HomeFokus BUMNPT Taspen Bakal Naikkan Iuran Dana Pensiun ASN

PT Taspen Bakal Naikkan Iuran Dana Pensiun ASN

Kecil Besar

PT Taspen (Persero) bakal menaikan iuran dana pensiun Aparatur Sipil Negara (ASN). Kenaikan iuran tersebut merupakan bagian dari reformasi pensiun yang dicanangkan pemerintah.


PinterPolitik.com

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PT Taspen (Persero), Antonius NS Kosasi di Jakarta, Rabu (19/2).

Menurutnya dengan reformasi pensiun ini,  para pensiunan ASN nantinya akan menerima manfaat yang lebih tinggi.  “Jumlah uangnya naik tapi jumlah pesertanya tetap kan berarti manfaatnya lebih besar lagi,” kata Antonius.

Antonius menjelaskan  bahwa manfaat dana penisun yang diterima ASN bisa saja mencapai Rp 1 miliar seperti yang diharapkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Tjahjo Kumolo.

Adapun  besaran manfaat yang diterima nantinya ditetapkan berdasarkan jumlah iuran, lama masa kerja, prestasi yang di dapat hingga pangkat terakhir.

“Secara teori bisa, sekarang saja yang terima manfaat sampai ratusan juta ada. Jadi ada kemungkinan sampai miliaran kalau iurannya bertambah,” tandas Antonius.

Antonius menambahkan, kenaikan iuran dana pensiun ini tidak akan dihitung berdasarkan gaji pokok saja. Iuran dana pensiun ke depannya akan dihitung berdasarkan total gaji ditambah dengan tunjangan kerja, sehingga nilai iuran akan lebih besar.

“Banyak komponen ASN yang gaji pokoknya kecil mengikuti UMR (Upah Minimun Regional) tapi THP (take home pay) besar,” terang Antonius.

Antonius mengungkapkan, skema kenaikan iuran dana pensiun saat ini sedang diolah pemerintah. Menurutnya, skema kenaikan ini harusnya bisa terealisasi pada tahun ini atau tahun depan.

“Tapi itu keputusannya di Kementerian Keuangan, termasuk soal besaran kenaikan iuran itu kewenangannya ada di pemerintah, kami hanya mitra,” pungkasnya. (R58)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Erick Thohir Pastikan 4,7 Juta Masker Telah Didistribusikan

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan 4,7 juta masker yang diproduksi oleh perusahaan pelat merah, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) telah...

BUMN akan Bangun RS Darurat Corona di Daerah

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memerintahkan jajarannya untuk membangun Rumah Sakit Darurat Corona di sejumlah daerah di Indonesia. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan...

BUMN Back Up Sepenuhnya RS Darurat Covid-19

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN),  Erick Thohir  menjamin RS Darurat Penangan Covid-19 siap beroperasi  pada Senin (23/3). BUMN sepenuhnya siap back up kebutuhan...