HomeCelotehSuharso Buat Kiai Jauhi PPP?

Suharso Buat Kiai Jauhi PPP?

Kecil Besar

“Kayak nggak ngerti aja Pak Harso ini, gitu Pak Guru. I’ve provided one, every week. Dan setiap ketemu Pak, ndak bisa Pak. Dan bahkan sampai saat ini, kalau kami ketemu di sana, itu kalau salamannya itu, nggak ada amplopnya Pak, itu pulangnya itu, sesuatu yang hambar,” – Suharso Monoarfa, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP)


PinterPolitik.com

Pernyataan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa yang menyinggung soal ‘amplop kiai’ rupanya berbuntut panjang. Suharso dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas pernyataan yang dinilai melecehkan kiai pesantren. 

Peristiwa ini bermula saat Suharso menyampaikan pidato dalam Pembekalan Antikorupsi Politik Cerdas Berintegritas (PCB) untuk PPP di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam kesempatan tersebut, Suharso menceritakan pengalaman amplop ini bermula ketika dia menjabat Plt Ketum PPP. 

Ia menceritakan bagaimana budaya ‘ningali’ atau memberikan amplop kepada kiai setelah berkunjung dan mendapatkan doa, merupakan perilaku yang kurang baik yang masih dijaga dalam tradisi pesantren. 

Meskipun pada akhirnya Suharso sendiri telah memberikan penjelasan terkait pernyataannya itu. Tapi ia terlanjur dianggap merendahkan sosok para kiai dan pesantren karena mengungkap persoalan ‘amplop kiai’ di depan publik. 

Aktivis dan Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) Dr. Sholeh Basyari M. Phil menyebutkan cerita Suharso itu sudah menghina para kiai-kiai dan bisa membuat anggapan pemberian amplop tersebut sebagai cikal budaya korupsi. 

Di sinilah problemnya, ketika cerita Suharso kemudian dapat dimaknai sebagai narasi korupsi. Tentu hal ini wajar karena saat berpidato, konteksnya terkait pembekalan antikorupsi di Gedung ACLC KPK. 

Suharso sebagai ketua umum partai harusnya bisa berhati-hati sehingga terhindar dari slip of tongue. Apalagi, PPP yang salah satu basis massanya adalah para santri, tentunya membuat pernyataan itu bukan hanya konsekuensi hukum tapi juga konsekuensi politik.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi

Rasanya sudah menjadi rahasia umum kalau tradisi memberi amplop seperti cerita Suharso memang ada di pondok pesantren. Tapi itu semua adalah bentuk sumbangan kepada pesantren dan sedekah kepada para santri.

image 61
Suharso Kepleset, PPP Meradang?

Anyway, dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya tradisi sedekah sebenarnya bukan tanpa polemik loh. Dalam tradisi pesantren di Minangkabau, misalnya, ada yang disebut dengan mamakiah. Sebuah tradisi menjalankan sebuah buntie (semacam karung) yang digunakan pada hari Kamis dan Jum’at untuk meminta sedekah ke rumah-rumah warga. 

Dalam melakukan kegiatan mamakiah ini, tak jarang juga santri mendapat ocehan, hinaan, makian, bahkan ada yang diusir ketika sampai di depan rumah masyarakat yang menanggapi negatif kegiatan ini. 

Mungkin kisah mamakiah ini mirip dengan konteks pemaknaan sedekah yang ditafsirkan berbeda oleh Suharso. Padahal dalam tradisi pesantren, sedekah bukan hanya cara untuk menguji mental, tetapi memiliki nilai sufistik yang tinggi. 

Bagi yang melakukan kegiatan ini karena melihat nilai sufistik, agaknya mereka tidak melihatnya secara negatif, melainkan tetap tawadhu dan melihat konteks sosial dari tradisi sedekah di pasantren. 

Hmm, kok Pak Suharso tidak melihat dari sisi semacam itu ya? Kan kalau begini bisa saja para kiai jauhi PPP loh. Atau apa dulunya Pak Suharso gak sempat nyantri ya? Jadi gak mudeng dengan tradisi ini. Upps. Hehehe. (I76)


Kenapa AS Seenaknya Ikut Campur?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...