HomeCelotehHantu Itu Bernama Esemka

Hantu Itu Bernama Esemka

Kecil Besar

Ia muncul di jalanan kota Solo. Warnanya putih seperti hantu, dengan kaki-kaki yang kokoh nan digdaya seperti namanya. Tapi, kok kayak pernah lihat di mana, ya?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]A[/dropcap]dalah Tommy Soeharto, putra sang penguasa saat itu yang tersenyum bangga pada 8 Juli 1996 ketika ia coba mewujudkan mimpi mobil nasional (mobnas). Itulah Mobil Timor yang tidak lain adalah mobil KIA Sephia buatan Korea Selatan yang hanya dimodifikasi logonya saja.

Kini, saat sedang ramai-ramainya orang berbicara tentang PKI yang seolah menjadi ‘hantu’, muncul ‘hantu’ lain di jalanan kota Solo, Jawa Tengah. Ya, itu adalah sebuah mobil putih bermerek Esemka dengan jenis ‘Digdaya’ yang seolah menghidupkan kembali asa tentang mobnas. Foto-foto mobil putih tersebut pun beredar luas di internet beberapa hari terakhir.

Namun, saat memperhatikan foto mobil tersebut, banyak yang menyebutnya mirip – bahkan sama persis – dengan mobil bermerek Foday F22 buatan perusahan Tiongkok, Guangdong Foday Automobile. Bahkan, jika diperhatikan, kedua mobil ini boleh dikatakan hanya berbeda dari logo perusahan saja.

Hantu Itu Bernama Esemka
Foto kiri atas, kanan atas dan tengah adalah mobil Esemka Digdaya. Foto kiri bawah dan kanan bawah adalah mobil Foday F22 buatan perusahan Tiongkok. Apakah sama? (Foto: kompas.com dan kumparan.com)

Hmm, apakah ini kebetulan? Atau jangan-jangan mobil Esemka Digdaya memang adalah mobil Foday F22 yang hanya ‘dimodifikasi’ mereknya saja sama seperti Mobil Timor Tommy?

Mobil Esemka disebut-sebut sebagai perwujudan cita-cita tentang mobnas. Bahkan, Esemka punya nilai politis karena mampu mengantarkan seorang Joko Widodo (Jokowi) dari Wali Kota Solo menjadi Presiden RI ke-7.

Saya teringat pemberitaan berbagai media massa ketika Jokowi menjadikan mobil Esemka – yang saat itu belum lolos uji kelayakan dan emisi – sebagai mobil dinasnya. Mungkin itu adalah pertaruhan serius sekaligus strategi politik yang brilian.

Dan kini, cita-cita mobil nasional seolah menjadi déjà vu proyek mobil Tommy: modifikasi merek. Kalau pun terbukti, maka akan sangat memalukan bagi bangsa ini.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Ini tentu melukai cita-cita identitas nasional dalam sebuah mobil. Ini sama artinya dengan ‘membeli’ identitas dari bangsa lain dan hanya dimodifikasi merek-nya saja.

Sudahlah, kalau memang tidak bisa mewujudkan cita-cita mobil nasional, kita mau bilang apa? Padahal, di saat yang sama ada anak bangsa yang teriak-teriak di media sosial loh tentang mobil listrik buatan dalam negeri.

Mengapa (saya) Nyinyir?Sangat panjang.Permohonan sebelum membaca.Saya berharap, Tak ada komentar yang…

Posted by Ricky Elson on Wednesday, 13 September 2017

Memikirkan soal identitas yang hanya diganti mereknya saja rasanya memang ngeri-ngeri sedap. Jangan-jangan perdebatan beberapa bulan terakhir ini juga ada kaitan dengan hilangnya identitas nasional kita.

Lha kalau identitas kita tidak hilang, tentu orang tidak akan berdebat sampai berurat leher tentang komunisme karena itu tentu saja bukan identitas kita. Orang juga tentu tidak akan berbeda pendapat sampai rusuh tentang negara yang bersyariah karena itu juga bukan identitas kita. Identitas kita adalah Pancasila.

Atau jangan-jangan Pancasila kita juga telah sama seperti mobil Esemka Digdaya: yang begitu digdaya, tetapi nyatanya buatan asing, atau seperti Mobil Timor yang katanya bikinan orang Timor, tetapi nyatanya buatan Korea Selatan?

“Makin berat aja bahasan kau, Dul. Mandilah dulu sana. Badanmu bau asap, jenderal lagi bakar-bakaran soal senjata ilegal, sementara rakyat cuma kena asapnya”.

Di kejauhan terdengar sayup-sayup lagu: “Putar ke kiri e, nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri dan ke kiri manise…”.

Pria yang pernah menggunakan mobil Esemka itu sedang menari! Setidaknya, kita masih punya lagu itu…

(S13)

 

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Wiranto Pelanggar HAM?

Wiranto diduga terlibat namun bukan sebagai eksekutor, akan tetapi sebagai orang dibalik layar tragedi tersebut, hal itu dikarenakan posisinya pada masa itu sebagai Panglima...

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Jokowi si Politisi Jenius?

Profesor Kishore Mahbubani menyebut Presiden Jokowi sebagai pemimpin jenius dalam tulisan terbarunya. Berbagai kebijakan mantan Wali Kota Solo tersebut mendapat pujian. Mahbubani bahkan menilai pemerintahan Jokowi layak ditiru oleh berbagai negara. Apakah Presiden Jokowi adalah politisi jenius?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Giring Ingin Balik Nyanyi Lagi?

Video Ketum PSI Giring Ganesha nyanyikan lagu Nidji tersebar di media sosial. Apakah Giring ingin balik nyanyi lagi dan lupakan politik?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.