HomeCelotehJaksa Agung Direbut, Paloh Ditinggal?

Jaksa Agung Direbut, Paloh Ditinggal?

Kecil Besar

“Apa kekuatan Nasdem? Pada ideologi kah? Pada figur ketua umumnya kah? Tidak. Kekuatan Nasdem itu karena dia punya Jaksa Agung”. – Rocky Gerung, pengamat politik


PinterPolitik.com

Orang bilang merah dan biru adalah dua warna yang saling bertolak belakang. Kayak negara api dan negara air di serial Avatar: The Last Airbender. Satunya merah dan satunya biru. Ya iyalah, air dan api mana bisa menyatu. Yang bisa menyatu itu aku dan kamu. Eaaa. Hehehe.

Nah, warna merah dan biru itu saat ini lagi jadi pergunjingan dalam politik di tingkat nasional. Adalah dua partai yang masing-masing berwarna merah dan biru yang jadi aktor sekaligus pembawa lakon utamanya.

Ceritanya si merah PDIP mulai melempar wacana agar posisi Jaksa Agung yang saat ini dikuasai si biru Partai Nasdem, dikembalikan ke tokoh dari internal Kejaksaan Agung.

Hasto Kristiyanto selaku Sekjen PDIP sih bilanganya aspirasi publik menginginkan agar jabatan tersebut diberikan pada calon yang berasal dari jalur karier di Kejaksaan Agung.

Hmm. Kata-katanya Pak Hasto ini membingungkan. Soalnya Jaksa Agung M. Prasetyo yang sekarang itu juga berasal dari jalur karier loh. Beliau kan memang berkarier di Kejaksaan Agung, terus kemudian pensiun.

Setelah pensiun baru deh beliau masuk ke Partai Nasdem, sebelum akhirnya mundur dari partai ketika ditunjuk Pak Jokowi sebagai Jaksa Agung pada 2014 lalu. Dengan kata lain Pak Prasetyo ini jalurnya karier juga loh, bisa disebut sebagai orang internal Kejaksaan Agung juga.

Hayoo, jadi maksudnya gimana nih Pak Hasto? Orang internal kejaksaan itu harus yang pensiun terus masuk PDIP gitu ya? Uppps. Hehehe.

Tapi, persoalan posisi Jaksa Agung ini memang menjadi hal yang serius. Soalnya, Majalah Tempo sempat bilang bahwa “manuver” Ketum Nasdem Surya Paloh yang seolah-olah membentuk blok baru di tengah rekonsiliasi nasional pasca Pilpres 2019, salah satunya emang karena posisi Jaksa Agung ini berpotensi tak lagi didapatkan partainya.

Lha iya, wong posisi ini sentral banget kan dalam konteks penegakan hukum. Beredar juga isu kalau ada petinggi partai politik yang mengeluh atas sepak terjang M. Prasetyo selama ini yang dianggap kerap mengkriminalisasi kader partai lain jika tidak ingin pindah menjadi anggota Nasdem. Paloh sendiri menyebut tidak tahu adanya keluhan tersebut.

Persoalannya kalau jabatan itu benar-benar tidak lagi diberikan untuk jatah Nasdem, akan dikasih ke siapa nih? Siapa pun itu ya, tolong jangan dikasih ke Patrick Star. Uppps. Hehehe.

Intinya, pertarungan perebutan posisi Jaksa Agung ini memang menunjukkan tidak adanya musuh abadi dalam politik – demikian kata Henry John Temple Palmerston, seorang negarawan dan politisi Inggris dari abad ke-18.

Apa pun itu, semoga hukum tidak lagi dijadikan alat politik untuk kepentingan tertentu. Soalnya kalau hukum terus digunakan untuk kepentingan politik, mending sekalian aja negara ini diubah namanya menjadi Bikini Bottom. Makin lama makin absurd cuy. (S13)

► Ingin video menarik lainnya? Klik di: http://bit.ly/PinterPolitik

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

Mega-SBY, A Birthday and Three Funerals

“Taufiq mendukung SBY usai terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya. Begitu pula SBY di kemudian hari menginstruksikan kadernya di kursi parlemen untuk memilih Taufiq...

Di Balik Nadiem Menteri Jokowi

Sehari setelah pelantikan presiden, Jokowi memanggil sejumlah pihak ke Istana yang ditengarai sebagai calon-calon menteri yang akan mengisi kabinet pada periode kedua kepemimpinannya. Di...

Menyoal RUU Masyarakat Hukum Adat

RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi salah satu rancangan undang-undang yang masuk ke dalam Prolegnas Prioritas DPR. Meski begitu, lambatnya pemrosesan RUU ini bisa jadi...

Hari Rabu: Jokowi’s Best Day?

“It’s the best day ever!” – SpongeBob Squarepants, “Best Day Ever” (2006) PinterPolitik.com Buat kalian yang kini bisa disebut sebagai generasi milenial, pasti pernah tuh ngalamin rasanya nggak sabar menunggu-nunggu...

Menyingkap Ngabalinisasi ala Rocky Gerung

Rocky Gerung menyebut para ketum parpol koalisi tengah alami Ngabalinisasi. Apa sebenarnya arti kata Ngabalinisasi?

Kemelut FPI Bukan PKI

"Tidak ada ketentuan pidana yang melarang menyebarkan konten FPI karenanya siapa pun yang mengedarkan konten FPI tidak dapat dipidana. Sekali lagi objek larangan adalah...

Formula Bang Oma di Balai Kota

Pelantikan Anies – Sandi mendatang siap digoyang Soneta. Goyang, Bang~ PinterPolitik.com Kalau darah muda sang Ksatria Bergitar itu masih meledak-ledak, mungkin saja dia bakal begadang ke...

More Stories

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.