HomeNalar PolitikUnair, ITB, dan Ilusi Peringkat

Unair, ITB, dan Ilusi Peringkat

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Unair menyalip ITB di QS World University Rankings 2027. Namun, benarkah ini soal kampus mana yang lebih unggul? 


PinterPolitik.com

โ€œDominance should never be confused with permanence.โ€ โ€“  Jessica Turner, Chief Executive QS

Cupin nyaris menumpahkan kopinya pagi itu ketika lini masa X-nya dipenuhi satu kabar yang sama. Universitas Airlangga, kampus dari Surabaya, disebut-sebut menyalip Institut Teknologi Bandung di QS World University Rankings 2027.

Bagi Cupin yang besar dengan keyakinan bahwa ITB selalu berada di atas, berita ini terasa seperti gempa kecil. Angkanya memang tipis, Unair di peringkat 276 dunia dan ITB di 287, tetapi simbolismenya terasa besar.

Setahun sebelumnya posisinya justru terbalik, dengan ITB nyaman di 255 jauh melampaui Unair. Dalam satu siklus, urutan yang dikira abadi itu berubah.

Cupin pun ikut larut dalam tafsir yang paling cepat menyebar. Katanya, pusat keunggulan kampus sedang bergeser dari Bandung ke Surabaya, dari barat ke timur.

Tafsir itu menggoda karena rapi dan mudah dibagikan. Sayangnya, semakin Cupin menelusuri datanya, semakin tafsir itu rontok dengan sendirinya.

Ia menemukan bahwa ITS, kampus teknik kebanggaan Surabaya, justru tidak ikut melonjak. Sebaliknya, UGM di Yogyakarta melompat tajam dari 224 ke 206, padahal sama sekali bukan kampus timur.

Bahkan UI di Depok, sang juara nasional, malah turun tipis dari 189 ke 191. Jika ini benar soal geografi, mengapa polanya justru berantakan seperti ini?

Lalu, jika bukan letak kampus yang menentukan naik turunnya peringkat, lantas apa sebenarnya mesin yang bekerja di baliknya?

Castells, Saxenian, dan Ilusi Peringkat

Jawabannya muncul ketika kita berhenti membaca peringkat sebagai peta wilayah dan mulai membacanya sebagai peta jaringan. Cupin pun menyadari bahwa penjelasan resmi dari kampus-kampus yang naik justru menunjuk pada satu kata yang sama, yaitu keterhubungan.

Rektor Unair menyebut pendorong utama lompatannya adalah indikator International Research Network yang melonjak ke peringkat satu nasional. Penguatan ini ditopang kolaborasi lintas negara, publikasi bersama, joint supervision, hingga kehadiran visiting professor.

Pola yang sama terlihat di kampus lain dari kota yang berbeda. UMY di Yogyakarta mencatat kenaikan terbesar di indikator yang persis sama, sementara UNS di Solo membaik karena penguatan International Faculty.

Tiga kampus, tiga kota, tetapi satu mesin yang serupa. Bukan lokasi yang menentukan, melainkan seberapa terbuka sebuah kampus menautkan diri ke jaringan global.

Sosiolog Spanyol Manuel Castells, dalam karya besarnya The Rise of the Network Society, menawarkan pembedaan yang menjadi kunci di sini. Ia membedakan space of places, dunia yang terikat pada lokasi fisik, dengan space of flows, dunia tempat nilai mengalir lewat simpul-simpul yang saling terhubung.

Tesis Castells sederhana tetapi tajam, bahwa di era jaringan posisi seseorang ditentukan oleh seberapa terhubung ia, bukan di mana ia berada. Universitas adalah contoh paling murni dari logika ini.

Kampus termegah di kota terbesar sekalipun akan terpinggirkan apabila ia tidak menjadi simpul dalam aliran global pengetahuan. Sebaliknya, kampus di kota menengah yang rajin menenun koneksi internasional bisa naik melampauinya.

Ilmuwan AnnaLee Saxenian dari Berkeley menambahkan lapisan kedua lewat bukunya The New Argonauts. Ia memperkenalkan istilah brain circulation, sirkulasi otak, sebagai lawan dari narasi lama brain drain.

Tesis lama meratapi setiap periset yang pergi ke luar negeri sebagai kerugian permanen. Saxenian membuktikan sebaliknya, bahwa talenta yang bersirkulasi dan tetap terhubung justru menjadi jembatan yang mengalirkan pengetahuan dan modal kembali ke negeri asalnya.

Pengalaman Taiwan menjadi bukti paling terang dari tesis ini. Industri semikonduktornya tumbuh justru karena insinyur yang pulang dari Silicon Valley membawa serta pengetahuan dan jejaring investor global.

