HomeNalar PolitikMencari Magic Formula Gerindra-PKS

Mencari Magic Formula Gerindra-PKS

Kecil Besar

Wacana pasangan Anies-Aher disebut-sebut menimbulkan gejolak dalam koalisi Gerindra-PKS.


PinterPolitik.com

[dropcap]S[/dropcap]enangnya dalam hati kalau punya sahabat setia. Tengoklah misalnya Partai Gerindra, partai yang didirikan oleh Prabowo Subianto ini memiliki kawan karib dalam diri PKS. Partai dakwah ini hampir selalu ada menemani Gerindra dalam suka dan duka, dalam susah atau senang.

Meski demikian, sebagaimana dinamika dalam persahabatan, hubungan Gerindra-PKS juga bisa saja mengalami disharmoni. Hal ini tergambar dari kabar bahwa PKS bisa saja meninggalkan Gerindra dalam waktu dekat. Sebuah koran ternama tanah air bahkan sampai memuat tajuk utama tentang gejolak koalisi Gerindra-PKS ini.

Sumber gejolak dari hubungan koalisi ini disebut-sebut adalah soal capres yang akan diusung mereka. Belakangan, PKS tampak rajin memperjuangkan pasangan Anies Baswedan dan Ahmad Heryawan. Sementara itu, Gerindra sepertinya masih ogah mengubah mandat capres kepada ketua umum mereka, Prabowo Subianto.

Tampak bahwa Gerindra seperti mendominasi hubungan di antara keduanya. Dalam banyak kasus, PKS tampak seperti menjadi subordinat di antara keduanya. Berdasarkan riwayat kasus yang ada, akankah persahabatan Gerindra dan PKS berakhir?

Gejolak dalam Persahabatan

Gejolak hubungan antara Gerindra-PKS memang tergolong menarik. Selama ini, nyaris tidak ada tanda-tanda retaknya partai yang menjadi tulang punggung oposisi ini. Hal ini termasuk dalam urusan dukung-mendukung capres.

PKS pada awalnya diberitakan menyatakan dukungan kepada capres yang dimandatkan Gerindra yaitu Prabowo. Meski begitu, partai dakwah ini tiba-tiba memunculkan wacana pasangan baru yaitu Anies-Aher.

Munculnya nama Anies menjadi capres yang diusulkan PKS tergolong mengejutkan. Sebelumnya, PKS sudah menyeleksi nama-nama capres yang akan ditawarkan partai berlogo padi dan bulan tersebut. Dari sembilan nama yang mereka rilis, semuanya berasal dari internal PKS dan tidak ada nama Anies.

PKS menyebut bahwa munculnya pasangan Anies-Aher adalah aspirasi dari kader-kader partainya. Menurut mereka, elektabilitas pasangan Anies-Aher di internal partai cukup tinggi. Oleh karena itu, mereka akan menawarkan paket pasangan tersebut ke Gerindra.

Memang, tidak semua internal kader partai dakwah ini tidak sepakat dengan paket pasangan tersebut. Ada beberapa kader yang bersikap sangat konservatif dan memilih kader sendiri untuk menjadi capres. Meski demikian, keinginan sejumlah kader tersebut tidak menghalangi langkah PKS untuk terus mewacanakan pasangan Anies-Aher.

Gerindra sendiri cenderung gigih dengan pendirian mereka mendukung Prabowo. Partai berlogo garuda ini bahkan mempersilahkan jika ada yang ingin hengkang dari koalisi, termasuk PKS. Mereka tampak tidak begitu risau jika Prabowo kehilangan dukungan dari sahabat sejatinya sendiri.

Baca juga :  Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Partai berlogo garuda ini menyatakan bahwa masih banyak partai yang ingin mengusung ketua umumnya menjadi capres. Salah satu yang kerap dibicarakan adalah Demokrat. Gerindra memang disebut-sebut tengah mengintensifkan hubungan dengan partai yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.

Jika PKS bersikeras mendorong wacana Anies-Aher, maka bisa saja persahabatan Gerindra-PKS bubar di tengah jalan. Gerindra tampaknya sudah relatif siap mencampakkan PKS dan akan mencari rekan koalisi lain yang mau memberi tiket kepada Prabowo.

Di lain pihak, PKS juga berkeras dengan wacana untuk mengusung Anies sebagai capres.  Sejauh ini, partai-partai seperti PAN atau Demokrat terbuka dengan nama Anies sebagai capres. Serupa dengan Gerindra, PKS juga tampaknya tidak akan terlalu sulit tanpa sahabat setianya tersebut.

Ketidakseimbangan Kekuatan

Secara rasional, perceraian Gerindra dan PKS sebenarnya bisa dianggap wajar. Jika mengingat perkataan Henry John Temple, tidak ada kawan yang abadi dalam politik, gejolak bahkan pecahnya koalisi Gerindra-PKS bukanlah hal yang benar-benar mustahil.

