HomeTrending

Trending

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Kiai dan Problematika Jakarta-sentrisme

Ketegangan nilai tradisional pesantren vs modernitas urban makin terasa. Apakah soal ketidaklayakan atau soal Jakarta-sentrisme di Indonesia?

Triumvirate plus Fantastic Four

Arsitektur politik kenegaraan imajiner kiranya tak berlebihan untuk dikemukakan dalam narasi Triumvirate plus Fantastic Four. Sebuah laboratorium kekuasaan modern yang menyatukan militer, sipil, hukum, dan ekonomi dalam harmoni strategis, antara virtue politik dan rasionalitas teknokratik, di bawah orkestra sang arsitek kekuasaan.

Developmentalisme Pinggir Jurang Jokowi

Pembangunan infrastruktur jor-joran di era Jokowi menghasilkan paradoks yang sulit dijelaskan: jalan tol membentang di mana-mana, bandara-bandara baru bermunculan di berbagai pelosok, proyek Ibu Kota Nusantara dicanangkan dengan megah, namun pertumbuhan ekonomi justru tertatih di angka 5 persen.

Prabowo and the STEM Awakening

Perdebatan saintek vs soshum kembali memanas di media sosial. Tapi, bagaimana arah kebijakan Prabowo membaca pertarungan dua dunia ini?

Rahasia Salami Slicing Erick?

Pergeseran Erick Thohir dari Menteri BUMN ke Menpora dan dinamika yang terjadi setelahnya tampak bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan strategi halus salami slicing. Di balik langkah lembut itu, berlangsung transformasi senyap, yakni dari kekuatan figur menuju tata kelola institusional negara.

More Stories

The One-Man Band

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?