HomeNalar PolitikGatot Turun Kelas ke Jateng?

Gatot Turun Kelas ke Jateng?

Kecil Besar

Gatot Nurmantyo dipertimbangkan untuk melaju di Pilgub Jateng. Langkah ini terbilang menarik, di tengah menanjaknya nama Gatot sebagai kandidat kuat di Pilpres 2019.


PinterPolitik.com

[dropcap]N[/dropcap]ama mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo tiba-tiba muncul pada Pilgub Jateng. Adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memunculkan nama jenderal kelahiran Tegal tersebut. Partai berlogo Kabah ini berencana membentuk poros untuk mengusung Gatot.

PPP dikabarkan tengah dalam rencana membentuk koalisi bersama Partai Golkar dan Demokrat untuk bertarung dalam Pilgub Jateng. Poros ini disinyalir sengaja dimunculkan untuk menggoyahkan singgasana petahana Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

PPP menilai, Gatot adalah nama yang cocok untuk bersaing dengan Ganjar. Apalagi, ia putra daerah dari Tegal dengan pengalaman tingkat nasional. Mereka tidak khawatir dengan popularitas Gatot di provinsi tersebut dan berharap fenomena Pilgub DKI Jakarta dapat terulang, di mana calon non-unggulan dapat keluar sebagai kampiun.

Menarik untuk melihat kans Gatot dalam bursa pencalonan Pilgub Jateng. Belakangan, nama Gatot memang tengah menanjak di berbagai survei sebagai Capres maupun Cawapres. Jika Gatot mengambil tawaran untuk bertarung di tingkat provinsi, akankah ia tetap unggul? Apakah popularitas di tingkat nasional berpengaruh di tingkat lokal?

Modal Gatot di Jateng

Gatot adalah salah satu putra daerah Jateng yang kiprahnya moncer di tingkat nasional. Ayahnya adalah seorang pejuang kemerdekaan yang berasal dari Solo. Sementara itu, ibunya juga berasal dari dari Cilacap, Jateng. Gatot sendiri dilahirkan di Tegal, semasa ayahnya bertugas di kota tersebut.

Darah militer memang mengalir cukup kental dalam diri Gatot. Ayahnya, Suwantyo adalah tentara pelajar semasa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ayah Gatot pernah berada di bawah komando Jenderal Gatot Subroto. Ia kemudian mengakhiri karir militernya dengan pangkat Letnan Kolonel.

Sebagai seorang anak tentara, hidup Gatot dihabiskan dengan berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti penugasan sang ayah. Masa remaja, ia habiskan di daerah asal ibu dan ayahnya yaitu Cilacap dan Solo. Bisa dibilang, ia cukup mengenal Jateng melalui pengalaman ini.

Meski memiliki darah asli Jateng, kiprah Gatot sebagai tentara justru tidak banyak dihasilkan di provinsi yang beribukota di Semarang tersebut. Gatot lebih banyak berkarir di wilayah teritorial lain, seperti di wilayah Kodam Jaya, Siliwangi, Pattimura, dan Cenderawasih. Ia tidak pernah merengkuh jabatan di wilayah teritorial Kodam Diponegoro.

Saat memperoleh jabatan Pangdam, jabatan yang ia emban bahkan bukanlah Pangdam Dipenogero, tapi Pangdam Brawijaya. Pada tahun 2010, Gatot dipromosikan untuk menjabat di posisi yang berkedudukan di Jawa Timur tersebut.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Meski begitu, Gatot memang pernah bertugas di wilayah Jateng. Pada tahun 2009, Gatot menjabat sebagai Gubernur Akademi Militer (Akmil). Akademi ini bertempat di salah satu kota di Jateng, yaitu Magelang.

Meski berkedudukan di Jateng, jabatan Gubernur Akmil tetap tidak seleluasa jabatan Pangdam Diponegoro dalam membangun jejaring. Pangdam Diponegoro memiliki keuntungan, karena cakupan wilayahnya yang lebih luas meliputi seluruh wilayah Jateng.

Peluang Gatot di Pilgub

Nama Gatot kerapkali luput dari berbagai survei jelang Pilgub Jateng 2018. Nama mantan Panglima TNI ini hampir selalu absen pada berbagai survei Pilgub Jateng. Sebagai putra daerah, nyatanya namanya tidak masuk hitungan untuk menjadi nomor satu di provinsi tersebut.

Gatot memang lebih banyak digadang untuk menjadi orang nomor satu atau nomor dua di Indonesia. Berbagai survei menempatkan nama alumni Akmil 1982 ini bersaing dengan nama-nama tenar sebagai capres atau cawapres. Di berbagai survei tersebut, ia kerapkali menembus posisi lima besar. Pada survei teranyar Indobarometer misalnya, nama Gatot bertengger di posisi lima capres pilihan masyarakat dengan persentase 3,2 persen.

Gatot Turun Kelas ke Jateng?

