Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai
Kisruh di ambang dualisme PBNU membuka babak baru perebutan pengaruh di antara elite NU dan menggambarkan pergeseran patronase dari bayang lama ke orbit kekuasaan baru. Tensi ini seakan menandai realignment besar hubungan sosial keagamaan, politik, dan kepentingan ekonomi di Indonesia. Mengapa demikian?
Fenomena fake review kini banyak terjadi di jual-beli daring (online). Siapakah yang dirugikan? Konsumen, reviewer, atau pelaku usahakah yang terkena dampaknya?
PinterPolitik.com
Sejak berlangsungnya proliferasi internet...
Pembelaan Zulkifli Hasan soal pelepasan 1,6 juta hektar kawasan hutan membuka tabir kelam relasi kuasa antara birokrat dan oligarki. Apakah ini sekadar blame game,...
Di tengah bencana, kehadiran politisi seperti Verrel Bramasta dan perhatian kritis dari Anies Baswedan memicu sebuah perdebatan: kepedulian tulus atau sekadar pencitraan? Dalam dimensi politik, tragedi kerap berubah menjadi panggung visual, dan memantik diskursus mengenai kapan pencitraan dapat dibenarkan—atau justru mereduksi penderitaan menjadi sekadar konten politik?