HomeTerkiniReaksi Meksiko Soal Tembok Perbatasan

Reaksi Meksiko Soal Tembok Perbatasan

Kecil Besar

Pemimpin oposisi Meksiko menyerukan Nieto untuk membatalkan pertemuan dengan Trump yang dijadwalkan di Washington, DC, pekan depan. Namun, Nieto belum merespons, apakah akan membatalkan atau tetap ke Washington DC.


pinterpolitik.comJumat, 27 Januari 2017.

JAKARTA – Suhu hubungan antara Meksiko dan Amerika Serikat memanas, dewasa ini. Duduk soal terkait perintah eksekutif Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pembangunan tembok perbatasan kedua negara untuk mencegah masuk imigran gelap. Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto, Rabu (25/1/2017), mengecam keputusan Presiden AS itu.

Pembangunan tembok, yang digagas sepanjang 3.218 kilometer di sepanjang perbatasan Meksiko-AS, adalah salah satu perintah eksekutif Donald Trump tak lama setelah dilantik sebagai presiden ke-45 AS pada 20 Januari 2017. Perintah ini membuat pihak Meksiko “kegerahan” dan kemudian bersuara keras.

Pemimpin oposisi Meksiko menyerukan Nieto untuk membatalkan pertemuan dengan Trump yang dijadwalkan di Washington, DC, pekan depan. Namun, Nieto belum merespons, apakah akan membatalkan atau tetap ke Washington DC.

“Jika kunjungan kenegaraan diumumkan, Presiden Nieto akan disambut pintu yang dibanting di depan wajahnya,” kata Cuauhtemoc Cardenas, mantan kandidat presiden Meksiko.

Berita terbaru, Jumat ini, menyebutkan, rencana pertemuan tersebut secara resmi sudah dibatalkan.

Selain itu, Presiden Nieto kembali menegaskan Meksiko tidak akan membiayai pembangunan tembok perbatasan, sebagaimana diminta oleh Donald Trump.

Sebelumnya, Trump dan Pena Nieto diagendakan mengadakan pertemuan di Washington, akhir bulan ini. Saat itulah sejumlah isu, seperti, perdagangan, imigrasi, dan keamanan akan dibahas.

Perintah eksekutif AS itu muncul di tengah pembicaraan tentang aturan kerja sama baru dalam sektor perdagangan, investasi, keamanan, dan imigrasi di kawasan Amerika Utara. Sebagai presiden, Nieto mengatakan, memikul tanggung jawab untuk membela kepentingan Meksiko dan rakyat Meksiko.

Baca juga :  Hormuz, dan Pena yang Berpindah Tangan

Janji Utama Kampanye

Dalam wawancara dengan ABC News, baru-baru ini, Trump mengatakan, Meksiko akan mengganti 100 persen biaya pembangunan tembok. Sementara itu, Kongres, yang didominasi Partai Republik, dikabarkan akan menyetujui dana untuk pembangunan tembok, yang diperkirakan menghabiskan miliaran dolar.

Membangun tembok di sepanjang perbatasan Meksiko-AS merupakan salah satu janji utama Trump dalam kampanye pemilihan presiden, beberapa waktu lalu. Ia menyebutkan pembangunan tembok itu untuk mencegah pelaku kriminal memasuki wilayah AS.

Tatkala menandatangani perintah eksekutif itu di Kementerian Keamanan Dalam Negeri, beberapa hari lalu, Donald Trump menyinggung soal krisis di perbatasan AS di bagian selatan. Maka, dalam perintah eksekutif ini sekitar 10.000 petugas imigrasi juga diminta membantu meningkatkan patroli perbatasan.

“Bangsa tanpa batas bukanlah sebuah bangsa. Sejak hari ini AS akan mengendalikan kembali perbatasannya,” ujar Trump.

Menengok peristiwa sebelumnya, pada kampanye di Kota Phoenix, Negara Bagian Arizona, seusai bertemu Presiden Meksiko Pena Nieto, Donald Trump bersikeras bahwa Meksiko akan 100 persen mendanai pembangunan tembok perbatasan. Belakangan, Nieto menegaskan dia secara gamblang sudah mengatakan kepada Trump bahwa Meksiko tidak akan mendanai proyek tersebut.

Selain membangun tembok perbatasan, Trump berjanji akan mengamankan perbatasan dan membuka kemungkinan pendeportasian jutaan imigran ilegal. Ia mengatakan, siapa pun yang masuk Amerika Serikat secara ilegal dapat dideportasi. Itulah manfaatnya memiliki undang-undang.

Ketika memenuhi undangan bertemu dengan Presiden Meksiko Pena Nieto, pada Rabu (31/8/2016), kandidat presiden, Donald Trump, menegaskan, Amerika Serikat memiliki hak untuk membangun tembok di wilayah perbatasan demi menghalau imigran ilegal dari negara Amerika Latin itu.

Dalam pertemuan di rumah Nieto di Los Pinos, keduanya membahas soal tembok dimaksud, yang menjadi janji utama Trump dalam berbagai kampanyenya. Meski begitu, Trump mengaku tidak membicarakan bahwa Meksiko harus membiayai pembangunan tembok.

Baca juga :  Hormuz, dan Pena yang Berpindah Tangan

Seusai pertemuan, Presiden Meksiko mengatakan, dia telah menegaskan kepada Trump soal jutaan orang Meksiko di Amerika Serikat yang pantas dihormati. Jika dibandingkan dengan pernyataan Trump yang keras terhadap Meksiko, pernyataan Pena Nieto tersebut dinilai bagaikan teguran ringan terhadap Trump.

Trump sudah mengeluarkan perintah dan belum muncul tanda-tanda apakah dia akan mempertimbangkan reaksi dari pihak Meksiko. Pada sudut lain, Kongres telah memberikan dukungan dalam bentuk persetujuan dana untuk pembangunan tembok dimaksud. Apalagi, rencana pertemuan resmi kedua pemimpin, yang diharapkan dapat “mendinginkan” keadaan, sudah dibatalkan. Maka proyek tembok pada saatnya akan dikerjakan.

Beberapa waktu lalu, seusai menemui Ketua House of Representative, Paul Ryan, di Washington, DC, Trump menyebutkan isu keamanan perbatasan sebagai salah satu dari tiga prioritas utamanya. Dua prioritas lainnya adalah layanan kesehatan dan lapangan pekerjaan. Nah, kalau menjadi prioritas tentu semua aspek yang berkaitan dengan implementasi sudah diperhitungkan. (Dari berbagai sumber/E19)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Infrastruktur Ala Jokowi

Presiden juga menjelaskan mengenai pembangunan tol. Mengapa dibangun?. Supaya nanti logistic cost, transportation cost bisa turun, karena lalu lintas sudah  bebas hambatan. Pada akhirnya,...

Banjir, Bencana Laten Ibukota

Menurut pengamat tata ruang, Yayat Supriatna, banjir di Jakarta disebabkan  semakin berkurangnya wilayah resapan air. Banyak bangunan yang menutup tempat resapan air, sehingga memaksa...

E-KTP, Dampaknya pada Politik

Wiranto mengatakan, kegaduhan pasti ada, hanya skalanya jangan sampai berlebihan, sehingga mengganggu aktivitas kita sebagai bangsa. Jangan juga mengganggu mekanisme kerja yang  sudah terjalin...