HomeNalar PolitikStrategi NasDem “Amankan” Jokowi

Strategi NasDem “Amankan” Jokowi

Kecil Besar

Klaim kemenangan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, disebut kemenangan semu oleh para pengamat politik. Benarkah kemenangan NasDem hanya bersifat semu?


PinterPolitik.com

“Dalam politik, kita menganggap orang yang mampu mendapatkan suara adalah orang yang dapat memerintah kota atau negara. Tapi jika sakit, kita tidak berobat ke dokter yang gagah maupun pintar berbicara.” ~ Plato

[dropcap]S[/dropcap]ebagai Bapak Demokrasi, sudah tentu Filsuf yang meninggal diusia 80 tahun tersebut, menyarankan untuk memilih pemimpin bukan karena penampilannya yang kharismatik dan pandai bicara, tapi juga yang bijak dan mumpuni. Hanya saja pada praktiknya, kharisma dan retorika memang lebih sering membuat masyarakat terpesona.

Apa yang ditakutkan Plato tersebut, bisa saja telah terjadi pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak lalu. Namun terlepas dari kualitas kepala daerah yang terpilih, perlu diakui kalau kemenangan partai NasDem, PAN, dan Hanura yang lebih besar dibanding PDIP dan Golkar, cukup mencengangkan.

Jadi wajar kalau Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, tak mampu menahan kegembiraan dan langsung mengklaim partainya sebagai pemenang pesta demokrasi yang diselenggarakan di 171 wilayah kota/kabupaten lalu. Apalagi dari 17 Pemilihan Gubernur (Pilgub), 11 diantaranya dimenangkan oleh calon yang diusung NasDem.

Namun, klaim kemenangan Surya Paloh tersebut ternyata dibantah oleh beberapa pengamat politik. Salah satunya dari Direktur Eksekutif Segitiga Institute, M. Sukron, yang mengatakan kalau seharusnya kemenangan Pilkada dilihat dari berapa banyak kader partainya yang berhasil menang, bukan dari jumlah dukungan calon yang diusung.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, bahkan mengatakan kalau klaim sepihak Surya Paloh tersebut sebenarnya merupakan upayanya untuk mendongkrak citra partai. Sebab dari berbagai survei, NasDem diperkirakan menjadi salah satu yang akan terdepak dari gedung legislatif.

Di sisi lain, strategi NasDem dengan cenderung memilih kader lain yang lebih populis dan memiliki faktor kemenangan besar, juga menimbulkan pertanyaan, apakah partai ini memang sengaja berupaya memperbesar peluang peraihan suara demi mempertahankan partainya atau untuk mengamankan suara Jokowi?

Sengaja “Mengambil Semua” Kesempatan

“Argumen terbaik menghadapi demokrasi adalah lima menit perbincangan dengan rata-rata pemilih.” ~ Winston Churchill

Pernyataan Perdana Menteri Inggris paling berpengaruh dalam sejarah dunia ini, merupakan pengalamannya saat menghadapi serangan lawan politik. Setelah lima menit berbincang dengan para penumpang kereta bawah tanah, ia mampu membuat keputusan yang tak hanya didukung masyarakat, namun juga para senator lainnya.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Walau berasal dari keluarga bangsawan, namun sikap Churchill yang bersedia terjun langsung mendengarkan aspirasi masyarakat bawah ini, terbukti membuatnya mampu menjabat sebagai Perdana Menteri selama dua periode. Meski sempat ditumbangkan lawan pada tahun 1945, buktinya ia mampu kembali terpilih lima tahun kemudian.

Di tanah air, tokoh-tokoh yang bersedia terjun langsung dan mendengarkan sendiri aspirasi serta harapan masyarakat, sebenarnya telah banyak bermunculan. Sayangnya, tak semua dari tokoh peduli rakyat ini yang mendapatkan kesempatan dari partai politik untuk diusung sebagai calon kepala daerah pada Pilkada.

Sebagai parpol yang baru berdiri 6,5 tahun, NasDem menggunakan peluang ini, terutama karena juga mengalami kesulitan mencari kader internal dengan figur kuat. Akibatnya, partai ini pun memilih menggunakan metode “mengambil semua” atau Catch-all Party dari Richard Gunther dan Larry Diamond di bukunya, Political Parties and Democracy.

Metode ini merupakan salah satu kriteria dari tipologi partai menurut Gunther dan Diamond, yaitu tipe partai yang hanya mengejar elektoral atau suara pemilih semata. Sehingga pemilihan kandidat dilakukan dengan mengambil semua kandidat yang populer atau dikenal dekat dengan rakyat, sehingga kecenderungan terpilihnya tinggi.