Sejak era Koalisi Merah Putih di tahun 2014, PKS sudah sangat loyal mendukung Gerindra dan Prabowo. Mereka bisa dikatakan menjadi mesin politik yang paling militan memperjuangkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Padahal, mereka tidak diberikan jatah capres atau cawapres dalam koalisi tersebut.

Mencari Magic Formula Gerindra-PKS

PKS juga tampak harus kembali mengalah dalam gelaran Pilkada yang cukup besar. Pada Pilgub Jabar 2018, PKS juga harus mengalah dan merelakan kursi cagub kepada Gerindra melalui sosok Sudrajat. Sementara PKS harus rela hanya kebagian kursi calon orang nomor dua, padahal perolehan kursi PKS lebih unggul ketimbang Gerindra di provinsi ini.

Jika diperhatikan, ada ketidakseimbangan kekuatan antara kedua partai tersebut. PKS kerapkali hanya menjadi kaki tangan bagi Gerindra. Bahkan di saat mereka memiliki kekuatan lebih besar sekalipun, mereka harus rela jatah nomor satu diberikan kepada sahabatnya tersebut.

Wacana Anies-Aher dari PKS ini bisa saja menjadi semacam langkah dari partai tersebut untuk menaikkan posisi tawar mereka di depan sahabatnya tersebut. Sepertinya, sudah terlalu lama PKS seperti menjadi bawahan bagi Gerindra. Mereka bisa saja mengharapkan posisi yang lebih seimbang melalui wacana Anies-Aher.

Secara rasional, PKS ingin memburu coattail effects atau efek ekor jas dari pasangan yang mereka dukung. Partai ini bisa saja mengharapkan efek ekor jas yang lebih besar dari pasangan Anies-Aher. Apalagi, di sana ada nama Aher yang merupakan kader PKS sendiri.

Baca juga :  Habibie: Varian 'Dinasti Teknokrat'?

Dampak elektoral ini disoroti misalnya oleh Rico Marbun, pengamat politik dari Median. Menurut Rico, PKS bisa saja hengkang dari koalisi dengan Gerindra jika mendukung Prabowo dianggap tidak memberikan dampak elektoral kepada mereka.

Mencari Magic Formula

Sebenarnya, jika Gerindra ingin kehilangan PKS, ada sebuah cara yang bisa mengatasinya. Solusi ini ditawarkan oleh salah satu negara di Eropa yaitu Swiss. Dalam koalisi di negara tersebut ada sebuah formula koalisi yang disebut sebagai Magic Formula.

Untuk menjaga keseimbangan koalisi di antara mereka, ada sebuah pembagian secara aritmetika kepada masing-masing anggota koalisi. Melalui pembagian tersebut, semua anggota koalisi mendapat jatah kursi yang tergolong proporsional.

Sebagai gambaran, koalisi di Swiss ini membagi tujuh kursi eksekutif kepada seluruh anggota koalisi secara hampir merata. Jatah kursi untuk Free Democratic Party, Social Democratic Party, Swiss People’s Party masing-masing adalah 2 kursi. Hanya Christian Democratic People’s Party yang mendapat jatah 1 kursi merujuk hasil Pemilu 2015 lalu. Angka-angka tersebut umumnya akan didistribusikan sesuai dengan perolehan suara pada pemilu.

Keseimbangan dalam kasus Swiss ini diungkapkan misalnya oleh Pascal Sciarini, Manuel Fischer, dan Denise Traber. Sciarini, Fischer, dan Denis Traber menyebutkan bahwa keseimbangan kekuatan antara anggota-anggota koalisi yang sempurna adalah ketika anggotanya mendapat kekuasaan yang sama. Memang, tidak ada yang benar-benar sempurna dalam politik seperti itu, akan tetapi, idealnya tidak ada partai yang jauh lebih dominan

Dalam konteks Gerindra dan PKS, boleh jadi formula sihir yang dicari tidak akan terlampau sulit. Anggota koalisi mereka tergolong tidak segemuk koalisi di Swiss. Dalam perhitungan sederhana, yang paling mudah adalah mereka membagi secara setara kursi capres dan cawapres.

Terlepas dari keinginan PKS mengusung Anies, agar persahabatan mereka tetap langgeng, salah satu yang krusial bagi hubungan mereka adalah memberi jatah kursi cawapres kepada PKS. Hal ini dibuat agar relasi antaranggota koalisi tetap seimbang.

Gerindra bisa saja menghadiahi sahabat sejatinya jatah cawapres untuk diisi. Jika Gerindra bersikeras mempertahankan Prabowo sebagai capres, partai tersebut setidaknya bisa mempertimbangkan salah satu dari Anies atau Aher untuk memastikan kekuatan di antara keduanya tetap seimbang. Dengan begitu, gejolak persahabatan bisa saja diredam tidak berujung perpecahan. (H33)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...