HomeCelotehKerumunan Jokowi vs Habib Rizieq

Kerumunan Jokowi vs Habib Rizieq

Kecil Besar

“Silahkan aparat penegak hukum saatnya berlaku sama dengan apa yang terjadi pada HRS (Habib Rizieq Shihab), monggo. Rakyat Indonesia menunggu keadilan tersebut”. – Munarman, Pendiri Front Persaudaraan Islam atau FPI baru


PinterPolitik.com

Keadilan. Bahasa Inggrisnya justice. Untuk waktu yang sangat lama, kata yang satu ini emang mengisi diskursus peradaban manusia.

Biasanya keadilan diartikan sebagai kondisi saat seseorang menerima apa yang berhak ia terima yang ukurannya ditentukan oleh berbagai variabel, mulai dari moral, etika, hukum, rasionalitas, agama, dan lain sebagainya.

Hmm, sungguh sebuah definisi yang rumit. Tapi pemahamannya sebenarnya sederhana. Intinya, keadilan berarti menerima yang seharusnya diterima.

Baca Juga: Duet Sandiaga-RK Menuju 2024?

Ada banyak pemikir yang mendeskripsikan keadilan itu dari berbagai macam sudut pandang, mulai dari Socrates dan Plato di era Yunani kuno, hingga John Locke dan yang lainnya.

Nah, konteks keadilan itulah yang kini tengah disorot, terutama terkait peristiwa yang menimpa Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke NTT beberapa hari lalu. Pasalnya, dalam kunjungan tersebut, Jokowi disambut oleh warga yang antusias menjumpai presiden mereka.

Sebagai catatan, orang-orang di NTT dan beberapa wilayah Indonesia Timur lainnya, sangat menyukai Jokowi. Apalagi, Jokowi mungkin menjadi satu dari sedikit presiden Indonesia yang rutin berkunjung ke daerah-daerah di timur.

Namun, konteks kerumunan warga yang berjubel juga lah yang menjadi kritik tersendiri untuk Jokowi. Pasalnya banyak yang menilai bahwa momen tersebut melanggar aturan dalam protokol kesehatan Covid-19.

Istana sendiri menyebutkan bahwa kerumunan tersebut merupakan aksi spontanitas masyarakat dan tidak pernah direncanakan. Masyarakat tahu presiden datang, jadi secara spontan menyambut sang kepala negara.

Beberapa pihak lain juga membandingkan dengan kasus yang menimpa pentolan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang saat ini menjadi tersangka salah satunya akibat kerumunan massa yang timbul pasca kepulangannya ke Indonesia.

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?

Banyak yang juga menilai bahwa aksi massa pendukung Rizieq tersebut – sama seperti mereka yang menyambut Jokowi – adalah aksi spontanitas. Sehingga, sudah selayaknya Rizieq tidak dihukum karena pelanggaran tersebut.

Hmmm, iya sih. Kalau mau berpikir lurus, maka memang tidak ada keadilan di sana.

Tapi udahlah ya, kalau diteruskan nanti bisa bahaya. Yang jelas, mungkin pemerintah beneran perlu meluruskan di mana letak perbedaan dua peristiwa ini. Biar Socrates, Plato, John Locke dan kawan-kawan nggak susah tidur mikirin konsep keadilan seperti apa yang cocok di Indonesia. Uppps. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

Mencari Jejak Cak Imin

“Where'd you go? I miss you so. Seems like it's been forever that you've been gone” – Skylar Grey, penyanyi asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Sebagian besar...

Ma’ruf Amin yang Dirindukan

“I miss you, I miss you” – blink-182, grup band pop-punk asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Tahun 2020 baru saja dimulai dengan memasuki awal bulan Januari. Namun,...

Prabowo vs Ma’ruf ‘Panaskan’ Tangsel

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih” – Jenderal Soedirman, Jenderal Revolusi Indonesia PinterPolitik.com Adakah di sini yang nge-fans sama Cristiano Ronaldo...

More Stories

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk — tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...