HomeCelotehRUU KPK, Jokowi Membalas Jebakan?

RUU KPK, Jokowi Membalas Jebakan?

Kecil Besar

“Ini preseden buruk dalam ketatanegaraan Indonesia, di mana DPR dan pemerintah berkonspirasi diam-diam”. – Laode M. Syarif, Wakil Ketua KPK


PinterPolitik.com

Bicara soal perangkap atau jebakan memang tak lepas dari sejarah peradaban manusia. Sejak tahun 5500 SM, manusia diperkirakan telah menggunakan perangkap untuk menangkap hewan buruan. Orang-orang dari peradaban Cucuteni-Trypillia di Romania adalah salah satu yang paling awal menggunakan teknik jebakan untuk menangkap hewan-hewan buruan.

Tapi gimana ya kalau jerat-menjerat atau jebak-menjebak itu tejadi di dunia politik?

Hmm, mungkin hal itulah yang bisa dilihat dalam kasus RUU KPK. Munculnya wacana pembahasan untuk merevisi UU yang sudah berusia 17 tahun ini emang tengah jadi bola panas. Cristiano Ronaldo aja nggak akan mungkin bisa nyetak gol kalau bolanya panas euy. Uppss. Hehehe.

RUU KPK ini adalah inisiatif DPR. Isinya disebut-sebut berpotensi melemahkan lembaga anti-rasuah tersebut. Misalnya, pasal tentang penyadapan yang harus berizin terlebih dahulu, keberadaan dewan pengawas KPK, hingga soal pegawai yang harus berasal dari kepolisian dan kejaksaan saja.

Nah, presiden Jokowi disebut-sebut sudah menyetujui usulan RUU tersebut dibahas di DPR. Hal inilah yang membuat beberapa pihak menyebutkan bahwa DPR dan pemerintah sedang saling jebak terkait RUU KPK ini.

Buat yang belum tahu, RUU ini diusulkan oleh partai-partai yang justru ada di koalisi Jokowi loh, macam PDIP, Golkar dan Nasdem. Makanya, ada yang bilang bahwa RUU ini adalah bagian dari upaya untuk saling menaikkan posisi politik, terutama di tengah pembahasan kursi menteri untuk kabinet Jokowi nanti.

Beh, makanya, nggak heran, setelah kabar Jokowi menyetujui pembahasan RUU KPK tersebut, banyak komentar negatif yang muncul, umumnya mempertanyakan kembali niat Jokowi menciptakan pemerintahan yang bersih.

Gimana ya, Jokowi itu kan ibaratnya bintang iklan detergen A yang jargonnya “serang sampai habis”. Kalau harus ganti ke detergen D yang jargonnya “yang penting wangi, bersih mah belakangan”, kan konsumen jadi bingung.

Makanya Jokowi langsung deh gelar konferensi pers untuk meluruskan, bahwa dirinya “tidak terjebak rayuan buta” – eh terjebak DPR maksudnya. Hehehe.

Kata Jokowi, ada poin-poin di RUU KPK tersebut yang tidak disetujuinya. Misalnya terkait penyadapan, Jokowi tak setuju kalau KPK harus izin ke pengadilan. Begitu juga dengan beberapa poin lain yang dianggap bisa melemahkan KPK.

Bahkan, Pak Jokowi juga bilang bahwa anggota Dewan Pengawas KPK nantinya tidak boleh dari politisi. Anggotanya harus dari masyarakat dan aktivis anti korupsi yang dipilih oleh presiden lewat panitia seleksi.

Wah, ini mah Pak Jokowi lagi balas menjebak DPR nih. Ibaratnya kayak kata-katanya Anggun C. Sasmi: “Aku, jadi duta shampoo lain? Hah?” Hehehe.

 Jebak-menjebak emang nggak bisa dipisahkan dari sejarah manusia ya. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.