HomeCelotehPanas Dingin Ryamizard-Tim Mawar

Panas Dingin Ryamizard-Tim Mawar

Kecil Besar

“Saya diberhentikan Wiranto. Betapa sakitnya saya. Saya tidak menculik, tidak kudeta, kenapa diberhentikan?” kata Kivlan Zen. Posisinya sebagai Kepala Staf Kostrad kemudian digantikan oleh Ryamizard Ryacudu, menantu Try Sutrisno.


PinterPolitik.com

Setelah Tempo memuat pemberitaan terkait dugaan keterlibatan Tim Mawar dalam kerusuhan 22 Mei 2019 lalu, berbagai spekulasi memang bermunculan.

Apalagi Tim Mawar ini erat keterkaitannya dengan Prabowo Subianto, terutama seputar tuduhan atas keterlibatannya di kasus 1998. Tempo sendiri diberitakan akan dilaporkan ke Dewan Pers oleh mantan anggota Tim Mawar karena pemberitaan tersebut.

Menariknya, reaksi keras justru datang dari pemerintah, yang meminta agar nama tim ini tidak diungkit-ungkit dan disinggung-singgung.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko misalnya, meminta nama tim ini tidak disebut-sebut agar tidak melahirkan “situasi”. Hmm, mungkin maksud Moeldoko agar gesekan yang masih terjadi di masyarakat tidak tereskalasi dengan isu-isu baru.

Hal serupa juga disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Menhan menyebutkan bahwa Tim Mawar itu sudah selesai, sudah dibubarkan dan anggotanya sudah mendapatkan hukuman, sehingga jangan dibawa-bawa lagi.

Bayangin kalau Kivlan Zen nggak dimutasi, kemungkinan Ryamizard nggak dapat jabatan yang lebih tinggi kan bisa saja terjadi. Share on X

“TNI tidak ada urusan sama tim itu. Itu tim lain. Walaupun itu dulu TNI, sekarang lainlah. Jadi jangan dikait-kaitkan, tidak baik”, begitu kata Ryamizard.

Keras banget sih pak. Hayoo, jangan bilang ada alasan lain loh di balik pernyataan itu? Upppss. Hehehe.

Soalnya, kalau menurut Jun Honna dalam buku Military Politics and Democratization in Indonesia, Ryamizard adalah orang yang “diuntungkan” secara tidak langsung dari tragedi Tim Mawar di tahun 1998 loh.

Lha kok bisa gitu?

Iya, soalnya Tim Mawar ini kan jadi salah satu alasan nama Prabowo Subianto tercoreng dan pada akhirnya diberhentikan dari militer. Nah, setelah itu, terjadi apa yang disebut sebagai “de-Prabowo-isasi” alias pembersihan besar-besaran sisa-sisa pengaruh Prabowo dari jabatan-jabatan penting di TNI.

Baca juga :  Lapar yang Tidak Ikut Libur

Nah, Kivlan Zen yang merupakan sekutu Prabowo, saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad. Gara-gara kedekatannya dengan Prabowo, doi akhirnya kena mutasi cuy. Dan tahu siapa yang menggantikannya?

Yoi, Kivlan digantikan oleh Ryamizard Ryacudu. Apalagi, Ryamizard adalah menantu Try Sutrisno yang merupakan mantan Panglima ABRI sekaligus mantan Wakil Presiden kala itu.

Jadi, benar kan pendapat orang-orang yang bilang Tim Mawar sebenarnya “menguntungkan” Ryamizard? Upppss. Hehehe.

Setelah jabatan Kepala Staf Kostrad, Ryamizard kemudian jadi Panglima Kostrad. Jabatan tertinggi berikutnya adalah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Bayangin kalau Kivlan Zen nggak dimutasi, kemungkinan Ryamizard nggak dapat jabatan yang lebih tinggi kan bisa saja terjadi.

Tapi itu sisi lainnya ya. Yang jelas, imbauan Moeldoko dan Ryamizard emang bertujuan agar suasana pasca Pilpres ini tidak menjadi terus-terusan keruh. Asalkan jangan minta rakyat melupakan Tim Mawar aja Pak, soalnya itu sejarah bangsa. Hehehe. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Amien Ingin Anaknya Jadi Menteri Jokowi?

“Intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret, sehingga yang ada tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur.” – Amien Rais PinterPolitik.com Pertemuan Prabowo dan Amien Rais...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

Mega-SBY, A Birthday and Three Funerals

“Taufiq mendukung SBY usai terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya. Begitu pula SBY di kemudian hari menginstruksikan kadernya di kursi parlemen untuk memilih Taufiq...

Di Balik Nadiem Menteri Jokowi

Sehari setelah pelantikan presiden, Jokowi memanggil sejumlah pihak ke Istana yang ditengarai sebagai calon-calon menteri yang akan mengisi kabinet pada periode kedua kepemimpinannya. Di...

Menyoal RUU Masyarakat Hukum Adat

RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi salah satu rancangan undang-undang yang masuk ke dalam Prolegnas Prioritas DPR. Meski begitu, lambatnya pemrosesan RUU ini bisa jadi...

Hari Rabu: Jokowi’s Best Day?

“It’s the best day ever!” – SpongeBob Squarepants, “Best Day Ever” (2006) PinterPolitik.com Buat kalian yang kini bisa disebut sebagai generasi milenial, pasti pernah tuh ngalamin rasanya nggak sabar menunggu-nunggu...

Menyingkap Ngabalinisasi ala Rocky Gerung

Rocky Gerung menyebut para ketum parpol koalisi tengah alami Ngabalinisasi. Apa sebenarnya arti kata Ngabalinisasi?

More Stories

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.