Tiongkok mengikuti pola serupa dalam skala raksasa, dan hasilnya terlihat di QS 2027 ketika kampusnya mencatat pergerakan naik terbanyak di dunia. Uni Emirat Arab dan Arab Saudi pun melesat lewat strategi internasionalisasi yang sengaja, bukan semata bermodal kekayaan.

Dari sinilah ilusi peringkat itu terbongkar, dan Cupin mulai paham mengapa tafsir awalnya keliru. ITB bukan kampus yang merosot mutunya, sebab di pemeringkatan QS by Subject program seperti Petroleum Engineering miliknya menembus klaster 51 sampai 100 dunia.

Yang membedakannya dari Unair bukanlah kualitas, melainkan derajat keterbukaan jaringan. ITB kuat di dalam, tetapi belum cukup menjadi simpul dalam space of flows global.

Maka membaca tabel sebagai sekadar adu unggul antarkampus adalah salah baca yang nyaman. Jika keterhubungan adalah mesin sebenarnya, mungkinkah ia ditenun dengan sengaja oleh sebuah kebijakan negara?

Dan jika negara memang bisa membangun keterhubungan itu, langkah seperti apa yang sedang ditempuh Indonesia hari ini?

Prabowo dan Jalan Menutup Ilusi Peringkat

Di titik inilah arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi relevan dan, menariknya, membaca zaman dengan tepat. Yang patut dicermati bukan satu kebijakan tunggal, melainkan sebuah pola yang konsisten membuka simpul Indonesia ke jaringan global.

Dari hulu pendanaan, pada Januari 2026 Presiden menambah dana riset perguruan tinggi sebesar Rp4 triliun setelah mengumpulkan sekitar 1.200 rektor dan guru besar di Istana. Total dana riset pun melonjak dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun, sebuah kenaikan 50 persen dalam satu kebijakan.

Yang lebih instruktif, dan membuat Cupin mengangguk, adalah langkah diplomasi pendidikan yang ditempuh langsung oleh Presiden. Pada Januari 2026 di Lancaster House, London, Prabowo secara terbuka mengajak Russell Group, konsorsium universitas riset elite Inggris, untuk membuka kampus cabang di Indonesia.

Dibaca lewat kerangka Castells, langkah ini adalah upaya menarik simpul global masuk ke dalam space of flows domestik. Alhasil, posisi Indonesia bergeser dari sekadar pengekspor talenta mentah menjadi tuan rumah jaringan pengetahuan.

Sisi sirkulasi talenta pun ikut diperkuat melalui Kemdiktisaintek dan LPDP. Skema matchmaking menghubungkan periset dalam negeri dengan diaspora ilmuwan Indonesia di luar negeri, bahkan menjadikan kolaborator asing sebagai syarat sejumlah hibah riset internasional.

Lulusan terbaik dikirim untuk dibimbing profesor diaspora di Amerika Serikat, sementara industri yang berinvestasi pada riset disiapkan insentif pajak yang besar. Inilah wujud brain circulation yang dilembagakan menjadi kebijakan, bukan sekadar wacana.

Skala beasiswa pun melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penerima LPDP naik dari sekitar 11 ribu orang pada 2019 menjadi 33 ribu pada 2025, dengan target yang terus diperluas.

Kewajiban kontribusi alumni turut diperkuat agar talenta yang bersirkulasi tetap tertaut kembali ke tanah air. Logikanya persis sirkulasi otak, yakni bergerak ke luar untuk kemudian mengalir pulang membawa jaringan global.

Indonesia pun tidak perlu menebak peta jalan, sebab kawasan ini telah penuh kasus yang membuktikannya. Singapura menjadikan dirinya hub talenta yang ekstrem terbuka, Korea Selatan fokus pada simpul unggulan, dan keduanya membuktikan bahwa keterhubungan adalah pilihan kebijakan yang sengaja dirancang.

Pada akhirnya, gegap gempita soal Unair menyalip ITB hanyalah riak di permukaan dari arus yang jauh lebih dalam. Cupin pun menutup ponselnya dengan satu kesadaran, bahwa pelajaran sesungguhnya bukan tentang Surabaya ataupun Bandung, melainkan tentang sebuah abad ketika yang menang bukan yang terbesar, terkaya, atau tertua, melainkan yang paling terhubung.

Maka peringkat sebaiknya dibaca sebagai sinyal yang mengundang perbaikan, bukan vonis yang menutup percakapan. Dan jika keterhubungan memang bisa ditenun dengan sengaja, maka masa depan kampus Indonesia bukanlah takdir yang diwariskan, melainkan jaringan yang sedang kita pilih untuk dibangun bersama. (A43)


Baca juga :  Trust Game Intelijen Ompreng MBG?
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti?ย 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi โ€œMazhab Dissentersโ€ seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?ย 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti?ย 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?ย 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?