Jika dilihat pada survei Pilgub Jateng, nama yang paling populer sejauh ini masih dipegang oleh petahana, Ganjar Pranowo. Politisi asal PDIP ini nyaris tidak terbendung di berbagai survei. Di beberapa survei elektabilitasnya bahkan mencapai lebih dari 50 persen. Ini nampak, misalnya pada survei yang dirilis LSI Denny JA. Ganjar dipilih 50,9 persen responden, jauh melebihi kandidat-kandidat lain.

Lalu bagaimana kans Gatot jika dibandingkan dengan Ganjar? Sejauh ini sulit untuk menilai elektabilitas alumni Akmil 1982 ini sebagai cagub Jateng. Hampir tidak ada lembaga survei yang mempertimbangkan namanya untuk mengejar kursi Jateng-1.

Jika merujuk pada hasil survei Pilpres, nama Gatot memang selalu mengungguli Ganjar di berbagai survei. Gatot kerapkali tembus posisi lima besar, sementara Ganjar hampir tidak pernah masuk 10 besar.

Pada survei yang dirilis oleh Indobarometer misalnya, jenderal yang berpengalaman di Kostrad tersebut berada di jajaran lima besar bersanding dengan nama-nama seperti Jokowi, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Sementara itu, Ganjar tercecer jauh di posisi 20 dengan persentase 0,3 persen.

Akan tetapi, jika survei ini dilihat pada tingkat lokal Jateng, hasil yang muncul dapat menunjukkan sedikit perbedaan. Pada survei top of mind capres warga Jateng yang dirilis Populi Center, nama Ganjar unggul tipis dari jenderal yang baru melepas jabatan Panglima TNI ini.

Baca juga :  Habibie: Varian 'Dinasti Teknokrat'?

Berdasarkan survei tersebut, Ganjar meraih 0,4 persen responden warga Jateng jika ditanya mengenai presiden yang akan dipilih. Sementara itu, Gatot berada tepat di bawah Ganjar dengan perolehan 0,3 persen.

Merujuk pada hasil survei tersebut, ternyata popularitas di tingkat nasional tidak selalu berarti popularitas yang sama di tingkat lokal. Meski tipis, nama Ganjar Pranowo ternyata lebih memikat bagi warga Jateng ketimbang Gatot. Padahal, survei tersebut adalah survei capres yang biasanya di tingkat nasional Gatot unggul.

Plus-minus Jadi Jateng-1

Terlepas dari kondisi-kondisi tersebut, apabila Gatot memutuskan menerima pinangan poros PPP-Golkar-Demokrat, ia bisa menimba ilmu kepemimpinan sipil secara berjenjang. Ia bisa menambah jam terbang terlebih dahulu dalam jabatan sipil di tingkat lokal, sebelum naik ke jabatan yang lebih tinggi seperti menjadi presiden.

Akan tetapi, bagi tokoh berkaliber nasional seperti Gatot, melaju pada Pilgub Jateng bisa berarti turun kelas. Bisa dibilang, level sang jenderal sudah terlampau tinggi bagi gelaran politik tingkat lokal.

Jika Gatot memilih untuk turun ke Pilgub Jateng ketimbang menunggu Pilpres 2019, maka momentum yang ia miliki saat ini bisa saja berkurang. Nama Gatot yang tengah hangat-hangatnya dibicarakan untuk RI-1 atau RI-2 bisa saja tenggelam karena memilih bertarung di Pilgub Jateng.

Gatot Turun Kelas ke Jateng?
Jokowi dan Gatot Nurmantyo (Foto: Puspen TNI)

Sorotan lampu di tingkat nasional bisa saja menghilang jika eks Panglima TNI ini melangkah di Pilgub Jateng. Jateng bukanlah provinsi seperti DKI Jakarta yang menyita perhatian publik seluruh Indonesia. Momentum yang tengah tinggi jelang Pilpres 2019 bisa menurun jika harus menunggu hingga Pilpres 2024.

Memaksimalkan momentum adalah kunci bagi kemenangan seorang kandidat. Langkah ini juga pernah dilakukan oleh Presiden Jokowi. Jokowi memilih tidak menunda untuk menyelesaikan masa jabatannya terlebih dahulu sebagai Gubernur DKI Jakarta saat namanya berada di puncak bursa capres 2014.

Selain itu, jenderal kelahiran Tegal ini juga harus benar-benar memikirkan peluang menangnya di Pilgub Jateng. Jika melihat kondisi terkini, namanya jauh tertinggal dibanding Ganjar atau nama-nama lain yang sudah beredar. Sangat penting baginya untuk tidak melakukan perjudian besar di tingkat lokal.

Tanpa perhitungan yang matang, melaju di Pilgub Jateng dapat menjadi bumerang bagi Gatot. Alih-alih menjadi jawara, ia bisa saja menelan pil pahit di Jateng dan merusak peluangnya menjadi presiden atau wakil presiden.

Segalanya memang masih mungkin terjadi. Dinamika Pilgub Jateng masih mengalami naik-turun. Keajaiban seperti di Pilgub DKI bisa saja menghampiri kandidat seperti Gatot. Lalu, langkah apa yang sebaiknya diambil sang jenderal? Maju di tingkat nasional atau turun kelas ke tingkat lokal? (Berbagai sumber/H33)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...