HomeNalar PolitikDemokrat Tidak Anti-Umat

Demokrat Tidak Anti-Umat

Kecil Besar

“Kalau citranya jadi subordinat atau di bawah komando Habib Rizieq Shihab, kami tidak akan terima itu.” – Ferdinand Hutahean, Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat


PinterPolitik.com

[dropcap]S[/dropcap]eruan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab tentang pembentukan Koalisi Keumatan disambut sejumlah partai. Gerindra, PKS, PAN, dan PBB mengaku siap mempertimbangkan seruan sang Habib untuk bersatu demi umat.

Sayang, seruan sang Imam Besar tampaknya tidak disambut baik semua partai. Partai Demokrat menyatakan enggan bergabung dengan koalisi yang digagas dari Tanah Suci tersebut. Kehadiran Rizieq menjadi faktor keengganan Demokrat bergabung dengan Koalisi Keumatan.

Menurut Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahean, partainya keberatan jika koalisi tersebut dikomandoi oleh Rizieq. Partai yang identik dengan warna biru tersebut mengaku tidak ingin menjadi subordinat dari Rizieq.

Sikap Demokrat ini tergolong berani. Di tengah menguatnya politik identitas, bergabung dengan Koalisi Keumatan berpotensi mendongkrak suara partai yang ada di dalamnya. Apalagi, pemain utama politik semacam itu, Rizieq Shihab, menjadi patron koalisi tersebut. Mengapa Demokrat begitu enggan berada di bawah komando Rizieq?

Upaya Menggiring Demokrat

Awal mula spekulasi bergabungnya Demokrat dengan Koalisi Keumatan berasal dari pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon. Wakil Ketua DPR RI itu menyebutkan bahwa partainya menyiapkan skema power sharing kepada Partai Demokrat.

Menurut Fadli, partainya akan memberikan jatah kursi menteri sebagai bentuk power sharing tersebut. baginya, bagi-bagi jatah menteri seperti itu adalah hal yang lumrah di dalam politik. Hal itu dilakukan agar terjadi win-win solution di antara partai yang berkoalisi.

Disebutkan bahwa kedua partai tengah mengintensifkan komunikasi di antara keduanya. Salah satu cara agar hubungan keduanya tambah mesra adalah mengupayakan pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Demokrat sendiri sepertinya harus segera menentukan sikap. Selama ini, partai berlogo bintang mercy itu kerap dianggap sebagai partai penyeimbang. Meski demikian, jelang Pilpres 2019, mengambil posisi terus-menerus di tengah bisa merugikan mereka. Selain itu, partai-partai lain juga mengincar persentase suara Demokrat untuk menguatkan koalisi mereka.

Berdasarkan hasil Pemilu 2014, Demokrat menduduki posisi keempat dari seluruh peserta Pemilu. Mereka berhasil meraup 10,19 persen suara sah nasional. Perolehan tersebut membuahkan kursi dengan persentase 10,9 persen dengan jumlah 61 kursi.

Hal ini tampaknya dimanfaatkan oleh Gerindra dan partai-partai lain dalam Koalisi Keumatan. Menambah jumlah kursi dari Demokrat dapat membuat koalisi mereka semakin kuat. Apalagi, Partai Demokrat juga tergolong sebagai partai besar, sehingga bisa menarik dukungan masyarakat dan memperkokoh koalisi.

Baca juga :  Balada Negeri Ormek

Demokrat sendiri hingga saat ini masih belum menentukan ke mana mereka akan berlabuh. Awalnya, partai yang dipimpin SBY ini sempat santer dikabarkan akan bergabung dengan koalisi pendukung Jokowi. Meski begitu, hingga saat ini mereka belum juga resmi bergabung. Gerindra jelas melirik posisi Demokrat yang belum bergabung dengan Jokowi tersebut.

Enggan Tersubordinasi

Sayang sekali, tawaran Gerindra dan kawan-kawan dari Koalisi Keumatan sepertinya tidak akan terwujud dalam waktu dekat. Demokrat menyatakan enggan bergabung dengan koalisi tersebut karena dikomandoi oleh Rizieq.

Partai bernomor urut 14 tersebut mengaku keberatan jika harus menjadi subordinasi dari Rizieq. Tokoh seperti Rizieq dinilai tidak perlu terlibat terlalu jauh dalam politik. Ulama seperti Rizieq idealnya hanya menjadi penasihat saja, bukan sebagai pemegang komando.

Keengganan Partai Demokrat menjadi subordinat Rizieq bisa dilihat dari tipologi partai itu sendiri. Dalam klasifikasi partai elektoralis (electoralist party), partai yang didirikan SBY tersebut tergolong ke dalam tipe partai personalistic. Klasifikasi ini misalnya dilakukan oleh Faishal Aminudin dan Fajar Shodiq Ramadlan dalam Jurnal Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Demokrat Tidak Anti-Umat

Menurut Richard Gunther dan Larry Diamond, partai dengan tipe personalistic bertumpu pada patronase yang kuat dengan adanya pemimpin yang kharismatik. Partai ini kerap diidentikkan sebagai partai yang pengambilan keputusan dan kampanyenya berpusat pada tokoh sentralnya.

