menunggu-nunggu...

Menyingkap Ngabalinisasi ala Rocky Gerung

Rocky Gerung menyebut para ketum parpol koalisi tengah alami Ngabalinisasi. Apa sebenarnya arti kata Ngabalinisasi?

Kemelut FPI Bukan PKI

"Tidak ada ketentuan pidana yang melarang menyebarkan konten FPI karenanya siapa pun yang mengedarkan konten FPI tidak dapat dipidana. Sekali lagi objek larangan adalah...

Formula Bang Oma di Balai Kota

Pelantikan Anies – Sandi mendatang siap digoyang Soneta. Goyang, Bang~ PinterPolitik.com Kalau darah muda sang Ksatria Bergitar itu masih meledak-ledak, mungkin saja dia bakal begadang ke...

Peleton Beringin Sepakat Tolak Azis

“Dalam hidupku, saya tidak pernah belajar sesuatu dari seorang yang selalu setuju denganku.” PinterPolitik.com Surat sakti mandraguna Papa mengawali kisah baru yang bernasib pilu yaitu tak...

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...