Dengan mendukung tokoh populis tersebut, NasDem juga berusaha memaksimalkan dukungan melalui pengakomodasian kepentingan masyarakat luas. Strategi ini diakui sendiri oleh Surya Paloh yang mengatakan kalau kemenangan di Pilkada ini, merupakan modal tambahan bagi partainya menghadapi Pemilu tahun depan.

Keputusan NasDem yang cenderung pragmatis ini, juga dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya. Menurutnya, strategi ini dilakukan NasDem untuk mengimbangi kekuatan elektoral PDIP dan Golkar. Tak jarang, NasDem bahkan rela “membajak” kader partai lain untuk mendapatkan kemenangan.

Apa yang dilakukan NasDem ini, bagi Yunarto sendiri, merupakan langkah yang tepat dalam menjaring kandidat berkualitas. Tanpa harus menjalani proses sosialisasi yang lama, tokoh yang namanya telah familiar dengan para pemilih dan memiliki jaringan atau basis massa yang tepat, terbukti membantu NasDem dalam mendulang suara.

“Mengamankan” Suara Di Pilpres

“Suara pemilih itu ibarat senapan laras panjang, kegunaannya tergantung dari karakter si penggunanya.” ~ Theodore Roosevelt

Presiden Amerika Serikat ke-26 yang akrab disapa T.R. atau Teddy ini, juga merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah dunia. Begitu juga di negaranya sendiri, penggemar berburu tapi menolak membunuh anak beruang ini, bahkan dikenal sebagai “pemimpin rakyat” karena semua kebijakannya dilakukan demi kepentingan rakyat.

Baca juga :  Cahaya Harapan MK untuk Keterwakilan Perempuan

Merujuk perkataannya di atas, kalau suara pemilih dapat menjadi senjata yang tak hanya mampu mematikan tapi juga menolong di saat terjepit, sangat tepat ditujukan pada NasDem. Sebagai partai pendukung, tentu NasDem punya kesempatan untuk ‘membawa’ nama kepala daerah yang didukungnya dalam setiap kampanye dan sosialisasi partai.

Melalui citra kepala daerah yang didukungnya, NasDem tentu akan menggunakannya demi meningkatkan elektoral partai. Mengapa? Karena partai yang sudah sejak awal mendeklarasikan diri mendukung Jokowi dua periode ini, sebenarnya tengah dalam kondisi kritis dan terancam akan terdepak akibat tingginya ambang batas parlemen.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh LSI Denny JA, Mei lalu, NasDem merupakan salah satu partai yang diperkirakan akan berada di posisi partai bawah karena hanya mampu meraih 2,3 persen suara saja. Peraihan ini tentu akan membuatnya keluar dari Senayan, sebab ambang batas parlemen telah ditetapkan sebesar empat persen.

Sehingga tudingan Pangi kalau NasDem menggunakan kemenangan semunya di Pilkada demi menaikkan citra partai, bisa jadi benar. Klaim kemenangan Surya Paloh ini, menurut Josepth Schumpeter, merupakan upayanya untuk memberikan kesan pada masyarakat kalau partainya mampu melampaui kekuatan massa PDIP dan Golkar.

Padahal dari kemenangan 11 cagub yang diusung Nasdem, sebenarnya hanya 4 cagub saja yang memang merupakan kader internal partainya. Itupun, sebagiannya merupakan ‘hasil bajakan’ dari partai lain, seperti kader dari Golkar dan Demokrat. Berbeda dengan Golkar yang kader internalnya menang di 9 provinsi dan PDIP menang di 6 provinsi.

Sebagai seorang ketua umum partai, klaim Surya Paloh ini – berdasarkan model otoritas dari demokrasi elitisme – mampu memberi pengaruh di mata para pemilihnya. Apalagi klaim ini juga diperkuat dengan dukungan data yang disebarkan oleh media-media, sehingga kesan NasDem sebagai partai pemenang Pilkada pun ikut diakui masyarakat.

Menurut Schumpeter, apa yang dilakukan NasDem ini merupakan strategi yang kerap digunakan partai demi mempertahankan petahana (incumbent). Dalam hal ini, sebagai partai pengusung Jokowi, Surya Paloh sebenarnya hanya ingin memperlihatkan peta kekuatan yang dimiliki partainya dalam mengamankan suara di Pilpres mendatang. (R24)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...