Dalam konteks Demokrat, patron yang dimaksud adalah SBY. Partai ini memang hampir selalu diidentikkan dengan presiden ke-6 RI tersebut. Selain sebagai salah satu tokoh pendiri, SBY sangat berjasa mengerek popularitas Demokrat dari partai baru menjadi partai pemenang Pemilu.

Sulit melihat Partai Demokrat sebagai partai personalistic mau menjadi subordinat dari Rizieq Shihab. Sosok SBY sebagai patron utama partai yang bermarkas di Menteng, Jakarta Pusat tersebut terlalu kuat untuk menjadi subordinat Rizieq.

Sosok SBY terlalu kuat dan kharismatik di mata kader Demokrat untuk digantikan oleh Rizieq. Kepatuhan kader kepada SBY jelas terlalu kuat. Sulit untuk membayangkan kader-kader partai itu mau menggantikan SBY dengan menuruti perintah dari orang seperti Rizieq.

Sebagai partai besar, ambisi Demokrat juga tergolong sangat besar. Partai dengan ambisi besar ini sangat sulit dikontrol dan ditundukkan oleh pihak lain. Apalagi, pihak tersebut adalah outsider seperti Rizieq. Secara konsep, outsider adalah orang yang bukan berasal dari lingkaran elite partai dan tidak berkontribusi banyak pada organisasi partai. Konsepsi ini salah satunya diungkapkan oleh Marcus Mietzner.

Ambisi Demokrat sebagai partai besar ditunjukkan melalui sikap mereka yang ingin membentuk poros baru. Sebagai alternatif dari Koalisi Keuamatan di bawah kendali Rizieq, mereka mewacanakan untuk membentuk poros kerakyatan atau poros Nusantara.

Tidak Gabung Koalisi: Anti-Umat?

Meski enggan bergabung dengan Koalisi Keumatan, Partai Demokrat tidak bisa serta-merta dicap sebagai partai anti-umat. Partai peraup 10,19 persen suara pada Pemilu lalu ini sebenarnya dapat dianggap sebagai partai yang cukup dekat dengan umat Islam.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Secara formal, Partai Demokrat mengakui ideologi partai mereka adalah Nasionalis-Religius. Hal ini tertera di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai. Mereka menjadikan moral dan agama sebagai landasan dalam bekerja.

Selain memiliki ideologi berbau agama, partai yang dipimpin SBY tersebut juga tergolong dekat dengan tokoh-tokoh agama. Partai-partai Islam bahkan merasa lebih nyaman secara ideologis jika harus berkoalisi dengan Demokrat ketimbang dengan partai lain. Hal ini ditunjukkan pada koalisi pemerintahan di tahun 2004 dan 2009.

Secara struktural, Demokrat juga memiliki sayap Islam yang dikenal sebagai Ikhwanul Muballighin. Sayap Islam Demokrat ini disebut-sebut dapat mewakili aspirasi umat Islam hingga ke wilayah pedesaan.

Sebagai Ketua Umum, SBY sendiri dikenal cukup dekat dengan umat Islam. SBY dikenal memiliki jejaring cukup kuat di antara kalangan pesantren dan ulama. Ulama terkemuka seperti Ma’ruf Amin misalnya pernah menjadi bagian dari orang dekat SBY. SBY juga dikenal memiliki majelis dzikir yaitu Nurussalam yang memiliki cukup banyak pengikut.

SBY dan Demokrat juga pernah membuat pernyataan khusus tentang kasus penangkapan ulama. SBY menyebut bahwa pemerintah jangan melakukan kriminalisasi terhadap ulama. Pernyataan semacam ini dapat menjadi keberpihakan partai kepada umat Islam.

Hal ini membuat Demokrat juga dapat dikategorikan sebagai catch-all party pada tipologi yang dibuat oleh Gunther dan Diamond. Partai bertipe catch-all kerap dianggap sebagai partai yang berupaya untuk menarik perhatian masyarakat dari beragam sudut pandang dan ideologi.

Nuansa nasionalis-religius dimaksudkan untuk menarik dua aliran tradisional dalam politik negeri ini. Demokrat tampaknya tidak ingin kehilangan suara dari kelompok nasionalis maupun pendukung politik Islam.

Sebagai partai catch-all, sangat tidak mungkin Demokrat mengambil sikap anti-umat. Mengambil posisi berseberangan dengan salah satu aliran utama politik Tanah Air ini bisa berbuah bahaya bagi Demokrat dengan tipe partai seperti itu.

Oleh karena itu, sulit untuk mengatakan Demokrat anti-umat hanya karena menolak bergabung dengan Koalisi Keumatan. Citra ideologi Nasionalis-Religius yang telah lama dibangun terlalu berisiko untuk dikorbankan. Sikap Demokrat kemudian lebih dapat diartikan sebagai rasa enggan menjadi subordinat Rizieq sebagai patron, alih-alih anti-Islam. (H33)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...