Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai
PKS dan NasDem tampak tengah berada di titik genting pascapilpres 2024 dan tahun pertama pemerintahan baru. Tanpa kursi di kabinet, keduanya menghadapi krisis berbeda: NasDem diguncang turbulensi internal, PKS terjebak stagnasi. Lalu, apakah ini gejala bencana bagi kedua parpol tersebut?
Dalam langkah yang mencengangkan, Presiden Prabowo Subianto membatalkan kehadirannya di KTT G-20 Afrika Selatan—forum pemimpin dunia yang prestigius—demi konsolidasi basis politik domestik, meski dengan bahasa soal “adanya agenda lain”.
Head-to-head NU dan Muhammadiyah bukan sekadar soal siapa lebih besar, tetapi perbedaan dua ontologi: tradisi pesantren vs modernitas teknokratis. Di tengah dinamika politik, filantropi, dan reputasi global, keduanya seakan memiliki kontras relevansi abad ke-21 dengan kekuatan dan tantangannya masing-masing.
Industri kreatif bisa jadi tulang punggung penting ekonomi Indonesia di masa depan. Apakah kalian setuju?
#tabolabale #ekraf #astacita #pinterpolitik #infografis #kemenekraf