HomeTrending

Trending

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Obat Bius Termurah

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Nurdin-Heru Nggak Suka Korupsi

Nurdin Abdullah dan Heru Pambudi mendapat penghargaan sebagai inspirator bagi pemberantasan korupsi di Indonesia. Penghargaan ini diperoleh dari Perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA)....

Menjemput Nasib Akhir Dedi Mulyadi

“Nggak semua cerita punya akhir yang bahagia. Begitu pula hidup. Bahkan, sering kali hidup punya kejutan tersendiri.” PinterPolitik.com Kang Dedi punya kepahitan yang sungguh memilukan. Memegang...

PPP (Masih) Rebutan Kantor

Saat partai lain sibuk mempersiapkan Pilkada Serentak, partai berlambang Ka’bah ini malah sibuk rebutan kantor. Walah, kapan selesainya ya. PinterPolitik.com “Sejak 2014, kita tidak berkantor di...

Beringin Adem Akibat Kompromi

“Politik adalah lautan pragmatisme, kompromi demi kompromi bisa melelehkan idealisme.” PinterPolitik.com Jika Anda memilih untuk disukai, Anda akan siap berkompromi kapanpun dan Anda tidak akan mencapai...

Fahri, Warisan untuk Anak Tiri

“Tak dianggap, tapi harus diakui. PKS memaksakan kehendak membuang Fahri tapi putusan pengadilan berkata lain.” PinterPolitik.com Fahri Hamzah seolah tak dianggap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai...

More Stories

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Obat Bius Termurah