HomeHeadlineInul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, “centil” kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?


PinterPolitik.com

“Ini statement, aku yang paling baddie. Ini statement, aku cewek yang paling centil. Pake baju pasar aku masih sabi. Buat cewe yang disana, jangan gampang menyerah. Kamu bisa juga jadi kaya gua” – Naykilla, “MMG (My Mine Gueh)” (2026)

Cupin pertama kali mendengar nama Naykilla dari keponakannya yang berusia belasan tahun, yang menyanyikan penggalan “Garam & Madu” tanpa henti sepanjang sore. Lagu itu, kata sang keponakan, sedang membanjiri lini masa dan dipakai jutaan orang sebagai latar video pendek.

Cupin yang semula menganggapnya sekadar lagu musiman pun mulai penasaran. Ia mendapati bahwa Naykilla, penyanyi muda yang menjadi pelopor gaya yang disebut hipdut, telah menjelma menjadi salah satu wajah paling dikenal di kalangan Generasi Z.

Lagu-lagunya beredar bukan hanya di pemutar musik, melainkan juga sebagai pengiring tarian dan komedi singkat di media sosial. Cupin mengamati bagaimana satu lagu kini bisa menyebar lewat jutaan kreasi ulang, jauh melampaui cara lagu populer menyebar pada masa mudanya.

Yang membuat Cupin termenung adalah judul EP debut penyanyi itu, yaitu Centyl. Sebuah kata yang dulu terdengar seperti cibiran kini justru dipajang sebagai identitas dan merek dagang.

Cupin ingat betul bahwa pada masa mudanya, kata “centil” hampir selalu dipakai untuk menyindir. Kata itu ditujukan kepada perempuan yang dianggap terlalu genit, terlalu lincah, atau terlalu berani menonjolkan diri.

Kini keponakannya justru memakai kata yang sama dengan bangga, seakan-akan ia menyandang sebuah lencana. Bagi generasi muda itu, centil bukan lagi aib yang disembunyikan, melainkan gaya yang dirayakan.

Cupin menyadari bahwa di balik viralnya satu lagu, ada sesuatu yang lebih besar sedang bergeser. Nilai sebuah kata, dan ekspresi yang diwakilinya, tampak berubah arah dalam satu generasi.

Sebuah ide muncul di kepala Cupin untuk menyebut pergeseran ini sebagai Centil-isme, yaitu perpindahan status kecentilan dari beban moral menjadi sumber daya budaya yang bernilai. Fenomena ini bukan soal apakah goyang atau gaya itu pantas, melainkan soal siapa yang kini berhak menentukan nilainya.

Cupin lalu teringat nama lain dari masa dua dekade silam, yaitu Inul Daratista. Pada awal 2000-an, goyang Inul justru memicu kecaman keras, fatwa boikot, dan pencekalan di berbagai daerah.

Jarak antara nasib Inul dan nasib Naykilla itulah yang menggelitik rasa ingin tahu Cupin. Ekspresi yang dahulu dianggap mengancam moral kini diterima sebagai tren yang membanggakan.

Lalu, apa sebenarnya yang berubah dalam rentang dua dekade itu, ekspresi tubuhnya atau cara masyarakat menilainya? Dan jika yang berubah adalah cara menilainya, kekuatan apa yang menggerakkan perubahan tersebut?

Silsilah Centil dari Inul hingga Naykilla

Untuk menjawabnya, Cupin menelusuri bahwa kecentilan dalam musik populer Indonesia memiliki silsilah yang panjang. Jauh sebelum Inul, ada Ellya Khadam yang pada akhir 1950-an memperkenalkan gaya panggung khas lewat lagu “Boneka dari India”, lalu Camelia Malik yang menjadikan goyang sebagai bagian sah dari pertunjukan.

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Pola itu berlanjut ke era setelah Inul, dengan nama seperti Dewi Perssik hingga gelombang penyanyi era media sosial seperti Ayu Ting Ting dan Via Vallen. Tiap generasi memiliki sosoknya sendiri, dan hampir semuanya adalah perempuan.

Sosiolog Inggris Stanley Cohen, dalam bukunya Folk Devils and Moral Panics, menjelaskan bagaimana masyarakat berkala menunjuk satu sosok sebagai “iblis rakyat”. Sosok itu lalu dibesarkan ancamannya jauh melampaui kenyataan, persis seperti yang dialami Inul pada 2003.

Cupin melihat bahwa Inul kala itu adalah sasaran yang nyaris sempurna bagi panik moral semacam ini. Ia tunggal, perempuan, berasal dari kelas pekerja, dan mudah disorot kamera.

Untuk memahami mengapa nilainya bisa berbalik, Cupin meminjam gagasan sosiolog Prancis Pierre Bourdieu tentang modal kultural dan kuasa untuk memberi legitimasi. Menurut kerangka ini, yang berubah bukanlah gerakannya, melainkan tangan yang berkuasa menilai gerakan tersebut.

Dahulu palu penilaian dipegang oleh tokoh agama dan asosiasi seniman senior. Kini palu itu berpindah ke tangan algoritma, korporasi, dan negara, yang menilai centil dengan ukuran yang sama sekali berbeda.

