HomeCelotehAmien Rais Politisi Oportunis?

Amien Rais Politisi Oportunis?

Kecil Besar

“Kita jangan mau dibodoh-bodohi orang bodoh yang mau pisahkan agama dengan politik. Politik adalah bagian dari kehidupan kita. Ini tugas keagamaan, memilih pemimpin apalagi Presiden.” ~ Amien Rais.


PinterPolitik.com

[dropcap]A[/dropcap]gama memang seringkali dianggap alat propaganda paling efisien untuk mempengaruhi sudut pandang masyarakat mengenai suatu hal. Terlebih, jika itu dilakukan di negara yang dominan memeluk agama tertentu, seperti halnya pemeluk Islam di Indonesia. Toh agama adalah candu menurut Karl Marx.

Yang bikin getir itu, kalau agama ini digunakan oleh elit politik oportunis sebagai alat propaganda dalam memperoleh kekuasaan. Kan sama aja memanfaatkan umat Muslim itu sendiri. Ya semacam dikadalin gitu lah ya. Wah, ini mah upaya pengibulan umat Islam. Ya moga aja gak gitu ya kenyataannya nanti.

Jadi, corong utama dari pergerakan bawah tanah para politisi ini, umumnya akan berkamuflase dengan menggandeng sejumlah tokoh agama dan Ustad ternama diberbagai daerah. Jadi gak usah heran kalau menjelang Pilkada dan Pilpres, banyak masjid beralih fungsi menjadi panggung orasi politik.

Saat ini, indikasi situasi politik ke arah sana sudah mulai terasa. Seperti terlihat pada Kongres Umat Islam Sumatera Utara yang berlangsung di Asrama Haji Medan Jalan AH Nasution, Medan, Jumat (30/3). Dalam acara tersebut, hadir beberapa tokoh nasional dari partai politik, termasuk Amien Rais.

Tema Kongres ini sebenarnya baik dan normatif, “Penguatan Ukhuwah, Peran Politik dan Sosial Ekonomi Umat Islam Untuk Menyelamatkan NKRI”. Tapi pesan politiknya sedikit agak “gimana” gitu. Seperti yang dilontarkan Amien Rais saat berpidato di depan jamaah Kongres. Ngomong apa ya dia, tetiba kepo nih?

Amien menyerukan agar umat Islam jangan mau dibodoh-bodohi orang bodoh yang mau pisahkan agama dengan politik. Karena politik adalah bagian dari kehidupan umat Islam. Dan sudah termasuk tugas umat Islam untuk memilih pemimpin yang amanah dan Islami. Meski ada nuansa logical fallacy, ya boleh lah.

Alih-alih ajakan agar tidak memisahkan politik dengan ajaran Islam, para politisi ini sepertinya sedang mengkampanyekan partainya masing-masing deh di depan masyarakat. Pilih Partai Islam aja, udah jaminan mutu lslamnya, yang pilih pemimpin dari partai lain sama dengan Auto Kafir. Jiah cape deh.

Namun secara gak sadar, apa yang dilakukan Amien ini, sebenarnya menempatkan umat Islam Indonesia pada kondisi polarisasi, antara agama dan non-agama. Jadi partai yang tidak membawa embel-embel agama merupakan pihak yang ditargetkan oleh politisi ini agar suara pemilihnya mengecil.

Asal tahu aja nih ya, politik itu tidak sehitam dan seputih yang kita kira. Banyak ruang abu-abu dalam politik. Itu mengapa kita sering mendengar berita tertangkapnya pejabat yang juga dari partai politik Islam. Nah loh, kalau itu apa namanya? Saat kampanye dulu ngibulin umat Muslim dung ya.

Artinya – dalam politik – gak ada jaminan sesuatu yang berbau Islami akan mendatangkan kemaslahatan. Mau yang mendatangkan kemaslahatan? Ya pilih pemimpin yang kredibel, kapabel, dan memiliki track record yang bersih, serta hasil kerja nyatanya untuk bangsa ini. InsyaAllah akan membawa kemaslahatan untuk masyarakat Indonesia dan umat Muslim juga di dalamnya. (K16)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Jokowi si Politisi Jenius?

Profesor Kishore Mahbubani menyebut Presiden Jokowi sebagai pemimpin jenius dalam tulisan terbarunya. Berbagai kebijakan mantan Wali Kota Solo tersebut mendapat pujian. Mahbubani bahkan menilai pemerintahan Jokowi layak ditiru oleh berbagai negara. Apakah Presiden Jokowi adalah politisi jenius?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

Ada Apa Dengan Fredrich?

Setelah ditangkap KPK atas tuduhan menghalangan penyidikan, Fredrich Yunadi ternyata belum kapok. Ia berkoar sana sini, bahkan sampai mengajak boikot KPK segala. Ada apa...

More Stories

Data IDI Dengan Pemerintah Berbeda?

IDI dilaporkan data kematian Covid-19 yang berbeda dengan pemerintah. Sebut kematian telah sentuh angka 1000 sedangkan data pemerintah belum sentuh angka 600. Dinilai tidak...

MK Kebiri Arogansi DPR

"(Perubahan pasal UU MD3) sudah diputuskan hukum, iya kita sebagai negara hukum, ikut dan taat apa yang telah diputuskan MK yang final dan mengikat,"...

Gerindra ‘Ngemis’ Cari Teman

"Prioritas Gerindra tetap dengan PKS, PAN. Mungkin juga dengan Demokrat yang belum nyatakan sikap. Kita lihat PKB juga.Jadi kita akan merajut koalisi lebih intensif,...