HomeCelotehAtta-Aurel: Solusi untuk Indonesia?

Atta-Aurel: Solusi untuk Indonesia?

Kecil Besar

Pernikahan megah antara dua selebriti – Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah – turut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan politisi, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto yang berperan sebagai saksi nikah. Apakah Atta-Aurel ini patut untuk jadi solusi atas berbagai persoalan yang membayangi Indonesia?


PinterPolitik.com

Bagi banyak orang, pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang menyatukan dua belahan jiwa. Biasanya, rasa cinta yang terbangun antara dua belahan jiwa lah yang menjadi dasar utama dalam ikatan suci ini.

Itulah mengapa ikatan pernikahan menjadi sebuah langkah yang harus dipertimbangkan secara matang oleh kedua belah pihak. Tidak jarang, keluarga dari dua calon pengantin harus menyusun berbagai kegiatan yang menandai bersatunya dua jiwa yang saling jatuh cinta.

Langkah dan kegiatan ini juga berlaku bagi pasangan dua selebriti Indonesia yang baru saja menikah beberapa waktu lalu, yakni Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Persatuan dua selebriti dalam satu ikatan cinta ini tentunya menarik perhatian banyak warga Indonesia, tak terkecuali Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto.

Uniknya, Pak Jokowi dan Pak Prabowo ini hadir bukan hanya sebagai tamu undangan biasa, melainkan juga mengambil peran sebagai saksi nikah. Mereka lah yang menentukan sah atau tidaknya akad nikah yang diucapkan oleh Atta untuk menikahi Aurel.

Tapi nih, di tengah momen berbahagia ini, publik dan warganet pun tidak tinggal diam. Lhagimana? Kehadiran pejabat publik sekaliber Jokowi dan Prabowo ini pasti menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat.

Soalnya nih, di tengah pandemi Covid-19, banyak lho warga yang harus menahan diri untuk mengadakan hajatan pernikahan. Bahkan, ada lho beberapa video viral yang menunjukkan aparat berwajib memarahi pemilik hajatan pernikahan karena tetap nekat meski Covid-19 membayangi.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Baca Juga: Jepang, “Pelindung” Baru Prabowo?

Pernikahan Atta Aurel Serasa HUT RI

Hmmgimana nih? Kalau warga biasa, hajatan nggak boleh. Lha, kalau si Atta dan si Aurel yang hajatan, malah pejabat setingkat presiden yang hadir. Weleh weleh.

Untung juga sih keluarganya Atta dan Aurel bukan oposisi politik. Kalau iya, bisa-bisa besoknya dapat surat panggilan jangan-jangan. Coba aja tanya sama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Habib Rizieq Shihab (HRS). HRS kan sempat juga tuh ngadain hajatan di tengah pandemi.

Saking spesialnya nih acara pernikahan Atta dan Aurel, akun resmi Sekretariat Negara (Setneg) ikut-ikutan membuat publikasi lho. Sampai-sampai, mereka juga bikin satu kicauan khusus untuk Atta dan Aurel.

Ya, semua ini mungkin bisa diambil hikmahnya juga. Toh, dengan pernikahan ini, Pak Jokowi dan Pak Prabowo bisa bertemu kembali di mata publik. Mungkin, simbol ini perlu nih ditunjukkan agar mengurangi polarisasi politik. Hmm, coba pernikahannya dilaksanakan pada tahun 2019 silam ya. Hehe.

Uniknya lagi nih, Pak Prabowo datang ke pernikahan ini langsung dari kunjungannya ke Rusia lho – hanya demi menjadi saksi nikah untuk Atta dan Aurel. Wah, barang kali, Atta dan Aurel ini bisa memberikan pesawat jet tempur ala Sukhoi nih untuk Pak Menhan. Hehe.

Wah, kalau benar begitu, Atta dan Aurel ini pantas nih jadi solusi atas berbagai persoalan yang menghantui Indonesia, mulai dari polarisasi politik hingga penguatan sistem pertahanan. Hmm, kalau gitu, Mas Atta dan Mbak Aurel bisa nih menggantikan Pak Jokowi dan Pak Prabowo di tahun 2024? Gimana nih, Bapak-bapak? Hehe. (A43)

Baca Juga: Suez: Saatnya Jokowi Ingat Sriwijaya?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

Mencari Jejak Cak Imin

“Where'd you go? I miss you so. Seems like it's been forever that you've been gone” – Skylar Grey, penyanyi asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Sebagian besar...

Ma’ruf Amin yang Dirindukan

“I miss you, I miss you” – blink-182, grup band pop-punk asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Tahun 2020 baru saja dimulai dengan memasuki awal bulan Januari. Namun,...

Prabowo vs Ma’ruf ‘Panaskan’ Tangsel

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih” – Jenderal Soedirman, Jenderal Revolusi Indonesia PinterPolitik.com Adakah di sini yang nge-fans sama Cristiano Ronaldo...

More Stories

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?