PinterPolitik menyebut keuntungan dari pergeseran ini sebagai Arbitrase Moral, yaitu selisih nilai sebuah ekspresi antara saat ia dicela dan saat ia kemudian dirayakan. Inul, yang bertahan selama dua dekade, adalah pihak yang memetik selisih nilai itu paling besar.

Cupin juga mencatat satu hal penting, yaitu bahwa beban centil ini tidak pernah dibagi rata. Kata “centil” nyaris tak pernah ditujukan kepada laki-laki, sementara padanan seperti “genit” untuk pria terdengar jauh lebih ringan.

Teoretikus film Laura Mulvey, lewat tulisannya “Visual Pleasure and Narrative Cinema”, memperkenalkan gagasan male gaze. Gagasan ini menjelaskan bagaimana budaya visual cenderung memposisikan perempuan sebagai objek yang dilihat, bukan subjek yang melihat.

Cupin memandang Naykilla sebagai upaya membalik posisi itu. Dengan mengklaim ulang kata centil sebagai mereknya sendiri, penyanyi muda itu seolah merebut kembali kendali atas penilaian yang dahulu ditimpakan dari luar.

Lalu, jika centil kini dirayakan, apakah perempuan pelakunya benar-benar memegang kendali atas nilainya? Dan bisakah pergeseran budaya yang awalnya domestik ini berarti sesuatu bagi posisi Indonesia di mata dunia?

Centilisme sebagai Daya Tarik Indonesia

Cupin melihat bahwa kebangkitan centil-isme menyimpan dimensi yang melampaui hiburan, yaitu dimensi pengaruh. Ilmuwan politik Joseph Nye, dalam bukunya Soft Power, menjelaskan kemampuan sebuah bangsa memengaruhi pihak lain lewat daya tarik, bukan paksaan.

Baca juga :  Diesel yang Padam, Neraca yang Menyala

Dalam logika Nye, sebuah negara yang sibuk menyensor produk budayanya sendiri sebenarnya sedang menyia-nyiakan sumber daya pengaruhnya. Kebangkitan centil-isme, dari sudut ini, adalah kesempatan untuk mengubah aset yang dahulu diabaikan menjadi daya tarik bersama.

Cupin mendapati bahwa Indonesia tidak sendirian dalam menempuh jalan ini. Korea Selatan adalah contoh paling terang, ketika musik populernya yang dahulu kerap disensor justru kemudian didorong menjadi pilar ekspor budaya yang dikenal sebagai Hallyu.

Yang menarik bagi Cupin adalah peran sadar negara di balik keberhasilan itu. Pemerintah Korea tidak sekadar membiarkan budaya populernya tumbuh, melainkan mengarahkannya sebagai strategi citra nasional yang terencana.

Pola serupa juga terlihat di belahan dunia lain, seperti reggaeton dari Puerto Riko. Genre itu sempat dirazia aparat karena dianggap cabul, tetapi kini menjelma menjadi salah satu genre musik Latin terbesar di dunia.

Antropolog Arjun Appadurai, dalam bukunya The Social Life of Things, mengingatkan bahwa nilai sebuah benda tidak melekat secara permanen. Nilai itu ditentukan oleh rezim yang mengaturnya pada suatu waktu, sehingga harga komoditas yang sama bisa bergeser ketika rezimnya berubah.

Cupin menyimpulkan bahwa dangdut dan turunannya kini sedang berpindah rezim nilai. Dari rezim yang menilainya lewat ukuran moral semata, menuju rezim yang melihatnya sebagai aset ekonomi kreatif dan diplomasi budaya.

Momentum Indonesia saat ini, menurut pengamatan Cupin, ditopang oleh pertemuan beberapa kekuatan sekaligus. Selera publik, dukungan industri, dan perhatian negara untuk pertama kalinya tampak menunjuk ke arah yang sama.

Cupin meyakini bahwa perhatian pemerintah terhadap kekayaan budaya ini merupakan pertanda kematangan dalam mengelola identitas bangsa. Mendorong dangdut sebagai warisan dan daya tarik adalah langkah yang menghargai akar budaya rakyat sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Pada akhirnya, kisah dari Inul hingga Naykilla barangkali lebih merupakan cermin daripada sekadar peristiwa musik. Ia menunjukkan bagaimana sebuah bangsa belajar berdamai dengan ekspresinya sendiri, lalu menemukan bahwa di sanalah justru terletak sebagian dari keasliannya.

Yang patut dijaga ke depan adalah agar nilai yang baru ditemukan ini turut dinikmati oleh para pelakunya, terutama penyanyi perempuan yang merintis jalan sejak awal. Sebab kebangkitan centil-isme akan paling bermakna bila ia tidak hanya membanggakan, tetapi juga memberi tempat yang adil bagi mereka yang menghidupkannya. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Rame “Ke-trigger” PDIP, PAN Chill

Mengapa PAN tetap santai saat partai-partai lain sibuk mengulik arah politik PDIP? Di balik sikap chill itu seakan tersimpan strategi besar, meliputi kohesi elite, jaringan kekuasaan yang terjaga, dan penguasaan atensi publik. Sebuah resep politik baru yang bisa menentukan siapa paling relevan menuju Pemilu 2029.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista — melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri. 

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang “karatan”

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

Lapar yang Tidak Ikut Libur

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #43PinterPolitik.com Tiga hari lagi, pada 22 Juni 2026,...

More Stories

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?