HomeCelotehMegawati Kok Bahas Hal-hal Remeh?

Megawati Kok Bahas Hal-hal Remeh?

Kecil Besar

“Presiden saya waktu itu, wapres, presiden, saya tetap, lo, memasakkan bagi keluarga saya. Jadi adalah sebuah alasan yang tidak wajar menurut saya kalau yang namanya perempuan tidak bisa memasak” – Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP


PinterPolitik.com

Pada acara Kick Off Kolaborasi Penurunan Stunting yang digelar oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mendorong perempuan berperan dalam upaya penurunan angka stunting.

Dalam kesempatan itu, Megawati bercerita tentang kisah ibunya yang merupakan seorang first lady tetap membuka dapur umum meski negara sudah merdeka. Ia ingin menegaskan bahwa Ibu Negara pun tetap mau turun ke pasar dan memasak seperti perempuan pada umumnya.

Lanjut Megawati, ketika ia menjadi wapres dan presiden, iya tetap memasak untuk keluarganya. Yang membuat publik menaruh sorotan adalah keheranan Megawati jika ada perempuan Indonesia yang mengatakan tidak bisa memasak.

Dari pernyataan itu, muncul pertanyaan, apakah benar keahlian memasak itu wajib dimiliki oleh perempuan? Bukankah dengan pernyataan seperti itu akan memicu perdebatan gender?

Jika direnungkan, rasa-rasanya memasak bukan hanya kewajiban yang harus dijalani gender tertentu. Memasak bukan hanya keterampilan hidup yang bermanfaat bagi perempuan, melainkan juga laki-laki.

Memasak itu basic life skill loh. Kenapa demikian? Karena memasak merupakan salah satu kemampuan yang bisa membuat kita bertahan hidup.

image 36
Perempuan Harus Bisa Masak?

Bahkan dalam beberapa penelitian psikologi klinis, disebutkan bahwa mengolah makanan dengan tangan sendiri akan membuat kita sadar bahwa memasak enggak sesederhana itu. Rasa empati dengan sendirinya muncul. Hal ini akan berefek pada cara kita menghargai makanan.

Jangan-jangan Bu Mega mengucapkan hal semacam itu karena jarang mengunjungi Rumah Makan Padang atau yang akrab disebut Kapau? Soalnya kan kalau di Kapau itu kebanyakan yang masak adalah laki-laki. Hehehe.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Sedikit bercerita, konon kebiasaan memasak laki-laki Minang disebabkan karena tradisi Makan Besar (Makan Gadang) bersama teman-temannya. Mereka kebanyakan menghabiskan waktunya di warung kopi hingga larut malam.

Ketika larut malam dan perut terasa lapar, para laki-laki ini tidak memutuskan pulang ke rumah untuk makan, karena itu bisa mengganggu penghuni rumah yang sudah terlelap tidur.  Akhirnya mereka berinisiatif mencari bahan masakan dan memasak bersama-sama.

Btw, kok Bu Mega bahas isu seperti ini ya? Kenapa tidak membahas isu yang lebih besar? Bukankah isu semacam itu akan men-downgrade posisi beliau sebagai ketua umum partai terbesar saat ini, mantan wapres, dan mantan presiden?

Bukan kali ini soalnya publik menyoroti pernyataan Ibu Mega. Pada Maret kemarin, misalnya, Ibu Mega justru membahas soal memasak tanpa minyak goreng. Dengan kaliber Bu Mega, rasanya lebih elok jika membahas persoalan besar bangsa dan memberikan solusi atas itu.

Sebut saja ancaman kekurangan pangan yang disebutkan Presiden Jokowi. Atau soal kondisi ekonomi yang melemah akibat pandemi Covid-19. Banyak yang menanti pernyataan-pernyataan strategis seperti itu lo dari Ibu Mega.

Apalagi, Ibu Mega kan mendapat berbagai gelar doktor kehormatan dari berbagai kampus, baik dalam maupun luar negeri. Terbaru, Ibu Mega bahkan mendapat gelar profesor kehormataran dari Seoul Institute of the Arts (SIA) Korea Selatan pada Mei kemarin. Wuih, sangar betul. (I76)


SBY-JK-Paloh: Triumvirat Tumbangkan Megawati?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...